Facing Ramadhan (1)

Muegang, Perbaikan Gizi Hadapi Puasa di Serambi Mekkah

Banda Aceh, (gomuslim). Banyak cara dilakukan masyarakat Nusantara dalam menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan, semuanya dimaksudkan satu tujuan, mensyukuri nikmat dapat kembali bertemu bulan mulia sekaligus memberi sambutan dan penghormatan yang lebih besar dibanding bulan-bulan lainnya. Ada meugang di Aceh, Malamang di Sumatra Barat, Nyorog di masyarakat Betawi, Mungguhan Sunda, Nyadran Jawa Tengah, Megengan Jawa Timur, Tungkalan di Kalimantan Barat, dan beberapa kebiasan umat Islam di Sulawesi. 

Kebiasaan tersebut adalah refleksi integrasi atau pertemuan harmoni antara nilai ajaran Islam dengan tradisi yang berkembang dalam masyarakat sebgai 'living culture'. Berikut adalah penelusuran gomuslim, dimulai dari tradisi menghadapi Ramadhan di Aceh.

 

 

Di Sumatera, ada beberapa tradisi umat Islam dalam mengahadapi Ramadhan yang populer, antara lain ‘meugang’ di Aceh.

Di bumi serambai Mekkah ini dua atau sehari menjelang bulan puasa masyarakat semua lapisan secara serentak menggelar tradisi penyambutan Ramadhan dengan ‘ makmeugang atau meugang’ yaitu membeli daging, memasak dan memakannya bersama keluarga.

Secara sederhana tradisi meugang ini dipahami sebagai tradisi masyarakat lokal setempat. Pada saat tersebut ditandai dengan penjualan daging secara massal hampir di setiap pasar bahkan di setiap persimpangan jalan yang dilalui masyarakat. Seperti terjadi euphoria perbaikin gizi sebelum memasuki bulan suci.

Bagi masyarakat Aceh, meugang tanpa membeli daging belum lengkap. Meski harga melonjak drastis saat meugang, lapak penjual daging tetap dikerumuni pembeli. Setiap keluarga biasanya membeli satu hingga tiga kilogram daging untuk disantap bersama.

Orang kaya biasanya membeli daging dalam jumlah banyak, kemudian membagikan kepada anak yatim atau tetangganya yang miskin. Bagi pria baru menikah, akan jadi aib kalau meugang tak membawa pulang daging ke rumah mertuanya. Sebaliknya akan menjadi kebanggaan keluarga, kalau ia membawa pulang kepala sapi atau kerbau.

Daging menjadi menu utama sebagai lauk nasi yang disantap bersama keluarga pada saat meugang. Menu daging yang dimasak secara tradisional seperti sie reuboh (daging rebus) di Aceh Besar dan sie puteh (daging putih) di Pidie sangat mudah dijumpai di rumah-rumah.

Di pedesaan yang adatnya masih kuat, orangtua akan melarang anak-anaknya bermain ke rumah tetangga atau sekolah pada hari meugang. Mereka wajib makan di rumah. Biasanya masyarakat memasak daging di rumah, setelah itu membawanya ke masjid untuk makan bersama tetangga dan warga yang lain.

Menurut riwayat, meugang pertama sekali diperingati pada masa Kerajaan Aceh Darussalam dipimpin Sultan Iskandar Muda yang berkuasa tahun 1607-1636 M. Istilah makmeugang bahkan diatur dalam Qanun Meukuta Alam Al Asyi atau Undang-Undang Kerajaan. Kerjaaan memerintah perangkat desa mendata warga miskin, kemudian diverifikasi oleh lembaga resmi (Qadhi) kesultanan untuk memilih yang layak menerima daging. Sultan kemudian memotong banyak ternak, dagingnya dibagikan kepada mereka secara gratis. “Ini sebagai wujud rasa syukur atas kemakmuran kerajaan, raja mengajak rakyatnya ikut bergembira menyambut puasa,” ujarnya.

Jika pada hari-hari biasa masyarakat Aceh terbiasa menikmati makanan dari darat ,sungai maupun laut, maka menyambut hari istimewa hari makmuegang ini masyarakat Aceh merasa daging sapi atau lembulah yang terbaik untuk dihidangkan.

Secara keagamaan tradisi meugang dapat dimaknai sebagai syiar penyambutan datangnya bulan Ramadhan sebagai penghulu segala bulan (sayidus syuhur). Ini adalah pesan bahwa bulan Ramadhan itu mempunyai marwah yang lebih mulia sehingga harus disambut dengan penuh suka cita. Ini sesuai ajaran Nabi dalam hadis yang mengatakan bahwa “Barangsiapa hati gembira dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan, maka ganjarannya adalah masuk surge.”

Selain itu, juga dianggap sebagai persiapan energi (isti’dad al-quwah) menjelang datangnya bulan Ramadhan. Melalui tradisi makan daging ini masyarakat Aceh menyakini dapat memberikan asupan gizi yang cukup dalam badan, sehingga mempunyai kesiapan menghadapi bulan puasa yang memerlukan energi yang banyak.

Tidak ada salahnya merayakan atau mengadakan penyambutan datangnya bulan suci dan memperbaiki gizi secara massal dengan menu daging dalam sehari atau dua hari menjelang puasa sebulan penuh. Ekspresi masyarakat Islam lokal demikian ini merupakan kekayaan budaya yang hidup di tengah masyarakat atau the living culture yang niscaya. (mm)


Back to Top