Ini Panduan Shalat Hari Raya Idul Adha

gomuslim.co.id- Setelah menjalani rangkaian ibadah puasa sunnah Tarwiyah dan Arafah, dan melaksanakan takbiran pada malam harinya, umat muslim di seluruh dunia akan merayakan hari raya Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah 1438 H atau bertepatan dengan tanggal 1 September 2017 dalam kalender masehi.
 
Usai melaksanakan sholat ied (Idul Adha), umat muslim berbondong-bondong untuk menyembelih hewan kurban dari jamaah, seperti kambing dan sapi. Berikut adalah Panduan Shalat Idul Adha: 
 
Sholat Idul Adha

Sholat Idul Adha jatuh pada tanggal 1 September 2017 sesuai dengan anjuran dari pemerintah Indonesia, pemerintah Arab Saudi, Muhammadiyah dan NU beserta ormas yang lainnya. tata cara sholat id sebenarnya hampir sama dengan sholat ied ketika Idul Fitri, namun perbedaannya terdapat di niat. Bagaimana bacaan niat sholat Idul Adha yang benar? 
 
Lafadz Niat Sholat Ied 'Idul Adha'
 
Niat shalat Idul Adha sebagai imam:
 
Bahasa Indonesia : Ushalli sunnatan li’idil adha rok'ataini imaman lillahi ta'ala
Artinya: Niat shalat sunnah Idul Adha dua rakaat sebagai imam karena Allah.
 
Niat Shalat Idul Adha sebagai makmum
 
Bahasa Indonesia : Ushalli sunnatan li’idil adha rok'ataini makmuman lillahi ta'ala

Artinya: Niat shalat sunnah Idul Adha dua rakaat sebagai makmum karena Allah
 
Sholat Id di Lapangan
 
Tata Cara Shalat Idul Adha
 
Shalat sunnah Idul Adha maupun Idul Fitri terdiri dari 2 (dua) rokaat. Rokaat pertama diawali dengan takbirotul ihrom ditambah 7 (tujuh) kali takbir. Sedangkan rakaat kedua sebanyak 5 (lima) kali takbir. Setiap takbir saat shalat Idul Adha baik rakaat pertama atau kedua disunnahkan membaca tasbih yaitu: 
 
Bahasa Indonesia: Subhanallah walhamdulillah walailaha illallah wallahu akbar

Artinya: Mahasuci Allah dan segala puji bagi Allah dan tiada Tuhan selain Allah dan Allah Mahabesar
 
Bagi yang masih kurang jelas atau bingung, bagaimana tata cara melaksanakan sholat Idul Adha, silahkan lihat lebih detailnya dibawah ini:
Bacaan Rakaat pertama: ( Setelah niat )
(a) Baca takbirotul ihram (takbir permulaan shalat) dengan niat shalat idul adha.
(b) Membaca doa iftitah
(c) Membaca takbir 7 (tujuh) kali (selain takbirotul ihram) dilanjutkan membaca tasbih.
(d) Membaca Al-Fatihah
(d) Membaca surat Al-Quran
Bacaan Rakaat kedua:
(a) Membaca takbir 5 (lima) kali.
(b) Membaca Al-Fatihah
(c) Membaca surat Al-Quran.
 
 
Setelah sujud rakaat kedua, diikuti dengan tahiyat (tasyahud) akhir dan diakhiri dengan salam. Usai salam bilal melakukan tugasnya sebelum khatib menyampaikan khutbah. Dalam khutbah sholat id ini biasanya akan dijelaskan tentang pengertian idul adha, makna idul adha, hikmah idul adha dan sejarah idul adha yang berawal dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang sabar dan tabah menerima ujian dari Allah SWT.
 
Hukum Shalat ‘Ied
 
Menurut pendapat yang lebih kuat, hukum shalat ‘ied adalah wajib bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan yang dalam keadaan mukim[1]. Dalil dari hal ini adalah hadits dari Ummu ‘Athiyah, beliau berkata,
 
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kami pada saat shalat ‘ied (Idul Fithri ataupun Idul Adha) agar mengeluarkan para gadis (yang baru beanjak dewasa) dan wanita yang dipingit, begitu pula wanita yang sedang haidh. Namun beliau memerintahkan pada wanita yang sedang haidh untuk menjauhi tempat shalat.”
 
