Jelajah Jordan (2)

Tersergap Pesona Laut Mati

Badan terkurung di tepian Laut Mati. Sunyi dan sepi. Ada aura lain terasakan, sekeliling jadi sumpek. Tapi berada di titik terendah bumi ini justru sebagian orang menemukan damai dan kebugaran jiwa-raga.

Semula saya berharap perjalanan ke Laut Mati hari itu berlangsung siang atau sorean selagi malam belum tiba, sehingga saya bisa melihat alam eksotis sepanjang jalan menuju lokasi kota “Sodom dan Gomora” yang terekam dalam Alkitab dan Alquran itu. Tapi sudahlah. Hampir seharian tracking di kompleks situs pembaptisan Yesus Kristus di Bethani, tepi Jordan River perbatasan Yordania-Israel, telah menyegel waktu untuk dapat sampai di Laut Mati pada siang hari.

Kami meninggalkan Bethani saat matahari sudah tergelincir ke Barat. Perjalanan berikutnya adalah menuju Ma’in, kota terdekat dengan Laut Mati yang ramai turis. Sore itu  kami cuma numpang lewat jantung kota lantaran tujuan akhir adalah resor Evason Hot Springs&Six Senses Spa, salah satu destinasi wisata medis di kawasan Laut Mati.

Kami sempat berhenti di puncak passnya Ma’in. Sore mulai berkabut dan angin lumayan kencang. Dari pelataran bundar mirip helipad ini tour guide Ramzi Nafahleh mengingatkan kami agar tidak duduk, terlebih lagi berdiri di ujung pelataran yang langsung menghadap jurang terjal. Jauh dibawah sana samar terlihat hamparan biru Laut Mati, yang mana separuh wilayah laut milik Yordania dan sisanya kepunyaan Israel. Dan, hari pun mulai malam. Kami akan menuju dasar daratan, lantaran letak Laut Mati berada sekitar 350 meter di bawah permukaan tanah. Laut Mati adalah titik terendah bumi yang kita pijak ini sebagaimana disebut dalam Alquran Surat Arrum: 1-3.

Kami menuruni jalan berkelok-kelok, lumayan lama. Jalan itu pula yang mengocok perut, lalu memproduksi rasa mual. Untuk meredamnya, saya berusaha “tidur-tidur ayam” sambil sesekali melihat ke luar jendela bus, kendati yang tampak hanya bayang-bayang gelap bukit cadas. Jalan mengular turun itu berakhir di kompleks Evason, tempat kami tetirah malam itu. Kami hanya semalam saja di resor milik konglomerat Thailand ini.

Saya menempati kamar berukuran jumbo untuk ditiduri sendirian.  Seluruh unsur bangunan resor terdiri atas material ramah lingkungan. Bahkan, gayung pun terbuat dari batok kelapa, dan westafel dibalut anyaman bambu. Suhu udara malam tidak begitu dingin, karena Yordania saat itu sedang memasuki musim panas.

Saya mengintip dari celah gorden, yang tampak di luar kamar adalah pemandangan belakang resor dan dinding tinggi batu cadas di kejauhan. Gelap dan sunyi. Hanya ada pendar cahaya dari lampu-lampu balkon belakang kamar resor. Kok, malam itu saya merasakan suasana nan sumpek, kendati berada di kamar hotel yang luas. Ada apa gerangan? Saya berkumur di westafel, airnya terasa payau. Hingga check-out keesokan hari, saya tidak jua menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut.

Evason Ma’in dengan spanya sangat popular di kalangan turis asing. Di sini mereka tak sekadar menginap,  tapi juga melakukan terapi kesehatan. Dan, Ma’in pun menjelma jadi pusat wisata medis Yordania. Mandi air panas alami jadi favorit tamu. Ada air terjun berikut kolam air panas milik publik yang lokasinya menempel kompleks resor. Malam sudah larut ketika  tiga teman tergopoh keluar kamar, mengajak saya berendam air panas. “Ayo kita meraih kebugaran badan di resort&spa terbaik di Yordania,” ujar temen berlagak seperti pejabat PR Evason Ma’in.

Baru esok paginya saya bisa benar-benar merasakan kedamaian jiwa. Gemericik air terjun dan kicau burung saling beradu. Menikmati pagi nan damai dari balkon resto resor yang menghadap langsung ke air terjun mini. Tidak banyak tamu yang sarapan. Secangkir kopi panas plus setangkup roti selai nenas menemani saya bersantai. Meresapi damai pagi di sudut tepian Laut Mati. Sebuah kedamaian yang (mungkin) teramat jauh dapat dijangkau oleh umat Nabi Luth, ribuan tahun silam. Justru di sini, di Laut Mati ini kaum Luth menerima azab yang pedih lantaran mereka menolak bertauhid dan terjerumus perilaku ganjil.

