Haji Tempo Doeloe (5)

Menyingkap Praktik Calo Haji dari Masa ke Masa

(gomuslim). Sejak usaha jasa pemberangkatan haji bermunculan, saat itu juga lahir calo-calo haji dari hilir sampai hulu, dari yang resmi pegawai negara sampai yang kaki lima.  Mereka muncul mulai dari proses pendaftaran, pemberangkatan hingga pelaksanaan. Diantara catatan tentang calo haji diulas secara mendalam oleh Dr Dien Majid, dalam buku ‘Berhaji di Masa Kolonial’ (2008).

Dien yang melakukan penelitian tentang perjalanan haji untuk karya disertasi itu menemukan catatan-catatan menarik, seperti laporan Residen Cirebon tanggal 10 Juli 1893 yang kutipannya sebagai berikut:

“Saat membeli tiket, Adiningrat - sang Residen, dilayani oleh W.H. Herklots, adik J.G.M. Herklots. Adiningrat musti membayar f.150 plus premi f. 7,50 per kepala; lebih mahal dari tarif pemerintah sebesar f.110. Padahal di reklamenya, Herklots menawarkan harga lebih murah: “Harga menoempang f.95 satoe orang troes sampai di Djeddah dan anak-anak oemoer dibawah 10 taoen baijar separo harga, anak yang menetek tidak baijar.”

 

 

Sialnya lagi, menjelang tanggal keberangkatan haji, W.H. Herklots kabur duluan dari Cirebon dan dia berangkat ke Jedah menggunakan kapal De Taroba. J.G.M. Herklots dan teman Arabnya,  Abdul Karim “Penunggu Kabah”, juga menipu pihak berwenang Mekkah dan memanfaatkan mereka untuk menjaring jemaah haji yang hendak pulang ke Hindia Belanda (Indonesia). Herklots memakai identitas palsu untuk bisa masuk Mekkah, yakni Haji Abdul Hamid, pribumi Hindia Belanda beragama Islam. Identitas baru ini perlu karena orang-orang non-Muslim tak diperkenankan masuk kota suci Mekkah.

Herklots menggunakan identitas palsu ini untuk mengajukan pinjaman pada Syarif Mekkah. Syarif Mekkah bersedia memberi pinjaman f.150.000 dengan dua catatan. Pertama, di kantor Herklots ditempatkan dua jurutulis Syarif Mekkah, yang bertugas mengawasi kegiatan kongsi, terutama jumlah jemaah. Setiap sore mereka mengambil keuntungan sesuai perjanjian yang disepakati. Kedua, di pihak lain, para Syaikh kepercayaan Syarif Mekkah membantu Herklots mencari jemaah yang telah selesai menunaikan ibadah haji untuk pulang ke tanah air. Dengan kesepakatan ini Herklots mendapat perlindungan.

Dengan bantuan para Syaikh, dia bisa leluasa menjaring para jemaah yang hendak pulang sementara agen-agen haji lain susah-payah mendapatkannya. Di Mekkah, para “Haji Jawa”, sebutan untuk jemaah haji dari negeri ‘Hindia Belanda’, dipaksa naik kapal api dari agen Herklots. Supaya tak pindah ke kapal lain, mereka diwajibkan membayar tiket sejak di Mekkah.

Jemaah haji yang telah membayar mahal ini dibuat terlantar saat menunggu tanpa kepastian kapan kapal carteran Herklots dari Batavia datang. Mereka menunggu di tenda-tenda di lapangan terbuka tanpa fasilitas memadai. Para jemaah, yang kehabisan duit itu, mengadukan perlakuan buruk Herklot pada konsulat Belanda di Jedah dan bikin konsulat Belanda geram. Mereka memaksa Herklots mengembalikan uang tiket tanpa harus menunggu kapal carteran. Herklots bersedia mengembalikan separo dari harga tiket, 31 ringgit. Selain keluhan keterlambatan dan penelantaran, banyak jemaah haji mengeluhkan fasilitas kapal pengangkut jemaah.”

Majid menulis, kapal Samoa yang dipakai Herklots tak dirancang sebagai kapal penumpang. Akibatnya, dek atas dan bawah penuh penumpang dengan ventilasi yang buruk. Banyak penumpang jatuh sakit. Majid juga mengutip kesaksian Sin Tang King, gelar raja muda Padang yang berganti nama menjadi Haji Musa, salah seorang penumpang kapal:

“Sampai di Djeddah saja liat ada banjak kapal tetapi tiada kapal boleh kami naik di lain kapal hanja misti masok kapal Samoa, dan kapal lain sewanya tjoema 15 ringgit ada djoega jang 10 ringgit djikaloe orang maoe naik di lain kapal oewang jang telah dibajar di Mekkah itoe ilang sadja. Satoe doewa orang jang ada oewang dia tiada perdoeli ilang oewangnja 37 ringgit itoe dia sewa lain kapal, sebab di kapal Samoa tiada bisa tidoer dan tiada boleh sambahjang karena semoewa orang ada 3.300 (sepandjang chabar orang) djadi bersoesoen sadja kami jang tiada oewang boewat sewa lain kapal...”.

 

 

Kapal Samoa berangkat menuju Batavia pada 7 Agustus 1893 dan transit semalam di Aden. Setelah berlayar dua hari dari Aden, menurut kesaksian Si Tang Kin, tepat hari Selasa sekira pukul 17.00 Samoa dihajar badai dahsyat. Kapten kapal tak memberi tahu akan datangnya badai sehingga pintu terbuka dan orang-orang di kapal riuh, berhimpit-himpitan dengan peti, hingga ada yang kepalanya pecah, putus kakinya, atau terhempas ke laut. Dalam satu malam, seratusan orang tewas. Mereka dibuang begitu saja ke laut tanpa disembahyangkan atau dikafani.

Memilukan sekali nasib para haji kita pada masa itu akibat monopoli yang dilindungi. Para calon Jemaah haji sudah diperas sejak keberangkatan, tidak terlayani dengan baik selama perjalanan berangkat, hendak kembali ke tanah air pun masih harus masuk dalam jeratan para calo bisnis perjalanan haji yang semena-mena. Perjalanan haji memang bagai gula manis yang mengundang semut dari generasi ke generasi, namun hanya yang berniat bersih saja yang akan dapat ‘gizi’ atau pahala. Semua yang terlibat bisa kenyang, tetapi ada yang justru menjadi penyakit dan ada juga yang menjadikan sebab kuat dan sehat, dan tidak disangka calo-calo haji itu gentayangan hingga di saat ini, di musim haji 2016 yang baru saja berakhir. (bersambung)


Back to Top