Idul Fitri di Berbagai Negara (5)

Lebaran Arab dan Turki Didominasi Manisan Sebagai Simbol Kebahagiaan

(gomuslim). Disandingkan dengan kebiasaan berlebaran atau merayakan Idul Fitri di Indonesia, tradisi di Arab Saudi memang berbeda. Di Arab Saudi tidak mengenal tabuh ‘beduk’ dan tidak ada parade takbir kelilng, juga tidak ada kebiasaan nyekar seperti di tanah air.

Dalam hal makanan juga sangat berbeda.  Di Indonesia menu utama adalah ketupat dan daging sapi atau ayam. Sementara di keluarga Arab, justru lebih banyak didominasi makanan manis seperti cokelat, permen dan sejenisnya yang diartikan sebagai lambang kebahagiaan di hari kemenangan. Juga tidak pernah ketinggalan disajikan kopi  Arab berwarna hijau kekuningan. Ada juga ‘kunafa’ atau sejenis mie kering yang ditimpa dengan susu kental dan pasti juga disajkan kurma terbaik pada hari raya.

 



Seperti dikutip Arab News, belum lama ini, tradisi lebaran di Saudi memang tidak semeriah di Asia. Biasanya setelah shalat Idul Fitri umat Islam Nusantara saling mengunjungi sanak keluarga dan tetangga bahkan keliling kampung untuk bersilaturahmi. Sementara di Arab Saudi sebaliknya, setelah dari masjid atau lapangan menunaikan shalat, suasana hari pertama lebaran langsung sepi sesepi-sepinya. Selesai shalat orang Arab langsung kembali ke rumah masing-masing dan baru bertaktivitas pada malam hari untuk mengunjungi keluarga terdekat.

Selama pekan silaturahmi lebaran, semua pintu rumah biasanya sengaja tak dikunci untuk memudahkan kerabat, tetangga atau keluarga yang hendak bertandang. Mereka juga menyiapkan satu meja lengkap dengan kertas dan pena di dekat pintu untuk menyambut tamu yang tak bisa bertemu tuan rumah. Jika saat berkunjung tak ada orang di dalam rumah, mereka akan menaruh bingkisan seperti sekotak permen, kue, atau satu set parfum di atas meja yang telah disiapkan. Lalu mencatat pesan Idul Fitri di kertas yang telah disediakan.

Pada hari ketiga biasanya ada kegiatan ‘outing’ atau ‘gathering’ bersama keluarga ke destinasi wisatasa dalam negeri seperti daerah Thaif yang rindang dan daerah pantai atau chornice dan lainnya.

Yang mirip dengan Indonesia, di Arab juga ada tradisi bagi-bagi ‘angpau’ dari yang sudah bekerja atau yang lebih tua kepada anak-anak.  Ini dinamakan dengan ‘eidiyah’. Eidiyah tersebut bisa berupa mainan atau uang. Menurut salah satu penduduk Arab Saudi, Eidiyah itu dilakukan dengan memberi anak-anak mainan atau uang sebagai ucapan terima kasih karena sudah puasa selama Ramadhan, dan mendorong mereka agar mau puasa lagi tahun depan dan di masa datang

Orang-orang Arab juga menyambut lebaran dengan mendekorasi rumahnya agar terlihat meriah dan menarik. ini juga terjadi di Sudan, Suriah, dan beberapa negara Timur Tengah lainnya.

Hal ini sedikit berbeda dengan lebaran di Turki yang dikenal dengan istilah Seker Bayram atau Festival Gula. Di negeri Erdogan ini ucapan khas lebaran adalah Bayraminiz Kutlu Olsun atau Bayraminiz Mübarek Olsun (Semoga bayram-mu menjadi berkah). Perayaan besar ditandai dengan silaturahim, mengenakan baju baru dan kegiatan nyekar lebih semarak selama tiga hari berturut-turut.

 

Di Turki juga ada tradisi sungkeman kepada orang tua dengan mencium tangan kanannya lalu kemudian dipegangkan di dahi anaknya sambil mengucap doa lebaran. Setelah itu, anak-anak mendapatkan hadiah berupa koin uang, permen, atau manisan bagi anak-anak yang ikut bergembira selama lebaran tiba.

Demikianlah kemeriahan di hari lebaran, hari kemenangan umat Islam setelah sebulan menunaikan ibadah puasa dan amalan ibadah lainnya. (mm/bbs)


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top