Jelajah Jordan (1)

Kejutan Pertama di Madaba

Impian untuk dapat mengunjungi Petra, Laut Mati, dan gua Ashabul Khafi akhirnya kesampaian. Bahkan sejumlah kejutan mengiringi, termasuk berjumpa langsung Ratu Rania. 

Yordania sebagai pintu masuk ke kota suci Yerusalem umumnya cuma dilewati saja oleh para peziarah mancanegara, termasuk dari Indonesia. Kalau pun mereka singgah itu terbilang singkat, hanya satu-dua hari saja. Agenda utama pasti mengunjungi Petra. Tapi perjalanan saya kali ini berbeda, saya berkesempatan menjelajahi Yordania dari ujung utara hingga selatan.

Hari masih pagi ketika pesawat berbadan lebar Emirates nomor penerbangan E359 yang membawa saya beserta rombongan kecil dari Jakarta mendarat mulus di Queen Alia Airport (QAIA), bandara terbesar di Yordania yang terletak di selatan kota Amman, Ibukota negeri berpopulasi sekitar 6,5 juta jiwa ini, sejak pagi itu penjelajahan di bumi jejak para Nabi dimulai.

Bandara Queen Alia tampak cukup lengang. Selain Emirates yang baru saja parkir, di appron hanya ada tiga pesawat Royal Yordanian yang nongkrong. Loket imigrasi juga tidak begitu sibuk, praktis hanya ada tiga deret antrean, itupun tidak mengekor panjang. Ada banyak kemudahan bagi turis asing di sini, contohnya mengurus visa pas kita tiba di bandara, visa on arrival (VoA), dengan membayar 40 dinar Jordan (JD) sekitar Rp 800 ribu. Ceklokk… beres sudah paspor saya dicap oleh petugas.

Saya dan rombongan dijemput Ramzi Nawafleh, tour guide utusan Jordan Tourism Board (JTB-- www.visitjordan.com) yang akan sepekan menemani berkeliling negeri ini dalam program promosi pariwisata Yordania. Hawa dingin sisa musim winter yang baru saja berlalu masih terasa memagut tulang, mengiringi langkah kami keluar bandara menuju Hotel Le Meridien di jantung kota Amman. Kami hanya check-in, menaruh tas di kamar, lalu bergegas menuju Madaba, kota tua di tenggara Amman yang dikenal sebagai pusat kerajinan tangan dan bangunan bersejarah. Situasi lalu-lintas jalan tidak ramai, dalam tempo 35 menit saja saya sudah tiba di kota kecil di perbukitan itu.

Saya dapat kejutan pertama di Madaba, dijamu di sebuah restoran klasik,  Haret Jdoudna Restaurant yang menyajikan masakan arab tradisional. Benar saja, resto ini rupanya sangat populer bagi warga lokal dan turis asing. Tidak ada tempat kosong. Bisa jadi itu kebetulan semata lantaran sudah masuk jam makan siang. Tapi seorang pelayan memastikan, tamu harus memesan tempat terlebih dulu, jika tidak mereka mesti rela mengantre lama. Perlu sedikit bersabar sampai hidangan tersedia lengkap di meja, maklum banyak tamu harus dilayani secara bersamaan. Untungnya hidangan appertize segera tersaji, berupa aneka roti tawar kering berukuran mini berikut pasangannya, yakni pasta berwarna putih atau sebangsa mayones lembut nan gurih, hummus. Pasangan minuman juga terasa pas. Teh campur daun mint yang segar kala diseruput selagi masih panas. Sebaiknya jangan ditambahkan gula, karena akan menurunkan sensasi kesegaran air larutan sari daun mint.

Tibalah saya menyantap hidangan utama, yaitu mansaf yang merupakan hidangan khas nasional Yordania, terbuat dari daging domba dimasak dalam saus yoghurt kering difermentasi. ini tersaji dengan bulgur atau nasi. Ada ayam panggang dipadu kentang, tomat, dan bawang dibalur rempah-rempah beraroma khas, seperti kayu manis, pala, merica, allspice, dan kapulaga. Tidak lupa, mnazale (terong goreng, daging, dan irisan tomat dimasak di oven), salad segar yang dilumeri minyak zaitun, acar, sup sayuran, serta tentu saja mezze dan hummus. Selain roti tawar kali ini tersedia nasi biryani. Ada kemiripan antara masakan Yordania dan negara-negara tetangga, seperti Lebanon dan Suriah. Prototipe hidangan demikian akan terus menemani keseharian saya selama sepekan menjelajah negeri Yordan. Tentu saja membosankan untuk selera orang Indonesia. Tapi apa boleh buat, waktu seminggu serasa belum cukup untuk beradaptasi menerima dengan sepenuh hati masakan arab tradisional. 

