Sayembara Menulis #CintaUntukIbunda

Perayaan Hari Ibu 22 Desember: ‘Dear, Mom’

Dear, Mom.

Hari ini 22 Desember, orang-orang merayakan Hari Ibu.

Mereka bertanya kepadaku, tidakkah aku menuliskan sesuatu untukmu? Cerita singkat, memori masa kecil, atau prosa-prosa harapan --untukmu.

 

Entahlah, Mom. Aku ingin tapi tidak tahu harus menulis apa. Mom tahu segalanya tentangku. Kekonyolanku, sifat cerobohku, makanan kesukaanku, sampai tentang siapa laki-laki yang sedang kusukai diam-diam. Pun bila aku menulis tentangmu di Hari Ibu ini, Mom pasti akan tertawa dan berkata, “Mom sudah tahu apa yang akan kamu tuliskan”. Lalu aku akan merasa gagal memberikan kejutan.

Huft. Mom tahu terlalu banyak hal sampai-sampai aku tidak tahu lagi harus bercerita tentang apa.

Uhm… yah… walaupun sebenarnya, ada satu hal di dunia ini yang belum pernah kuceritakan pada Mom. Bukan aku ingin menyembunyikan sesuatu darimu, hanya saja ini benar-benar rahasia.

Baiklah, baiklah… aku akan menceritakannya, tetapi berjanjilah Mom akan menyimpan semua rahasiaku. Karena hari ini aku akan berbagi sebuah rahasia besar pada Mom. Rahasia yang sangat besar!

Sstt…! Mendekatlah, akan kubisikkan agar tidak ada orang lain yang mencuri dengar. Jangan terkejut ya!

Jadi, sebenarnya, sejak aku masih tinggal di dalam rahimmu, aku sudah bisa merasakan segala sesuatu yang kau rasakan, aku bisa melihat segala sesuatu yang kau lakukan di dunia!

 

Mom pasti berpikir aku sedang bercanda, ya kan?

Tidak, Mom tersayang, aku tidak sedang bercanda. Bayi-bayi lain memang tidak bisa melakukannya. Tetapi aku berbeda, aku puterimu yang istimewa. Aku benar-benar sudah bisa mengerti segala sesuatunya sejak masih tinggal di dalam rahimmu.
Setiap kali Mom mengajakku bicara sambil mengusap perut dan bertanya “Sedang apa di dalam, hey bayi mungil?”, aku selalu tertawa dan menjawab, “Aku sedang mendengarkan suaramu, Mom.”

Lalu saking senangnya aku menggerak-gerakkan kakiku hingga kau bisa merasakannya. Kalau aku melihat makanan lezat di dekatmu, rasanya aku sangat lapar, sampai-sampai aku bergerak-gerak dan memintamu melumatkannya untukku. Tidakkah kau ingat, Mom?

Dari dalam sana, aku melihat Mom mempersiapkan baju-baju lucu untukku. Kaus tangan warna-warni, sepatu mungil, topi, juga mantel hangat. Aku juga melihat semua selimut lembut yang Mom lipat di dalam lemari. Aku suka semua warnanya, Mom memilihkan tepat seperti yang kuinginkan.

Aku bahkan melihat orang-orang mengusap dan memanggil-manggil nama terindah yang Mom persiapkan untukku; aku suka nama itu, sangat indah seperti nama seorang Dewi.

Ya, Mom. Di dalam masa penantianmu menuju hari kelahiranku, aku menyaksikanmu mempersiapkan segalanya! Di tempat yang sama, ada ayah yang membantu Mom.

Membuatkan minuman hangat, membelikan camilan tengah malam, memijitkan kaki, dan terjaga sepanjang malam memastikan Mom dan aku yang masih di dalam rahim dapat beristirahat dengan nyaman. Setiap hari, aku menjadi saksi betapa Mom dan ayah menjelma jadi sepasang manusia paling bahagia di dunia.

Hehehe…

Mom pasti bertanya, bagaimana mungkin hal seperti itu bisa terjadi, kan?
Tentu saja ini karena kebaikhatianmu, Mom. Karena hatimu begitu tulus mencintaiku, maka hatiku tergetar olehnya dan aku pun bisa merasakannya. Karena Mom sangat baik hati, maka kekuatan ajaib muncul dan membuatku menjadi sahabat terdekatmu jauh sebelum mata kita saling bertemu --hingga hari ini.

Ini semacam kekuatan cinta sejati yang mampu menggerakkan semesta alam.

Aku sering berharap, seandainya saja semua anak memiliki kemampuan untuk mengingat sejak dari dalam kandungan, maka boleh jadi, hari ini tidak akan ada anak yang sanggup melukai hati ibunya barang sedikitpun, apalagi dengan sengaja.

