Facing Ramadhan (4)

Nyorog, Tradisi Betawi Yang Tersingkir

Jakarta, (gomuslim). Bulan Juni 2016 ini Ibukota Jakarta memeringati hari lahir ke-489 tahun yang kebetulan jatuh di bulan suci Ramadhan. Untuk menghadapi bulan suci ini, masyarakat Betawi sebagai penduduk Jakarta umumnya melakukan tradisi ‘nyorog’ atau saling mengirim makanan kepada sanak saudara, terutama dari yang lebih muda kepada kerabat yang lebih tua atau dituakan.

Tujuan utama tradisi ini adalah untuk mempererat tali persaudaraan dan mengingatkan bahwa Ramadhan telah tiba. Dahulu, lalu lalang anak muda atau pasangan muda sedang 'nyorog' merupakan pemandangan yang ramai setiap menjelang Ramadhan. Dua hari atau sehari sebelum memasuki bulan suci, hilir mudik kegiatan nyorog itu mengubah suasana akhir bulan Rajab menuju awal Ramadhan. Selain saling mengirim makanan, biasanya juga dilakukan tradisi makan bersama di kediaman anggota keluarga yang dituakan. Nyorog juga berarti saling bertukar makan antar anggota keluarga dalam kegiatan saling mengunjungi atau anjangsana itu.

 

Hari-hari belakangan tradisi nyorog ini kurang terasa kehadirannya di Ibukota karena sebagian besar etnis Betawi sudah semakin terpinggir di daerah penopang seperti Tangerang, Bogor, Depok dan Bekasi. Sebenarnya tradisi nyorog yang pada zaman dahulu menjadi warna tersendiri di Jakarta dalam setiap menjelang Ramadhan, namun kini seiring sebaran etnis Betawi makin merata di daerah penopang Jakarta, tradisi nyorog juga mengikuti ke daerah pinggir Ibukota.

Selain dilakukan sebelum datangnya bulan Ramadhan biasanya juga dilakukan pada saat sebelum dan sesudah acara pernikahan. Kedua mempelai melakukan tradisi ini dengan mengirimkan makanan ke tempat saudara-saudara yang lebih tua seperti paman, kakek atau nenek, kakak guna untuk mendapatkan doa restu, namun berdasarkan penelusuran muasalnya, nyorog memang dimulai pertama kali untuk menyambut Ramadhan.

Belakangan, tradisi ini terus terkikis zaman hingga tidak lagi dirasakan gregetnya di Jakarta. Walaupun nyorog  terkesan mulai pudar, namun kebiasan mengirim bingkisan sampai sekarang masih ada di dalam masyarakat Betawi dan mulai ada usaha untuk menghidupkan kembali. Hal ini disemarakkan lagi karena generasi terkini etnis Betawi makin tidak mengenal nyorog sehingga dalam waktu bersamaan juga kering silaturahim dengan sanak saudara.

Keberadaan tradisi nyorog sebenarnya membawa pemaknaan tersendiri bagi masyarakat pada umumnya karena sebenanya ini merupakan ‘cara’ silaturrahim serta proses pereratan tali persaudaraan sesama umat Islam, terutama yang terikat kekerabatan. Pemaknaan tersebut divisualisasikan dengan pemberian bingkisan makanan yang diharapkan akan menciptakan kebahagiaan hati bagi penerima. Makanan yang diberikan beragam, namun kebanyakan adalah bahan makanan mentah, bisa juga berupa daging kerbau, ikan bandeng, kopi, susu, gula, sirup, dan lainnya.

Kini,nyorog dapat dijumpai di Tangerang, Depok, Bekasi dan Bogor selain tentu di sebagian titik-titik konsentrasi etnis Bewati Ibukota yang tidak seberapa banyak. Selain di Betawi, tradisi serupa juga bisa didapati di Jawa, terutama di Jawa Timur. Kebiasaan Memberi makanan tersebut dinamakan “tradisi weweh“ atau ‘ater-ater’ atau menghantar, hanya saja di Jawa Timur umumnya dilakukan sebelum lebaran Idul Fitri.

Pada akhirnya jika ada yang perlu disakapi, maka tradisi ini adalah bagian dari ragam kekayaan. Cara menghadapi Ramadhan di kalangan etnis Betawi ini dapat dipandang sebagai ekspresmi kebudayaan lokal dalam merespon ajaran Islam. Ada nilai silaturahim, ada sinyal persiapan menghadapi bulan penuh berkah dan saling mengingatkan sesama. (mm)

 


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top