Idul Fitri di Berbagai Negara (4)

Hari Raya Riang Gembira Bagi Semua di Asia Selatan

(gomuslim). Kebahagiaan yang memuncak dirasakan umat Islam di semua belahan dunia, baik tua, muda maupun anak-anak saat lebaran tiba. Namun umat Islam di India, Pakistan dan Bangladesh menyambutnya dengan riang tiada tanding. Ini nyaris menyerupai Indonesia dalam hal menyambut hari raya Idul Fitri dengan gegap gempita hingga rela mudik hingga bermacet-macet ria. Sesampai kampung bahkan masih rela menghabiskan malam dalam suasana pasar yang ramai padat pada malam lebaran hingga pagi dalam suasana penuh sesak. Namun di kawasan ini tidak ada takbir kelilng apalagi kupatan.

Di tiga negara di Asia Selatan yang awalnya merupakan satu wilayah India Raya ini sepekan sebelum lebaran juga diwarna moblitas penduduk antar kota yang luar biasa. Angkutan transportasi umum seperti bus dan kereta padat dipenuhi orang mudik, bahkan terasa ekstrim manusia berjejal-jejal di kereta. Namun tidak ada yang mengeluh atau protes karena lebaran adalah luapan kegembiraan ketika kembali ke kampung halaman setelah setahun bekerja di berbagai kawasan.

 

 

Sesampainya di kampung halaman, umat Islam di ketiga negara ini menghabiskan malam terakhir bulan Ramadhan atau ‘Chand Raat’ di pasar-pasar. Mall dan pasar ‘hidup’ sepanjang malam penuh sesak orang belanja. Saat itu dimaknai sebagai ekspresi kemengan sebelum Idul Fitri tiba. Penduduk memenuhi pusat-pusat pembelanjaan untuk membeli pakaian terbaru dan makanan terlezat.

Pada saat lebaran, muslim India memakai pakaian Tradisional Shalwar Kameez berwarna putih. Biasanya perempuan memakai baju berwarna berwarna-warni. Namun para pemudi di India modern mulai memadukan antara gaya berpakaian tradisi dan fashion syar’i. Hal ini mulai marak dikenakan dalam lebaran sepuluh tahun terakhir.

Di antara kebiasaan lain di kawasan ini yang sangat populer adalah tradisi pada hari lebaran para wanita ketiga negara itu mengecat tangan mereka dengan henna (inai) dan mengenakan pakaian warna-warni. Henna adalah nama tumbuhan tertua yang digunakan sebagai kosmetik. Sangat aman digunakan. Jarang sekali menimbulkan masalah. Tumbuhan henna bisa mencapai ketinggian 4 sampai 6 kaki dan dapat ditemukan di negara-negara seperti Pakistan, India, Afganistan, Mesir, Suriah, Yaman, Uganda, Maroko, Senegal, Tanzania, Kenya, Iran dan Palestina. Henna tumbuh cukup baik di iklim panas.

Tidak seperti di Asia Tenggara yang menyampaikan ucapan lebaran dan saling memafkan, ucapan yang paling populer pada saat lebaran adalah “Eid Mubarak” atau Selamat Hari Raya Yang Membawa Berkah. Suara bersahut-sahutan Eid Mubarak terjadi di mana-mana, setiap berpapasan kata itu yang diucapkan. Pada saat lebaran tersebut, yang merasa telah bekerja atau menjadi orang tua biasanya memberikan eidi (uang atau angpao) kepada anak-anak kerabat atau cucunya.

Usai shalat, persis seperti di Asia Tenggara, tradisi makan-makan bersama keluarga dan kolega juga berlaku di kawasan Asia Selatan. Usai Shalat Id yang disebut Eidgah, mereka berkumpul dengan sesama anggota keluarga dan kerabat sambil makan-makan. Makanan yang paling banyak tersedia pada saat lebaran bukan kupat atau rendang tetapi ‘sivayyan’ berupa mie vermicelli, yakni campuran bihun manis dengan buah kering dan susu. Siwaiyaan hadir dalam beragam bentuk dan warna.

Shalat biasanya dilakukan di masjid dan lapangan. Masjid paling ramai dikunjungi umat Islam di India adalah Masjid Jama (Jami atau Jamek) di kawasan Old Delh. Masjid ini mampu menampung hingga 25.000 jamaah. Dibangun selama 6 tahun dari tahun 1650 hingga 1656 oleh Raja Shahjahan dari Kerajaan Mughal yang juga membangun Taj Mahal dan Benteng Merah (Red Fort), masjid ini memiliki 3 gerbang, 4 menara, dan 2 minaret  atau mena setinggi 40 m yang terbuat dari batu merah dan marmer putih. Pada saat lebaran masjid ini termasuk paling ramai dikunjungi umat.

Di Pakistan lebaran dirayakan tidak jauh berbeda dengan di India. Yang paling menonjol adalah antusiasme masyarakat dan pemerintah Pakistan terhadap hari raya Idul Fitri dengan pemberlakuan hari libur nasional Idul Fitri sejak tanggal 27 Ramadhan  hingga 3 Syawal.

Pada1 Syawal atau bahasa Urdu malam hari raya  'Chand Raat' (moon night, seperti di India, umat Islam Pakistan juga berbondong-bondong memadati pasar-pasar; berbelanja berbagai macam kebutuhan untuk hari H dan dua hari setelahnya. Salah satu pasar yang menjadi tempat perbelanjaan adalah pasar Jinnah, pasar terbesar di Islamabad.

 

Pada malam tersebut kebanyakan muslim tidak tidur sampai pagi menjelang, para wanitanya juga sibuk menghias tangannya dengan hienna seperti wanita India. Di pagi hari umat Islam beramai-ramai menuju masjid-masjid atau lapangan-lapangan untuk menunaikan shalat Idul Fitri berjamaah.

Mengikuti sunnah Nabi untuk makan sebelum berangkat Shalat Id, dari rumah sudah menyantap ‘kheer’ dan ‘sawwian’ kemudian setelah shalat kembali berkumpul bersama keluarga dan sanak saudara untuk bersantap makan siang bersama.

Demikian juga persis berlaku di Bangladesh. Yang berbeda dari Indonesia dibanding ketiga negara tersebut adalah tradisi saling kunjung yang tidak banyak ditemui di kawasan lain Asia Selatan. Dari berbagai sudut, Indonesia memang berbeda, lebih terasa kekeluargaannya, namun lebaran menghadirkan suasana batin yang seragam, riang gembira bagi semua usia di hari kemenangan untuk semua umat. (mm/bbs)


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top