Haret Jdoudna benar-benar menggoda dan membuat saya ingin duduk  berlama-lama. Betapa tidak, aneka tamu segala lapisan usia dan strata sosial tampak ada. Turis asing bercampur dengan warga lokal. Nah, di deretan meja tengah, sekelompok perempuan sosialita Yordania asyik bercengkerama usai santap siang. Merokok sisha rupanya hal lumrah bagi mereka. Aduhai, derai tawa para perempuan berkaki jenjang, kulit putih mulus, hidung mancung, mata biru, dan rambut kemerahan berderai-derai disapu kipas baling-baling. Canda khas para perempuan metropolis, dengan dialek arab bercampur Inggris. Tidak semua dari mereka berhijab. Barangkali itulah cerminan modernitas perempuan Yordania, seperti jamaknya kaum Hawa di negara tetangga jauhnya, Turki.

Waktu sholat Dhuhur tiba. Tapi yang sayup terdengar adalah dentang lonceng gereja. Bersaut-sautan lagi. Maklum, Madaba adalah kota dengan pemeluk Nasrani terbanyak di Yordan. Jumlah umat Nasrani di negeri ini sekitar 2% dari total penduduk. Di pusat kota terdapat gereja ortodok tertua dengan  bangunan masih terawat baik, dan jadi objek wisata religi bagi kaum Nasrani, selain di pinggiran Madaba ada Gunung Nebo sebagai tempat petilasan St Moses lengkap dengan replika tongkat ular terbuat dari lempengan logam. Dari bukit ini saya bisa memandang Lembah Yordan dan Laut Mati, serta kota Jericho, Israel di kejauhan sana.

Mount Nebo sejatinya hanya kawasan perbukitan, tersohor menjadi tujuan wisata rohani kaum Nasrani. Di sini ada bangunan gereja, museum, dan rumah kuno yang dulunya dipakai tempat mengajar dan dakwah. Setelah melewati pintu gerbang utama, saya tracking di jalan menanjak  lumayan tinggi. Sebelum tiba ke lokasi bangunan inti, saya berhenti sejenak di tugu prasasti yang penuh dengan ukiran nama dan tanda tangan tokoh. Mereka yang kebanyakan warga Italia adalah para donatur  pembangunan kompleks petilasan St Moses ini.

Tempat itu pula yang mengundang banyak turis Nasrani bertandang ke Mount Nebo. Ini bagian dari rute ziarah mereka setelah atau sebelum bertandang ke Bethlehem di Yerusalem. Di sini saya sempat berjumpa beberapa turis dari Jakarta, setelah mereka selesai berziarah ke Bethlehem.  Dari Mount Nebo, saya ingin pula membuktikan, bahwa di Yordania  ada tempat pembaptisan St Christ (Yesus Kristus). Maka saya pun mendatangi Bethani, situs yang menjadi lokasi pembaptisan, berada  di tepi Jordan River. Persis di seberang sungai adalah wilayah Jericho, Israel. Jordan River yang masuk kavling Israel masih dipercaya sebagai tempat baptis, tampak banyak peziarah Israel melakukan ritual itu, dibimbing oleh seorang rahib berjubah hitam.

Perjalanan ke kota Madaba adalah juga cerita tentang belanja barang seni karya warga lokal. Aneka barang keramik oleh-oleh seperti piring hias mini atau botol bening didalamnya ada "ukiran" dari material pasir gurun berwarna putih.  Umumnya bergambar Petra sebagai ikon pariwisata Yordania. Di sepanjang jalan menuju gereja Ortodok, di kanan-kiri terdapat kios penjaja barang souvenir. Lengkap pula dengan pengrajin yang sedang bekerja. Di sebuah toko souvenir, seorang perempuan pegawai toko menyapa dalam Bahasa Indonesia, sambil menggandeng tangan sang juragan yang warga lokal. Ia minta saya masuk ke tokonya, sekadar melihat-lihat, syukur-syukur kalau membeli. “Saya berasal dari Jawa Tengah, dari desa di Temanggung. Sudah lima tahunan saya bekerja di toko ini,” ujar perempuan itu. Yang tampak  siang itu, semua toko souvenir di Madaba sepi pembeli. Praktis siang itu hanya ada beberapa turis, termasuk rombongan kami. Sektor pariwisata Yordania memang sedang menurun, itu terlihat dari kondisi kota Madaba di hari itu.

(dns)

 

 

 


New layer...

Back to Top