Sambut 'Super Blue Blood Moon' 2018, Ini Panduan Shalat Gerhana Bulan

gomuslim.co.id- Pada hari ini, Rabu (31/01/2018), seluruh wilayah Indonesia akan terjadi Gerhana Bulan total. Gerhana bulan total akan berlangsung pada pukul 19.52 hingga 21.08 WIB dan proses gerhana berakhir pukul 22.11 WIB.

Dalam Islam, jika seseorang muslim menyaksikan gerhana, maka dia dianjurkan untuk melaksanakan salat gerhana. Shalat gerhana sendiri merupakan shalat sunnah muakkadah sebagaimana kesepakatan para ulama berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW.

Berikut gomuslim merangkum tentang panduan dan tata cara shalat gerhana:

Dari Mughirah bin Sya’bah, ia berkata “Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah SAW (yaitu) pada hari wafatnya Ibrahim (putra nabi). Kemudian orang-orang berkata, ‘Terjadinya gerhana matahari itu karena wafatnya Ibrahim’. Lalu Rasulullah SAW bersabda ‘Sesungguhnya Matahari dan Bulan itu tidak gerhana karena wafatnya sesorang dan tidak karena hidupnya seseorang. Apabila kalian melihat (kejadian gerhana), maka shalatlah dan berdoalah kepada Allah. (Shahih Bukhari, I:228 no. 1043).

Nabi Muhammad SAW mengajarkan kepada kita tuntutan syariat yang mulia. Ketika terjadi Gerhana Matahari maupun Gerhana Bulan, antara lain:

  1. Menghadirkan rasa takut kepada Allah saat terjadinya gerhana matahari dan bulan, karena peristiwa tersebut mengingatkan kita akan tanda-tanda kejadian hari kiamat, atau karena takut azab Allah diturunkan akibat dosa-dosa yang dilakukan.
  2. Mengingat apa yang pernah disaksikan Nabi Muhammad SAW dalam shalat Kusuf. Diriwayatkan bahwa dalam shalat Kusuf, Rasulullah SAW diperlihatkan oleh Allah syurga dan neraka, bahkan beliau ingin mengambil setangkai dahan dari syurga untuk diperlihatkan kepada mereka. Beliau juga diperlihatkan berbagai bentuk azab yang ditimpakan kepada ahli neraka. Karena itu, dalam salah satu khutbahnya, selesai shalat gerhana, beliau bersabda, “Wahai umat Muhammad, Demi Allah, jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui, maka kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR Muttafaq alaih)
  3. Menyeru dengan panggilan “Asshalaatu Jaamiah”. Maksudnya adalah panggilan untuk melakukan shalat secara berjamaah. Aisyah meriwayatkan bahwa saat terjadi gerhana, Rasulullah SAW memerintahkan untuk menyerukan “Asshalaatu Jaamiah” (HR Abu Daud dan Nasa’i). Tidak ada adzan dan iqomah dalam pelaksanaan Shalat Gerhana. Karena adzan dan iqomah hanya berlaku pada shalat fardhu yang lima.
  4. Disunnahkan mengeraskan bacaan surat, baik shalat yang dilakukan pada siang atau malam hari. Hal ini dilakukan Rasulullah SAW dalam shalat gerhana (HR Muttafaq alaih).
  5. Shalat Gerhana sunnah dilakukan di Masjid secara berjamaah. Rasulullah SAW selalu melaksanakannya di masjid sebagaimana disebutkan dalam beberapa riwayat, akan tetapi boleh juga dilakukan seorang diri. (Lihat: Al Mughni, Ibnu Quddamah, 3/323).
  6. Wanita boleh ikut shalat berjamaah di belakang barisan laki-laki. Diriwayatkan bahwa Aisyah dan Asnah ikut bersama Rasulullah SAW. (HR Bukhori).
  7. Disunnahkan memanjangkan bacaan surat. Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW memanjangkan bacaannya. (HR Muttafaq alaih). Namun, hendaknya tetap mempertimbangkan kemampuan dan kondisi jamaah.
  8. Disunnahkan menyampaikan khutbah setelah selesai shalat, berdasarkan perbuatan Nabi Muhammad SAW bahwa beliau setelah selesai shalat naik ke mimbar dan menyampaikan khutbah. (HR Nasa’i). Sejumlah ulama menguatkan bahwa khutbah yang disampaikan hanya sekali saja, tidak dua kali seperti shalat jumat. Sebagian ulama menganggap tidak ada sunnah khutbah setelah shalat, akan tetapi petunjuk hadits lebih mengutakan disunnahkannya khutbah setelah shalat gerhana.
  9. Dianjurkan memperbanyak istighfar, berdzikir dan bedoa. Bertakbir, serta berlindung kepada Allah dari azab neraka dan azab kubur.

Adapun tata cara shalat gerhana adalah sebagai berikut:

  1. Berniat di dalam hati. Adapun jika dilafadzkan: Ushalli sunnatal khusufi rakataini imaman/makmuman lillahi ta’ala. Artinya: “Aku niat shalat gerhana bulan dua rakaat menjadi (imam/makmum) karena Allah Ta’ala”.
  2. Takbiratul Ihram yaitu bertakbir setelah niat sebagaimana shalat biasa;
  3. Membaca doa iftitah dan bertaawudz, kemudian membaca surat al fatihah dilanjutkan membaca ayat atau surat dan jahar (dikeraskan suaranya) sebagaimana terdapat dalam hadits Aisyah: “Nabi SAW menjaharkan (mengeraskan) bacaannya ketika shalat gerhana.” (HR Bukhari no. 1065 dan Muslim no. 901)
  4. Kemudian rukuk sambil memanjangkannya.
  5. Kemudian bangkit dari rukuk (I’tidal).
  6. Setelah I’tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah dan ayat atau surat. Berdiri yang kedua ini singkat daripada yang pertama;
  7. Kemudian rukuk kembali (rukuk kedua) yang panjangnya lebih pendek dari rukuk sebelumnya;
  8. Kemudian bangkit dari rukuk (I’tidal);
  9. Kemudian sujud yang panjangnya sebagaimana rukuk, lalu duduk diantara dua sujud kemudian sujud kembali;
  10. Kemudian bangkit dari sujud lalu mengerjakan rakaat kedua sebagaimana rakaat pertama. Hanya saja bacaan dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari sebelumnya;
  11. Salam;
  12. Setelah itu imam menyampaikan khutbah kepada jamaah yang berisi anjuran meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, tentang memperbanyak amal shaleh, bersedekah, dan meningkatkan kepedulian sosial. (njs/dbs)
Sumber: Panduan Shalat Muslim

 

  


Back to Top