Aku tidak mengerti mengapa ada anak yang sengaja mereject telepon dari ibu mereka karena merasa terganggu dihubungi. Aku kesal mendengar ada yang menggerutu tentang uang saku yang dirasa terlalu sedikit. Sungguh tidak dapat kupahami, Mom, mengapa para anak sanggup mengatakan ibu mereka kuno, merepotkan, dan hanya membatas-batasi mereka?

Ah… mengapa para anak jadi begitu berani berbicara buruk tentang ibunya?

Padahal mereka tidak pernah tahu betul apa yang dilakukan ibunya setiap hari, kan Mom? Mereka tidak pernah bertanya bagaimana perasaan ibunya, sedang sehatkah ibu, sakitkah ibu, lelahkah ibu, perihal apa yang sedang ibu pikirkan hingga sulit terlelap namun tetap terjaga paling awal?

Mereka tidak pernah peduli atau sekadar ingin tahu, tentang segala kekhawatiran dan doa-doa di sepanjang sujud malam para ibu. Betapa kasih sayang ibu tumpah ruah, sementara para anak tidak mampu menampung keluasan kasih sayang itu. Para anak, seringkali menyalahkan ibu atas caranya menyayangi mereka.

Yah… itulah sebabnya aku sering menggerutu sendiri dan melakukan aksi protes apabila Mom membela anak-anak seperti mereka dengan pemakluman,

“Namanya kepada anak… semua ibu pasti sayang melebihi apapun. Maskipun anak mereka kadangkala nakal, sulit diatur, atau menyakiti perasaan ibunya, para ibu akan selalu menjadi pemaaf. Semarah apapun seorang ibu, di dalam hatinya yang tersakiti adalah dirinya sendiri karena ia telah ‘terpaksa’ marah pada buah hati tercintanya. Ia mungkin merasa gagal menjadi ibu yang baik… pun kalau kamu melakukan kesalahan, Mom pasti akan lebih dulu mempertanyakan kesalahan apa yang Mom lakukan selama membesarkanmu.”

 

Tuh kan, Mom terlalu baik hati.

Para anak adalah sebagian dari ibunya. Di setiap hari, para ibu menguatkan hati hingga tiba suatu ketika melepaskan anaknya pergi untuk menjalankan kehidupannya sendiri yang tak jarang melupakan kehadiran ibu. Mom, aku tidak ingin menjadi anak yang membuatmu sedih dan merasa dilupakan!

Aku tidak pernah memilih untuk terlahir dari rahimmu, Mom. Tetapi tentang diberi kesempatan menjadi sebagian dari dirimu, rasanya aku tak perlu meminta apa-apa lagi. Sungguh ini sebuah keajaiban!

Betapa aku menjadi sebagian dari dirimu sejak aku belum memiliki jari jemari atau suara yang bisa merapal doa-doa, untuk kusisipkan konsonan dan vokal namamu di sepanjang lantunannya.

Karena bahkan, bila aku diberi kesempatan untuk mengulang semuanya dan mampu memilih ingin terlahir menjadi puteri dari ibu yang mana, aku akan tetap memilihmu. Aku akan membersamaimu hingga suatu ketika, kita akan pulang ke rumah kita di langit sana.

Dalam segala keegoisan kita tentang kehidupan di dunia, ibu tetap akan menjadi orang paling bahagia yang menyambut kedatangan kita; orang paling sedih hatinya menatap punggung kita yang perlahan menjauh dari ambang pintu rumah; yang paling rindu dan khawatir bila tidak ada kabar dari kita; menjadi yang paling peduli melebihi kepeduliannya pada dirinya sendiri, melampaui kepedulian kita pada diri kita sendiri.

Tidak berlebihan jika kita sebut Ibu adalah malaikat. Tiada lain selain ia yang bisa membuat para anak bahagia seketika, menyerah pada keegoisan, dan semakin bersyukur atas kasih sayang Allah.

 

Atas nama Tuhan Semesta Alam,

Untuk seorang ibu yang mengizinkanku menjadi sebagian dari dirinya,

Biarkan aku mencintamu lebih dalam dan lebih luas dari yang pernah kulakukan.

 

Tertanda,
seseorang yang telah menjadi sahabat terdekatmu sejak dalam kandungan.

Sstt…! Ini rahasia kita ya, Mom!

 

Penulis:

Augita Putri Roadiastuty

Mahasiswi Studi Perbandingan Politik FISIP Universitas Indonesia

Depok, Jawa Barat 

Komentar

    Tulis Komentar

    Kode Acak

    *Ket : Masukkan kode di atas sesuai tulisan, perhatikan huruf dan angka

Lainnya

#PersembahanUntukSangNabi: Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1438 H

Rasulullah Muhammad SAW dan Islam Menghilangkan Jahiliyah


Back to Top