Usai sarapan kami harus bergegas meninggalkan Evason resor untuk melanjutkan tur ke  wilayah Jordan utara. Kami akan ke Jerash, mengunjungi kompleks kuil peninggalan Romawi kuno. Kuil-kuil yang tinggal reruntuhan itu dulunya merupakan bangunan  termegah Romawi di luar kota Roma. Perjalanan darat sekitar 1,5 jam dari kota Amman. Masih di wilayah utara, kami juga mengunjungi kastil Ajloun. Dulunya kastil ini adalah benteng pertahanan yang dibangun tahun 1184 M oleh Jenderal Saladin, Izz ad-Din Usama bin Munqidh yang pernah memenangi Perang Salib tahun 1187

Tiga hari berselang kami datang lagi ke Laut Mati setelah sebelumnya mengunjungi Teluk Aqaba, Wadi Rum, dan Petra. Kami menginap di Holiday Inn dengan pemandangan  menghadap langsung Laut Mati. Di suatu sore, saya akhirnya kesampaian juga mewujudkan impian itu: merasakan sensasi berenang di laut tapi tubuh tidak bisa tenggelam alias tetap mengambang. Ini akibat tingginya tekanan air berkadar garam dari dasar laut ke permukaan. Jadi, jangan takut tenggelam, sekalipun kita tidak bisa berenang.

Seorang turis perempuan asal Tiongkok contohnya. Ia mengaku takut air, apalagi bisa berenang. Seumur-umur baru kali ini ia memberanikan diri nyemplung ke laut, itupun terdorong pula oleh rasa penasaran yang sangat tentang “keajaiban” anti-tenggelam di perairan Laut Mati. Dibantu dipapah oleh dua rekannya, ibu muda itu akhirnya berhasil berenang kendati cuma beberapa meter saja di tepian.

Aktivitas berenang di Laut Mati sebaiknya di pagi hari atau sore, selagi sinar matahari tidak terik saat berlangsung musim panas. Jika di musim dingin pilihan waktu lebih banyak, tapi tergantung pula instruksi para pemandu. Saya tentu saja tidak langsung menceburkan diri,  apalagi air Laut Mati dengan kadar garam tinggi terasa perih di kulit, terutama kulit muka. Makanya berenang di sini hanya berlaku gaya tunggal, yaitu gaya punggung, dengan tinggal menyisakan setengah kepala nongol dan muka terbebas air.  Muka saya sempat terpercik air, duh minta ampun panasnya, seperti tersengat air panas yang lama hilangnya. Di sinilah terbukti bahwa air Laut Mati mampu menyembuhkan penyakit kulit, seperti kadas, koreng , dan inflamasi akut kulit.

Habis mandi di laut saya pun tetap taat instruksi, yaitu membaluri seluruh tubuh dengan krim khusus berwarna hitam pekat, biarkan hingga krim mengering, setelah itu baru membilas seluruh tubuh pakai air tawar di tempat-tempat pancuran yang tersedia. Selintas krim ini terbuat dari campuran arang khusus, tidak bau, dan warnanya hitam jelaga.

Masing-masing hotel berbintang punya private beach di Laut Mati yang diperuntukkan bagi tamu hotel, termasuk Holiday Inn tempat saya menginap. Jadwal berenang di area pantai bertapal batas gelembung buoy oranye itu berlaku hingga jam 6 sore. Lebih dari jam ini pantai sudah gelap dan sangat terlarang berenang di malan hari. Habis mandi di pantai ternyata saya masih dapat sensasi lain. Yaitu, lantai kamar mandi saya di hotel penuh dengan bercak warna hitam pekat. Menyebar ke mana-mana. Cukup bandel untuk tergelontor ke lubang pembuangan saat saya mandi ulang. Ini akibat pakaian ganti, terlebih baju renang, tidak mau menanggalkan sisa-sisa krim hitam jelaga. Bisa jadi ini pengalaman serupa para tamu hotel. Tidak masalah, toh besok pagi saya sudah cabut menuju ibu kota Amman. Selamat kerja ekstra wahai petugas hotel!!

(dns)

 

 


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top