Facing Ramadhan (5)

Botram Sunda, 'The Last Supper' di Pintu Masuk Bulan Puasa

Jakarta, (gomuslim). Tidak terlalu berbeda alias mirip dengan tradisi masyarakat Aceh dan Betawi yang bersiap menghadapi bulan suci Ramadhan dengan silaturahim atau berkumpul bersama keluarga kemudian makan-makan bersama. Di tataran Sunda Jawa Barat, hingga kini masih berlangsung tradisi ‘munggahan’ sebelum bulan Sya’ban berakhir kemudian berganti Ramadhan.

Banyak arti dan makna ‘munggahan’ bahkan ada yang berseloroh ini adalah tradisi 'makan terakhir' alias 'the last supper' sebelum bulan puasa datang. Namun secara etimologis ‘munggahan’ berasal dari kata ‘unggah’ yang memiliki arti 'mancat' atau memasuki tempat yang agak tinggi. Makna filosofisnya adalah dengan mungguhan, semua digiring menuju kenaikan amal ibadah yang lebih baik dan mulia di bulan mulia Ramadhan. Kata munggah memang sangat akrab dengan ibadah umat Islam, seperti juga dapat ditemui pada ibadah munggah haji, munggah masjid, munggah tajug dan lainnya.

Dalam pelaksanaannya, munggahan digelar dengan cara makan-makan yang terkenal dengan istilah botram atau kumpul-kumpul bersama keluarga atau teman untuk bersilaturahim. Biasanya botram dilakukan di tempat-tempat tertentu yang menjadi kesukaan seperti di sekitar kebun, pegunungan, pinggir sawah, sambil menikmati makanan dan pemandangan serta alam yang indah dan sejuk, ataupun bisa di rumah keluarga besar maupun di kantor, cafe, dan tempat lainnya.

Setelah ‘ngebotram’ di rumah keluarga besar atau ‘outing’ di suatu tempat, biasanya langsung kembali ke rumah masing-masing untuk melaksanakan ritual berikutnya, yaitu mandi besar untuk membersihkan diri siap menghadapi Ramadhan.

Sudah berjalan bertahun-tahun dan tradisi ini masih kental di masyarakat desa dan kota di Jawa Barat. Biasanya pada malam munggah, anggota keluarga yang merantau pun menyempatkan diri untuk mudik dan berkumpul bersama sanak keluarga.

Munggah kemudian semakin bermakna karena bukan sekadar makan bersama sebab ada nilai silaturahim, berdoa bersama, saling mengingatkan untuk membersihkan diri, dan ada pula yang mengamalkan sedekah munggah (sedekah pada sehari menjelang bulan puasa) dan bersiap memasuki Ramadhan.

Keutamaan

Munggahan bukan sekedar tadisi biasa bagi masyarakat Islam Sunda, ini merupakan bentuk rasa hormat umat dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan yang penuh berkah dan ampunan. Ini juga terkait dengan Sabda Nabi agar umatnya gembira menyambut bulan Ramadhan yang di dalamnya banyak diberikan keutamaan.

Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, Rasulullah bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa agung, lagi penuh berkah. Bulan yang di dalamnya ada malam yang lebih baik dari 1000 bulan”.

Selanjutnya Rasulullah bersabda, “Barang siapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu perbuatan kebajikan (sunnah), ia akan mendapatkan pahala seperti kalau ia melakukan perbuatan wajib pada bulan lain. Barang siapa melaksanakan suatu kewajiban pada bulan (Ramadhan) itu, ia akan mendapatkan pahala seperti kalau ia mengerjakan 70 perbuatan wajib pada bulan yang lain”.

Oleh karena itu, masyarakat Sunda menyiapkan diri dengan berkumpul bersama keluarga, yang tua memberi nasehat atau taushiyah Ramadhan kepada anggota keluarga yang sedang berkumpul yang kemudian ditutup dengan makan bersama alias botram. Yang jauh datang ke kampung halaman di bumi Parahiyangan untuk menggelar munggahan bersama keluarga. Di sejumlah kota penyanggah Jakarta seperti Bogor dan Tangerang tradisi masyarakat Sunda ini juga marak dilaksanakan masyarakat setempat. Mungkin karena tradisinya sama dengan tradisi Betawi dan kebetulan kedua suku ini setali tiga uang, antara munggahan dan 'nyorog' Betaei nyaris tidak dapat dibedakan. Namun ciri khusus munggahan dalam botram biasanya lebih sering digelar di alam terbuka. (mm)


Back to Top