Idul Fitri di Berbagai Negara (2)

Lebaran di Tiga Negeri Jiran Serasa di Kampung Halaman

(gomuslim). Pernahkah Anda berlebaran di negeri seberang? Saat takbir berkumandang rasanya terngiang ingat kampung halaman, bumi tempat kelahiran. Tetapi lebaran di negara-negara tetangga tidaklah terlalu berbeda dengan tradisi di tanah air.  Sebongkah kesamaan mungkin dapat mengobati rindu dalam menyambut hari raya setahun sekali itu.

Berlebaran atau biasanya dinamai dengan hari raya Aidil Fitri di negara tetangga Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam, memang tidak terlalu berbeda dengan perayaan di Indonesia. Ada kupatan, ada takbir keliling dan silaturahim antar keluarga dan kolega. Namun tentu dengan beberapa perbedaan.

 

 

Di antara kesamaan itu antara lain, di kampung-kampung masyarakat Melayu Singapura, Malaysia dan Brunai saat tiba malam hari raya warga masyarakat beramai-ramai keluar rumah dan menyulut pelita (obor) berkeliling kampung-kampug sambil bertakbir. Selain itu juga ada tradisi mudik lebaran dari kota ke desa, yang dinamakan ‘balik kampung’ meski tidak pernah ‘seheboh’ mudik di Indonesia.

Di Malaysia dan Brunai shalat dilaksanakan di Masjid dan lapangan luas dengan jumlah jemaah yang membludak, namun di Singapura shalat Idul Fitri biasanya dilaksanakan di ruang publik atau taman dengan sedikit menarik tenda. Umumnya digelar di lapangan kecil di antara hutan beton apartemen yang menjadi perkampungan penduduk Singapur.

Dalam hal ucapan lebaran yang jamak di ketiga negara tersebut adalah: “Mohon Maaf Zahir Dan Batin” atau “Salam Aidil Fitri”. Ucapan ini hanya sedikit berbeda dengan Indonesia: Selamat Hari Lebaran Minal Iidzin wal Faidzin Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Adapun makanan khas lebaran di ketiga negara tetangga tersebut adalah ketupat, dodol dan lemang. Khusus lemang biasanya banyak di daerah Sumatera Barat dan kurang populer di Jawa apalagi di Indonesia bagian Timur. Untuk ketupat, seolah menjadi tradisi yang menyeluruh baik di Indonesia maupun di Malaysia, Singapura dan Brunai. Oleh karena itu, ketupat sampai hari ini masih mendominasi dan ditonjolkan sebagai ikon Idul Fitri di kawasan Islam Asia Tenggara.

Pada musim lebaran, laki-laki di ketiga negara tetangga mengenakan baju Melayu lengkap dengan peci, sementara para wanita mengenakan baju kurung. Setelah melaksanakan shalat Idul Fitri biasanya masih dalam busana lebaran beramai-ramai kunjungan ke kuburan orang tua kemudian membacakan Surat Yasin. Tradisi ke kuburan pada hari lebaran itu sangat menonjol di Malaysia setelah shalat Id, mereka berziarah ke makam kerabat, namun kurang populer di Singapura dan Brunai.

Setelah dari kuburan biasanya bersih-bersih kemudian berkumpul di rumah sesepuh, anak-anak akan memberikan hormat kepada orangtua. Orang yang sudah dewasa dan berpenghasilan memberikan uang kepada kerabat yang lebih muda. Tradisi ini merata di ketiga negara, bahkan termasuk di Indonesia.

Sementara itu di  keluarga Melayu di Singapura saat lebaran mengenakan baju baru dengan corak yang sama,  lelaki berkemeja longgar dengan celana panjang yang disebut 'Baju Melayu', sedangkan wanita mengenakan 'baju kurung', blus panjang berpotongan longgar. Biasanya terbuat dari sutra atau batik tulis, warna cerah, motif ramai, dan jahitan halus di sepanjang leher baju ini sungguh elok dan sedap dipandang sebagai kekhasan Melayu. Baju tradisional ini terus dipakai hingga seharian di hari lebaran. Saat itulah ke-Melayu-an seseorang dipertontonkan.

Usai shalat, umumnya yang muda menengok orang tuanya untuk sungkem,  memohon maaf pada kerabat yang lebih tua atas segala kesalahan yang dilakukan sepanjang tahun. Dari kediaman sesepuh itu dan hidangan rumahan telah menanti.

Hari Raya di Singapura biasanya tersedia berbagai hidangan mulai dari rendang sapi, sayur lodeh (sayuran yang dimasak dengan santan), dan sambal lengkap dengan nasi putih yang pulen dan ketupat.

Selain itu, ada beberapa tempat di Singapura yang menjadi destinasi yang ramai dikunjungi  pada malam lebaran, antara lain:

 

Geylang Serai Bazaar

Inilah jantung perayaan yang digelar sebulan sebelum Hari Raya Idul Fitri. Berbagai stan menawarkan beragam produk Melayu dan Timur Tengah - mulai dari kue, busana, permen, hingga pakaian. Seperti pasar kaget keramaiannya tiba-tiba melonjak. Para pedagang India dan Melayu banyak di pasar tradisional ini.

 

Kampong Glam

Terkenal sebagai kawasan Melayu di Singapura. Sejak awal Ramadhan suasana ritual buka puasa selama sangat terasa, terutaa Masjid Sultan Singapura. Di kawasan inilah, dengan Arab Street dan North Bridge Road sebagai jalan utamanya, budaya Melayu terbentang dan suasana lebaran makin menegaskan ini adalah kawasan Islam Melayu, India dan Arab menyatu.

Di Brunai, lebaran paling ramai tampak di masjid paling terkenal yaitu Masjid Jame’ Asr Hassanil Bolkiah di Kiarong. Di tempat ini pejabat-pejabat dari berbagai negara shalat Id dan masyarakat sekitar meramaikan. Masjid berlantai dua dan mampu menampung 5000 jamaah. Dari lantai 1 ke lantai 2 dihubungkan dengan escalator dan fasilitasny serba canggih dan modern. Bahkan kran air wudlu pun otomatis menggunakan sensor tubuh. Selebihnya pelaksanaan lebaran sama dengan tradisi Melayu di Singapura dan Malaysia atau sedikit menyerupai Indonesia. (mm/dbs).


Back to Top