Haji Tempo Doeloe (2)

Jadi Pusat Kobaran Api Nasionalisme, Akhirnya ke Mekkah Tidak Hanya Berhaji

(gomuslim). Fase berikutnya dalam sejarah perjalanan haji Nusantara adalah ketika moda transportasi dengan kapal layar makin besar dan kokoh sehingga daya tampung makin banyak dan perjalanan makin jauh.  Perjalanan haji ke tanah suci akhirnya berangsur-angsur mulai bertambah banyak. Umumnya terdiri dari serombongan kecil terdiri dari tujuh sampai 10 jemaah, rombongan menengah hingga 30 jemaah dan rombongan besar sampai puluhan Jemaah. Hal itu berlangsung dari Abad ke-15 -17, namun saat itu perjalanan haji belum terorganisasi dengan baik karena dilakukan secara individu dan kelompok.

Meski tidak meninggalkan catatan resmi, namun dapat diperkiran Jemaah yang berangkat haji abad ke-16 makin bertambah, terutama karena mulai terjadi kontak bisnis pedagang muslim pribumi yang berdagang ke kawasan Arab. Mereka mendatangi beberapa pelabuhan di Arab Saudi, seperti Aden, dan Hormuz. Sebagian besar pedanga muslim dari tanah air meluangkan waktunya untuk melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci.  Saudagar asal Eropa, Louis Berthema mengaku melihat jemaah haji asal Nusantara di Mekkah tahun 1503, sebagaimana tercatat dalam buku Historiografi Haji Indonesia karya M. Shaleh Putuhena (LKiS, 2007).

 

 

Dalam buku tersebut, Shaleh Putuhena menulis, sejak abad ke-16 M sudah banyak umat Islam Nusantara yang menunaikan ibadah haji. Begitu juga pada abad-abad berikutnya, makin banyak yang pergi haji kendati melalui perjuangan yang sangat berat. Pada tahun 1674, seorang tokoh Nusantara, Sultan Abdul Kohar dari Banten juga melakukan perjalanan ke Tanah Suci untuk berhaji dengan menumpang kapal laut.  Ia bergerak dari satu negara ke negara lain, hingga untuk kembali ke tanah air lagi memerlukan waktu selama dua tahun.

Catatan lain menyebut, pada abad ke-16 itu telah banyak orang Nusantara yang berkunjung ke Hijjaz (Mekkah-Madinah) dengan maksud untuk belajar. Hal ini dikarenakan telah berkembangnya pusat-pusat studi Islam dan perdagangan dalam pemerintahan (kesultanan) yang juga digunakan sebagai tempat pemberangkatan jemaah haji (embarkasi). Terlebih saat itu banyak dijumpai kapal niaga milik orang-orang Arab, Persia, Turki, dan India yang beroperasi di Nusantara.

 

 

Tidak lama setelah itu kapal niaga Nusantara juga mulai mengambil alih dan menggantikan kapal niaga asing. Kesultanan-kesultanan Nusantara telah memiliki armada perdagangan internasional sendiri. Ketika itu Jawa, terutama Jepara telah memiliki industri kapal niaga yang memproduksi kapal yang besar. Kapal- kapal itu melayari jalur perdagangan Samudra Hindia tidak langsung sampai ke jazirah Arab. Perjalanan membawa mereka melalui berbagai pelabuhan hingga ke Aceh, pelabuhan terakhir di Nusantara dan oleh karena itu sebut 'serambi Makkah', lalu menuju India. Di India mereka kemudian mencari kapal yang bisa membawa ke Hadramaut, Yaman atau langsung ke Jeddah.

Sampai pada pertengahan abad ke-17 tidak terjadi peningkatan yang berarti dari penduduk Nusantara yang menunaikan ibadah haji. Penyebabnya adalah terhentinya pelayaran armada perdagangan dari Nusantara pada jalur Samudra Hindia menuju Laut Merah. Saat itu, Belanda sedang menguasai perdagangan dan pelayaran di Nusantara setelah menyingkirkan pesaingnya, yaitu Portugis dan Spanyol. Hal ini berdampak pada melemahnya pusat-pusat pemerintahan, perdagangan, dan studi Islam yang berkembang pesat dari abad ke-13 sampai dengan akhir abad ke-17.

