Idul Fitri di Berbagai Negara (3)

Islam China Yang Otentik Bersama Tradisi Leluhur

Beijing, (gomuslim). Seperti di Nusantara yang memiliki tradisi merayakan hari raya Idul Fitri atau berlebaran berbeda-beda, setiap negara juga memiliki tradisi tidak sama. Di China misalnya, kekhasan itu justru lahir dari paduan unik antara ajaran Islam dan instrument kebudayaan yang sudah mengakar dari leluhur. Sejauh tidak menyalahi syariat, akulturasi antara adat China dan Islam hingga hari ini terpelihara hingga menjadi produk otentik masyarakat Islam dan akar budaya tempatnya berpijak.

Hal itu tampak dalam ekspresi kebudayaan umat Islam di negeri Tirai Bambu ini dalam menghadapi tiga perayaan hari besar:  Idul-Fitri, Idul Adha dan Maulid Nabi Muhammad SAW, yang dijalani dengan nuansa kebudayaan yang kental. Seluruh unsur ajaran Islamnya menjadi subtansi dengan asesori penunjang dari kebudayaan tempatan.

Tradisi seperti ini terbangun sejak Islam masuk pada zaman Khulafaurrasyidun Ustman bin Affan (khalifah ketiga) hingga Islam menjadi agama terbesar ke-2 di China. Ada 35 juta umat Muslim di negara komunis ini. Muslim di China memang bukan mayoritas, sekitar 10 etnis dari 56 etnis yang ada di China di antaranya memeluk agama Islam, misalnya di Xinjiang dan Yunnan. Muslim China biasanya bersilaturahim dan makan bersama keluarga setelah shalat Ied.

Tradisi apa yang paling menonjol selama lebaran di China? Berikut ulasannya.

 

Bersih-Bersih

Mungkin tidak ada kehebohan semeriah mengahadapi hari raya Idul Fitri seperti di China ini. Semua anggota keluarga bergerak membersihkan rumah dan lingkungan secara bersamaan. Di antara rumah yang paling banyak menyita perhatian adalah ‘rumah tua’ atau rumah keluarga yang disepuhkan karena akan dijadikan tempat berkumpul sanak saudara.

Sebelum memasuki Ramadhan biasanya juga terjadi tradisi bersih diri dan bersih tempat tinggal, namun pembersihan pada saat menghadapi lebaran jauh lebih heboh dibanding pada hari lainnya.

 

Ziarah

Setelah bersih rumah, umat Islam China kemudian ziarah kepada makam-makam leluhur. Jauh sebelum Islam menjadi salah satu agama di China, masyarakat setempat biasa berziarah ke makam leluhur. Islam sendiri menganjurkan umatnya untuk berziarah untuk mengingat kematian, selain mendoakan orang tua yang mendahului.

Tampak dalam foto umat Islam di Beijing yang melakukan ziarah kubur. Uniknya mereka melakukan ziarah kubur sambil membakar Hio yang menjadi kebiasaan / tradisi Tionghoa. Almarhum KH Slamet Effendi Yusuf (ketua Komisi Pengawas Haji Indonesia dan Ketua MUI Pusat) dua tahun lalu,  (1/11/2014) mengunggah kegiatan tersebut di halaman facebooknya dan memberikan keterangan sebagai berikut:

 

 

"Di kompleks masjid Niuji, Bejing, juga terdapat makam yang banyak diziarahi umat. Hebatnya jamaah yg ziarah juga membakar hio yang jadi tradisi Tionghoa. Pada kesempatan ini Ketum MUI Dien Samsudin mengajak rombongan membaca Al Fatihah dan memimpin doa."

 

Makan Bersama

Selain ziarah leluhur, tradisi menghadapi lebaran yang terus terpelihara sejak hampir 1500 tahun di China adalah bersilaturahim, berkumpul bersama keluarga, makan bersama hingga berlama-lama bersama untuk merekatkan tali silaturrahim antar keluarga. Kegiatan ini dilakukans setelah shalat Idul Fitri.

Seperti rumah-rumah masyarakat China pada umumnya, umat Islam China juga menggelar makan bersama itu di halaman dalam rumah yang luas. Di tempat terbuka tersebut biasanya menjadi tempat fovorit untuk acara-acara keluarga dan pada momentum hari raya Idul Fitri biasanya ‘family area’ tersebut berperan penting dalam mendekatkan hubungan antar sanak keluarga yang mulai berpencar-pencar.

 

 

Kapan Islam Datang ke China?

Menilik hormoni ajaran dan budaya China yang sudah mendarah daging itu, tentu terbesit dalam pikiran, kapan sebenarnya masyarakat China bersentuhan dengan Islam?

Dalam buku sejarah China 'Chiu T’hang Shu' diceritakan China pernah mendapat kunjungan diplomatik dari orang-orang Ta Shih (Arab), duta dari Tan mi mo ni’ (Amirul Mukminin), yang ke-3 (Khalifah Utsman bin Affan).  Seperti yang tercatat juga dalam sejarah Islam, Khalifah Utsman bin Affan menugaskan Sa’ad bin Abi Waqqash untuk membawa ajaran Islam ke daratan China (Konon, Sa’ad meninggal dunia di China pada tahun 635 M, dan kuburannya dikenal sebagai Geys’ Mazars).

Utusan khalifah itu diterima secara terbuka oleh Kaisar Yung Wei dari Dinasti Tang. Sejak saat itu Islam dikenal dan mulai tersebar di berbagai wilayah di China. Tidak hanya itu, khalifah-khalifah Islam lainnya juga sering mengirim delegasi ke China untuk mengajarkan Agama Islam kepada orang-orang Islam China seperti halnya yang dilakukan Harun Al Rosyid (A-Lun), Abu Abbas (Abo-Loba)  dan Abu Dja’far (A-pu-cha-fo) dalam riwayat Dinasti Tang.

Dinasti Tang berkuasa (618 – 690 dan 705 – 907), China tengah mencapai masa keemasan, sehingga ajaran Islam tersebar dan dikenal masyarakat Tiongkok. Berawal dari kaisar China pada masa Dinasti Tang yang tampaknya memiliki pengetahuan tentang nabi-nabi Islam dan Kristen, sebagaimana yang dituturkan oleh penjelajah Arab Ibn Wahab dari Basra kepada Abu Zaid sekembalinya ke Irak.

Dalam buku Cheng Ho: Penyebaran Islam di China ke Nusantara disebutkan bahwa perkembangan Islam berjalan lambat di China pada awalnya. Hal itu disebabkan karena pedagang-pedagang Islam dari Arab itu tidak diperbolehkan menikah dengan penduduk setempat ataupun berinteraksi pada masa itu. Seiring berjalannya waktu mereka diberi kelonggaran untuk dapat berinteraksi maupun menikahi wanita setempat bahkan mereka diperbolehkan membangun pemukiman-pemukiman bagi mereka dan keturunannya.

Dari keturunan merekalah kemudian sebagian ulama dari negeri Champa (Vietnam-Kamboja) datang ke Indonesia, antara lain Sunan Ampel (keturunan Arab-China).

Kini, keberadaan lebih dari 35 juta umat Islam di China terus berkembang bersama ajaran agama dan ragam kekayaan budaya yang dimilikinya, termasuk tradisi berlebaran dengan cara lokal seperti disebutkan di atas. (mm/bs)


Back to Top