Facing Ramadhan (2)

Zaman Berubah, Minang Tetap Sambut Ramadhan dengan Malamang

Padang, (gomuslim). Jika masyarakat Aceh menyambut datangnya bulan suci Ramadhan dengan ‘meugang’ atau makan daging, maka masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat, melestarikan tradisi ‘malamang’. Sama-sama menyambut bulan suci dengan makanan istimewa, tetapi tradisi orang Minang ini memang berbeda dengan Aceh.

Tradisi malamang adalah adat yang berkembang di masyarakat Sumatera Barat dalam menyambut hari-hari besar, seperti Maulid Nabi, pengangkatan penghulu, lebaran, pernikahan dan hari besar Islam, terutama saat menyambut bulan suci Ramadhan. Tradisi sudah ratusan tahun ini dilestarikan hingga saat ini dan tetap dengan cara yang sama meski zaman telah berganti.

Lamang biasanya disajikan atau dihidangkan untuk disantap dengan 'tapai sipuluik' yang juga terbuat dari beras ketan hitam atau beras ketan merah. Pada musim durian, lamang juga banyak dihidangkan bersama buah durian.

Di Pariaman yang menjadi daerah asal lamang, membuat lamang atau malamang tidak hanya sekedar tradisi. Lebih dari itu, malamang sudah seperti sebuah keharusan bagi masyarakat terutama dalam menyambut Ramadhan dan memperingati Maulid Nabi atau hari kelahiran Nabi Muhammad Saw. Tanpa malamang, masyarakat akan merasakan sesuatu yang kurang saat peringatan Maulid Nabi.

Meski tidak diwajibkan secara syariat, tetapi tradisi ini sudah mengakar hingga tidak afdhal jika datang Ramadhan tidak ada kegiatan malamang.  Di Minangkabau antara alam, adat, dan syarak (agama) mempunyai hubungan harmonis. Alam merupakan guru, sumber ilmu pengetahuan, dan juga sumber inspirasi bagi masyarakat Minangkabau sesuai dengan falsafah “alam takambang jadi guru.”

Adat merupakan bentuk atau perilaku masyarakat yang berasal dari pembelajaran dan pengetahuan yang didapat dari alam sesuai dengan syarak dalam falsafah Minangkabau, “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”. Keharmonisan antara alam, adat, syarak, di Minangkabau dapat ditemukan dalam berbagai tradisi masyarakatnya, termasuk dalam malamang ini.

Malamang atau membuat lamang mencerminkan salah satu hormoni adat yang berjajaran dengan syariat. Benar bahwa munculnya tradisi malamang ini tidak dapat dilepaskan dengan muncul dan berkembangnya Islam di Minangkabau sekitar tiga ratus tahun yang lalu. Saat itu ulama terkenal Syekh Burhanuddin datang ke daerah pesisir Minangkabau untuk menyiarkan agama Islam. Syiar agama yang dilakukan terutama bertempat di Ulakan, Pariaman.

Syekh Burhanuddin rajin berkunjung ke rumah-rumah penduduk untuk bersilaturrahmi dan menyiarkan agama Islam.  Oleh masyarakat, beliau disuguhi makanan-makanan saat bertamu tersebut. Namun Syekh Burhanuddin agaknya meragukan kehalalan makanan yang dihidangkan. Akhirnya beliau memberi saran kepada setiap masyarakat yang dikunjunginya agar mencari bambu, mengalasnya dengan daun pisang muda, memasukkan beras ketan dan santan ke dalamnya, kemudian dipanggang di atas tungku, dengan bahan bakar dari kayu. Sampai saat ini, kisah inilah yang dipercaya oleh masyarakat Minangkabau sebagai asal-usul tradisi malamang.

Malamang membutuhkan beberapa orang untuk membuatnya. Misalnya saja, untuk malamang diperlukan orang untuk mencari bambu sebagai tempat adonan, mencari kayu bakar guna memanggang lamang, mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat lamang seperti beras ketan, santan, dan juga daun pisang, serta orang yang mempersiapkan adonan dan memasukkan adonan lamang kedalam bambu.

 Dua perangkat ini merupakan ‘too’ wajib ada. Selanjutnya bambu dipotong dan dibersihkan luar dalamnya agar hegienis. Kemudian daun pisang dilayukan dengan api kecil agar tidak terbakar, daun pisang dimasukan ke dalam bambu yang sudah dipotong.

Setelah wadah siap, beras ketan dicuci hingga bersih dicampur dengan santan kelapa, terus dimasukan ke dalam bambu yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Setelah proses selesai, bambu tersebut dibakar dengan kayu lebih kurang 6 sampai 8 jam.

Biasanya setiap keluarga akan membuat hingga 50 batang lamang, bahkan ada yang lebih dari 100 batang. Untuk membuat 50 batang lamang, kira-kira dibutuhkan 150 liter beras ketan dan 100 butir kelapa.

Orang Minangkabau yang terkenal dengan tradisi merantau dan berdagang ikut membantu menyebarluaskan tradisi malamang, sehingga lamang juga dikenal di daerah-daerah lain di Indonesia hingga sampai ke luar negeri. Bahkan Kota Tebing Tinggi di Sumatera Utara dijuluki sebagai Kota Lamang. Masakan lamang di daerah ini dibawa oleh perantau Minang ke tujuan rantau masing-masing.

Agaknya tradisi malamang sudah menyatu dengan masyarakat Minang, sehingga di luar Ramadhan dan Maulid Nabi Muhammad SAW juga sudah biasa diadakan malamang. “Indak lakang dek paneh, indak lapuak dek hujan.” Musim hujan atau musim panas, melang terus jalan. Ada Maulid Nabi dan Ramadhan atau tidak juga tetap harus ada malamang, namun tradisi malamang untuk menyambut Ramadhan jelas lebih sakral. (mm)

 


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top