Haji Tempo Doeloe (1)

Menelisik Orang Nusantara Yang Mula-Mula Menunaikan Ibadah Haji

(gomuslim). Hingga hari ini belum ada data ilmiah yang menjelaskan, siapakah sosok yang pertama kali menunaikan ibadah haji dari tanah air ke tanah suci. Sejak kapan ada kafilah haji dari bumi Nusantara ke tanah suci Mekkah? Apakah 1000 tahun lalu, ketika Islam bergerak dari Samudera Pasai, atau ketika masyarakat Islam membentuk pemerintahan di Jawa pada abad XIV Masehi? Orang-orang Aceh sejak awal kedatangan Islam dikenal sudah hilir mudik ke Mekkah, sejak kapankah kejadian itu?

Tidak ada data ilmiah yang menjelaskan, namun dari foklor dan catatan babad, yang bagi kalangan tertentu belum dapat dijadikan rujukan ilmiah, kisah perjalanan haji itu mulai bertebaran di bumi Nusantara pada abad XI, XII dan XIII. Penelitian tentang perjalanan haji Nusantara menemukan catatan perjalanan sejumlah tokoh di abad-abad tersebut dan baru secara pada masa kolonial ditemukan catatan lebih otentik sebagai rujukan akademis.

Meski tidak ada data pembanding, namun di Jawa Barat, beredar kisah haji pertama dari tanah Sunda, yaitu Haji Purwa atau Bratalegawa putra kedua Prabu Guru Pangandiparamarta Jayadewabrata atau Sang Bunisora, penguasa kerajaan Galuh (1357-1371). Ia adalah adik Prabu Maharaja (1350-1357) yang gugur dalam perang Bubat di Mojokerto Jawa Timur. Kisah-kisah perjalanan haji di tatar Sunda ini mengalir hingga hari ini sebagai cerita rakyat di mushala dan masjid-masjid kampung. Sebagian besa kisah tidak dimaksudkan sebagai penceritaan sejarah belakal, namun umumnya untuk 'targhib' atau membangun semangat beragama bagi anak-anak.

 

Selain Carita Parahyangan, ada naskah kuno yang mengisahkan orang-orang zaman dulu yang berhasil menunaikan ibadah haji antara lain Carita Purwaka Caruban Nagari dan naskah-naskah tradisi Cirebon seperti Wawacan Sunan Gunung Jati, Wawacan Walangsungsang, dan Babad Cirebon. Dalam naskah-naskah tersebut disebutkan tokoh lain yang pernah menunaikan ibadah haji yaitu Raden Walangsungsang bersama adiknya Rarasantang. Keduanya adalah putra Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran, dan pernah berguru agama Islam kepada Syekh Datuk Kahpi selama tiga tahun di Gunung Amparan Jati Cirebon.

Kisah lain perjalanan haji datang dari Banten. Menurut naskah Sajarah Banten, diceritakan suatu ketika Sultan Banten berniat mengirimkan utusannya kepada Sultan Mekkah. Utusan itu dipimpin oleh Lebe Panji, Tisnajaya, dan Wangsaraja. Perjalanan haji saat itu harus dilakukan dengan perahu layar yang sangat bergantung pada musim. Biasanya para haji yang menjadi seorang musafir itu menumpang pada kapal dagang sehingga terpaksa sering pindah kapal.


Perjalanan itu membawa mereka melalui berbagai pelabuhan di Nusantara. Dari tanah Jawa terlebih dahulu harus menuju Aceh atau serambi Mekkah,pelabuhan terakhir di Nusantara yang menuju Mekkah.  Dari Aceh para calon Jemaah haji yang masih berifat personal dalam rombongan kecil itu menunggu kapal ke Colombo-Srilanka, Calcutta-India untuk ke Hadramaut, Yaman, langsung ke Jeddah.

Kisah perjalanan haji lebih jelas dapat ditemui ketika Islam di tanah air tidak hanya berupa komunitas-komunitas di padepokan atau pondokan seperti Ampeldenta, tetapi sudah membentuk pemerintahan. Pada zaman kesultanan Islam, ketika belum ditemukan teknologi kapal api, jemaah haji dari Nusantara mengarungi samudera ke Mekkah dengan kapal layar yang memakan waktu tempuh hingga enam bulan. Sejak itulah setiap tahun ada kafilah dari Kesultanan berangkat ke tanah suci Mekkah. Dari penjuru Nusantara lain juga mulai bergerak rombongan-rombongan kafilah haji dari kalangan 'tertentu' dan 'terbatas'. Haji saat itu bukan konsumsi publik seperti sekarang, sebab yang harus disiapkan sungguh sangat banyak dan berat memenuhinya.

Yang harus disiapkan calon jemaah haji ketika itu sungguh luar biasa. Selain bekal biaya juga harus menyiapkan mental kuat. Kafilah juga menghadapi bajak laut dan perompak di sepanjang perjalanan,  belum lagi ancaman alam berupa badai dan penyakit. Tak jarang jemaah haji kehabisan bekal atau meninggal terkena penyakit sebelum sampai di tanah suci. Tidak sedikit yang kemudian mendarat untuk bekerja kemudian meneruskan perjalanan, ada juga yang menetap di negara tersebut dan tidak kembali ke Nusantara.

Orang-orang Nusantara yang berangkat haji kala itu dilepas seolah melepas keluarga yang tidak akan kembali lagi. Ada yang 'ditalqin' seolah sudah disiapkan untuk wafat di mana saja dan kapan saja. Banyak juga yang akhirnya tinggal di negara-negara tempat persinggahan kapal seperti Singapura, Colombo, Calcutta di India hingga Jibuti dan Yaman akibat kehabisan bekal. Sebagian mereka tinggal dan beranak pinak di negara tersebut. Namun dari sedikit yang kembali lagi ke bumi Nusantara itu kemudian diperlakukan luar biasa. Dianggap ‘jimat’ berjalan sebagai pusakanya masyarakat setempat. Doanya diyakini makbul dan benar sebagian besar sekembalinya dari tanah suci langsung menjadi ‘orang pintar’. Itulah haji tempo doeloe. (bersambung)


Back to Top