Pada abad ke-18 kapal dagang asing dikuasai bangsa Eropa yang mulai menancapkan kuku-kuku penjajahan di tanah air. Kondisi pelayaran yang demikian disertai dengan larangan bagi kapal Belanda untuk mengangkut jemaah haji sesuai ‘bessluit van Agustus 1716’ sehingga menimbulkan masalah bagi mereka yang bermaksud melaksanakan ibadah haji. Untuk mengatasi masalah tersebut para jemaah haji pada abad ke-18 secara sembunyi-sembunyi berusaha untuk berangkat dengan kapal niaga dari satu pelabuhan ke pelabuhan seperti abad sebelumnya.

Pada periode tersebut mulai banyak meninggalkan catatan sejarah karena itu sebagian besar karya-karya akademik atau karya penelitian lain tentang haji sering dimulai pada masa kolonial, ketika pencatatan perjalanan mulai dilakukan mulai dari dari kantor residen, pelabuhan, manifest kapal hingga di Konsul Jendral Hindia Belanda di Jeddah. Salah satu karya terbaik di penggalan fase ini adalah penelitian Dr Dien Majid, “Berhaji di Masa Kolonial”,  (2008).

 

 

Pada abad ke-18-19 moda transportasi kapal api modern makin dominan dan pada saat bersamaan juga mulai ada upaya institusionalisasi penyelenggara perjalanan haji. Saat itu, kebanyakaan jemaah haji yang berangkat adalah kaum santri yang berhaji sekaligus untuk mencari ilmu, meski sekelompok pejabat kesultanan maupun birokrat daerah, serta para pedagang kaya juga makin banyak berangkat haji.  Mekkah dan Madinah sebagai pusat perkembangan ilmu agama membuat jemaah haji memanfaatkan betul eksempatan itu untuk menguatkan iman dan menambah pengetahuan agama mereka. Syaikh Ahmad Qusyairi bin Siddiq dari Pasuruan, Jawa Timur, misalnya, menyempatkan menghafal Al-Quran 30 juz selama di Mekkah dan menulis beberapa kitab dalam bahasa Arab.

Abad ke-18 dan ke-19, jumlah jemaah haji Indonesia yang bermukim makin banyak sehingga dapat membentuk komunitas muslim Nusantara secara solid. Saat itulah mulai tercipta sebuah spirit nasionalisme kebangsaan. Hal itu terkait mulai banyaknya usaha memerdekakan tanah air dari penjajahan Belanda yang dipimpin sejumlah haji. Dari Perlawanan Teuku Imam Bonjol, Pangeran Deponegoro, Perang Aceh dan letupan pemberontakan lain yang melibatkan para haji. Berhaji  kemudian dicurigai sebagai bagian dari penggemblengan semangat kebangsaan. Lalu Belanda menerbitkan sejumlah aturan memperketat perjalanan haji.

Saat itu, komunitas orang-orang Nusantara sudah banyak di Mekkah, Madinah, Jeddah, bahkan juga di Hadramaut Yaman. Memasuki abad ke-19 dan ke-20, orang-orang Nusantara berangkat haji tidak sekedar berhaji saja, tetapi menyiapkan diri juga untuk belajar. Generasi baru ini meyakini, untuk membebaskan diri dari penjajahan tidak hanya denga perlawanan fisik, tetapi juga harus melalui pencerahan penduduk. Oleh karena itu, mereka belajar kemudian mengajar. Para haji yang belajar ini kemudian menjadi tokoh-tokoh penting di Nusantara yang tidak saja mencerdaskan anak bangsa tetapi juga mengobarkan semangat api nasionalisme kemerdekaan tanah air.

Mereka belajar, lalu mengajar hingga rakyat tercerahkan dan menyadari haknya sebagai bangsa yang harus merdeka. Jejak-jejak perjuangan para haji terpelajar itu masih dapat kita rasakan hingga hari ini, seperti KH Ahmad Dahlan yang mendirikan Muhammadiyah dan KH Muhammad Hasyim Asyari melahirkan NU. Dua haji dan santri ini adalah saudara seperguruan baik ketika masih di tanah air (Pesantren Langitan, Tuban Jawa Timur) maupun saat di Mekkah dan peninggalan keduanya makin berkembang hingga hari ini, mencetak generasi pengisi kemerdekaan. (bersambung)


Back to Top