Di antara alasan wajibnya shalat ‘ied dikemukakan oleh Shidiq Hasan Khon (murid Asy Syaukani).
 
Pertama: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus melakukannya.
 
Kedua: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah kaum muslimin untuk keluar rumah untuk menunaikan shalat ‘ied. Perintah untuk keluar rumah menunjukkan perintah untuk melaksanakan shalat ‘ied itu sendiri bagi orang yang tidak punya udzur. Di sini dikatakan wajib karena keluar rumah merupakan wasilah (jalan) menuju shalat. Jika wasilahnya saja diwajibkan, maka tujuannya (yaitu shalat) otomatis juga wajib.
 
Ketiga: Ada perintah dalam Al Qur’an yang menunjukkan wajibnya shalat ‘ied yaitu firman Allah Ta’ala,
 
“Dirikanlah shalat dan berqurbanlah (an nahr).” (QS. Al Kautsar: 2). Maksud ayat ini adalah perintah untuk melaksanakan shalat ‘ied.
Keempat: Shalat jum’at menjadi gugur bagi orang yang telah melaksanakan shalat ‘ied jika kedua shalat tersebut bertemu pada hari ‘ied. Padahal sesuatu yang wajib hanya boleh digugurkan dengan yang wajib pula. Jika shalat jum’at itu wajib, demikian halnya dengan shalat ‘ied. 
 
Sunnah-sunnah sholat idul adha
 
Ada sejumlah hal yang dianjurkan untuk dilaksanakan baik sebelum maupun sesudah sholat idul adha.
 
1. Mandi sebelum berangkat sholat
 
Rasulullah biasa mandi sebelum berangkat sholat ‘id. Itu pula yang dicontoh oleh para sahabat.
 
2. Memakai pakaian terbaik dan berhias sehingga rapi dan indah
 
Rasulullah mengenakan pakaian terbaik ketika sholat ‘id baiku idul fitri maupun idul adha.
 
3. Menggunakan wewangian
 
Dianjurkan menggunakan wewangian, khususnya bagi pria. Adapun bagi kaum muslimah, sebaiknya tidak menggunakan parfum karena ada hadits yang melarangnya.
 
4. Mengajak seluruh anggota keluarga termasuk anak-anak untuk ikut sholat
 
Sebagaimana hadits di atas, Rasulullah memerintahkan seluruh wanita untuk menghadiri sholat id dan riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu ketika masih kecil turut sholat id.
 
5. Bertakbir saat menuju tempat sholat
 
Di antara lafazh takbir, boleh dua kali takbir, boleh pula tiga kali takbir.
 
(Allohu akbar, Allohu akbar, laa ilaaha illalloh wallohu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd)
 
Artinya: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada ilah kecuali Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala pujian hanya untuk-Nya
 
 
(Allohu akbar, Allohu akbar, Allohu akbar, laa ilaaha illalloh wallohu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd)
 
Artinya: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada ilah kecuali Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala pujian hanya untuk-Nya
 
6. Dianjurkan berjalan kaki
 
Dianjurkan berjalan kaki baik saat pergi maupun pulang. Tidak naik kendaraan kecuali ada hajat, misalnya sangat jauh. Sebagaimana hadits dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu
 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘id dengan berjalan kaki, begitu pula ketika pulang (HR. Ibnu Majah)
 
7. Melewati jalan yang berbeda saat pergi dan pulang
 
Sebagaimana hadits dari Jabir radhiyallahu ‘anhu
 
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat ‘id, beliau lewat jalan yang berbeda saat berangkat dan pulang (HR. Bukhari)
 
 
Sumber: 
-Buku Fiqh Ibadah
-Rumasyo
-NU Online

Back to Top