Sayembara Menulis #CintaUntukIbunda

Perayaan Hari Ibu 22 Desember: ‘Wanita Berwajah Surga’

Sesuatu yang nyaman

Pastilah itu surga

Sesuatu yang damai

Pastilah itu surga

 

Sesuatu yang indah

Pastilah bernama surga

Sesuatu yang diliputi keteduhan

Hanya bisa ditemukan di surga

 

Sesuatu yang penuh kesenangan

Hanya ada di surga

 

Dan, surga di bumi itu bernama ibu

Tempat berhimpun kenyamanan lewat dekapannya

Kedamaian, lewat mata tenangnya

Keindahan, lewat besar cintanya

Keteduhan lewat kebijakannya

Dan kesenangan lewat limpahan kasih sayangnya   


Saya punya kenangan indah bersama ibu tentang betapa kekehnya ibu kami tak ingin menjual rumahnya. Namun disaat beliau mulai luluh dan mau tinggal dekat kami anak-anaknya, sebuah peristiwa menyakitkan itu terjadi. Begini kisahnya

Ibu tak pernah mau rumahnya dijual, meski dia harus tinggal sendiri tanpa anak-anaknya. Padahal kami khawatir dengan ibu yang sudah tua dan sakit-sakitan. Bayangkan saja, hampir semua anak ibuku tinggal dirantau. Ada yang di Jakarta, ada yang di Padang, dan ada yang di Yogyakarta.

Sebenarnya bukan setelah anak-anaknya menikah saja ibu harus rela ditinggal sendiri di Medan. Semenjak anak-anak ibuku tamat SMA, hampir semuanya memilih merantau ke Yogya untuk kuliah, termasuk diriku. Tak dapat kubayangkan bagaimana kesepiannya ibuku. Apalagi ayahku telah lebih dahulu dipanggil Tuhan. Otomatis ibu sering sendirian

Tapi ibuku tak pernah melarang anak-anaknya untuk pergi. Baginya yang utama adalah, anak-anaknya menjadi orang yang pinter dan bisa bersekolah setinggi-tingginya. Meski harus merantau meninggalkan dirinya. Ibuku benar-benar mengikuti sunnah nabi yang berbunyi “ tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”.

Sungguh luar biasa sosok ibuku di mataku. Padahal setiap kami kembali lagi ke Yogya setelah masa liburan habis, mata ibu akan berembun karena sedih dan haru. Sedih karena harus kembali ditinggal anak-anaknya dalam jangka waktu yang lama. Haru, demi melihat kami bisa mencicipi jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Setelah menikah, aku sangat ingin ibu pindah ke Jakarta. Selain semua anaknya tinggal di ibukota, aku ingin tinggal berdekatan dengan ibu. Maklumlah. Sedari SMA hingga menikah, aku hidup dirantau terus. Aku ingin membahagiakan beliau dengan sering mengunjunginya dan mengurusnya. Dan itu bisa terlaksana kalau ibu tinggal tak jauh dariku.

Tapi ibu menolak dengan alasan tak ingin meninggalkan rumahnya yang penuh kenangan asam dan manisnya hidup bersama Abak. Akh, ibu. Tak inginkah dihari tuamu, kau bisa berkumpul dengan anak-anakmu? Padahal kami sangat merindukan hal itu.

Untuk mengobati rasa kangenku pada ibu, setahun sekali ibu kukirimi ongkos untuk datang ke Jakarta. Begitu sampai di Jakarta, ibu akan kubawa pergi jalan-jalan kemanapun dia suka. Bahkan ke kolam renang sekalipun, bersama anak-anakku yang ingin berenang. Tapi ibu paling suka bila kuajak ke pasar Anyar Bogor. Kebetulan aku tinggal di daerah bojonggede yang tak jauh dari bogor. Jadilah dengan nekat kuajak ibu naik kereta. Meski awalnya ibu takut, tapi kulihat dari matanya ibu begitu antusias dan bahagia dengan ajakanku.

Namun saat ibu harus kembali lagi ke Medan, aku tak dapat menutupi rasa sedihku padanya. Dan lagi-lagi aku meminta agar rumah di Medan dijual saja, supaya ibu bisa membeli rumah tak jauh dari rumahku. Agar setiap saat aku bisa bersama ibu dan mengajaknya jalan-jalan. Juga membacakan cerita-ceritaku padanya.

Kebetulan aku suka menulis cerpen dan sering dimuat di media. Ibu berkata akan mempertimbangkannya. Aku merasa diberi setitik harapan. Hingga berdoa semoga ibu tak merubah niatnya untuk membeli rumah di daerah bojongggede. Karena ibu merasa betah tinggal di daerah tempat tinggalku yang menurutnya sejuk dan tidak panas seperti di Jakarta.

Beberapa bulan setelah ibu pulang ke Medan, ibu jatuh sakit. Kami pun memutuskan untuk mengobati ibu di Jakarta saja, agar lebih efisien dan efektif. Mengingat hampir semua anaknya tinggal di kota metropolitan.

Ibu pun tak menolak dan segera kembali lagi ke Jakarta untuk berobat. Begitu sampai, ibu segera kami bawa berobat ke dokter. Dan vonis yang mengerikan itu benar-benar menghancurkan hati kami anak-anaknya. Ibuku positif terkena kanker ganas.

Duh Robbi!

Benar-benar tak kuduga sebelumnya. Ditengah kebahagiaanku mendapat kabar bahwa salah satu cerpenku di annida online akan dibukukan bersama 11 penulis lainnya, ibu harus terkapar dirumah sakit karena menderita kanker dan komplikasi paru-paru yang parah. Mengapa cobaan itu datang ditengah kegembiraan yang seharusnya kubagi dengan Ibu, yang selama ini selalu setia mendengar cerita –ceritaku.

Aku tak bisa lupa betapa antusiasnya ibu memintaku untuk membacakan ceritaku yang dimuat, karena matanya mulai kabur diusianya yang sudah beranjak senja. Dengan senang hati aku pun membacakan ceritaku sendiri untuk ibu hingga selesai. Dia pun dengan tekun menyimak setiap kata demi kata yang aku bacakan untuknya. Juga ketika kuutarakan pada ibu bahwa aku ingin membuat cerpen tentang gempa dengan judul “ Rumah mande” Cerpenku yang akhirnya di muat oleh annida –online dan menjadi cerpen pilhan pembaca dibulan nop 2009. hingga dibuatkan video testimoninya.

“Nanti rumah ibu benar-benar kena gempa, Ti,” ucapnya sambil tertawa tergelak-gelak.

“Gak mungkinlah bu. Ini kan cuma sebuah cerita,” jawabku ikut tertawa. Kami pun tertawa bersam-sama setelah itu. Baru kali ini kulihat ibu bisa tertawa begitu senangnya. Setelah sekian lama hatinya dilanda duka.

Yah sejak kedua kakak lelakiku meninggal karena kanker, ibuku sempat murung dan bersedih. Bahkan tak lama abang tertuaku meninggal karena kanker hati. ibu pergi berjalan seorang diri entah kemana. Dia terus berjalan tanpa tujuan. Dan akhirnya pulang setelah kami menunggu dengan cemas di rumah.

“Entah mengapa, ibu tiba-tiba ingin berjalan kaki kemana ibu suka,” jawabnya saat kami tanya kemana saja dirinya. Akh…mungkin ibuku bingung harus bagaimana melepaskan rasa sedihnya karena baru kehilangan anak kebanggaannya yaitu Uda Wan, kakak tertuaku. Anaknya yang paling cerdas dan berprestasi. Hingga bisa sekolah keluar negeri tanpa biaya. Sekaligus tulang punggung keluarga penggati Abak yang telah lebih dulu meninggalkan kami.

Sungguh! Hati ini tak kuat membayangkan tubuh ibu yang sudah renta itu harus menjalani pengobatan seperti kemotrapi dsb. Apalagi yang kudengar dari orang-orang yang pernah terkena kanker mengatakan bahwa setelah habis dikemo, rasanya sakit sekali. Lebih baik digebug oleh orang sekampung daripada harus dikemo. Duh Robbi! betapa pilunya hati ini mendengarnya. Setiap malam aku menangis memikirkan ibu. Aku tak kuat memandang wajahnya yang selalu meringis menahan sakit

Aku hanya bisa berdoa agar Allah memberikan yang terbaik untuk ibuku. Ya Allah…kalau memang ibu masih diberi umur, sembuhkanlah penyakitnya. Tapi kalau memang umurnya sudah sampai, Mudahkanlah jalannya menuju tempat-Mu disana. Ringankanlah sakitnya. Berilah ia kekuatan dan ketabahan dalam menjalani penyakitnya. Doaku tiada henti

Doaku dikabulkan oleh yang kuasa. Setelah beberapa bulan berjuang melawan sakitnya, akhirnya Ibu dipanggil oleh Allah dengan tenang dan mudah. Kami pun memutuskan untuk memakamkan ibu tak jauh dari rumahku. Niat untuk menguburkan ibu di Medan disamping makam ayah, tak bisa kami wujudkan. Mengingat akan menelan biaya yang sangat mahal dan memberatkan ibu sendiri. Karena harus menunda-nunda pemakamnnya dengan segera.

Akhirnya, wanita berwajah surga itu benar-benar tinggal tak jauh dariku dirumah barunya.. Selamat jalan Bu. Semoga dirumahmu yang baru ini, kau akan merasa bahagia selama-lamanya. Karena doa kami anak-anakmu, akan selalu menemanimu disana. Aamin… 

 

Penulis:

Irhayati Harun

Ibu rumah tangga, Alumni Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)

Tajurhalang, Bogor, Jawa Barat

 

 

Komentar

    Tulis Komentar

    Kode Acak

    *Ket : Masukkan kode di atas sesuai tulisan, perhatikan huruf dan angka

Lainnya

#PersembahanUntukSangNabi: Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1438 H

Rasulullah Muhammad SAW dan Islam Menghilangkan Jahiliyah


Back to Top