Pesona Gunung Sumbing, Tetap Ibadah Meski Berada di Atas Lembah

gomuslim.co.id- Pesona Jawa Tengah memang tiada duanya. Keindahan alam serta ragam wisatanya bisa membuat siapa saja terpesona. Panorama sunrise dari gunung-gunung yang gagah berdiri elok dipandang mata. Lengkap dengan hamparan perkebunan yang luas dan terjaga.

Kali ini, saya akan berbagi pengalaman tentang perjalanan mendaki gunung Sumbing di kabupaten Wonosobo pada 2015 lalu. Bersama dua teman saya, Ahmad dan Febri, awalnya kami hendak mendaki gunung Lawu yang berada diantara kabupaten Karanganyar dan Magetan. Namun karena saat itu sedang marak terjadi kebakaran di gunung, niat tersebut terpaksa kami urungkan.

Sedikit kekecewaan tentu ada, karena saat berangkat dari stasiun Pasar Senen Jakarta, belum ada kabar tentang gunung Lawu ditutup akibat kebakaran. Kami baru mendapat kabar di berita-berita online, saat kereta hampir sampai di stasiun Poncol, Semarang. Di stasiun tersebut, kami berembuk tentang rencana kedua. Akhirnya, kami sepakat untuk pergi ke gunung Sumbing dan Sindoro.

Dari stasiun Poncol, kami lantas naik bus menuju terminal Bawen, Semarang. Setelah itu dilanjut naik bus arah Wonosobo. Lokasi kedua gunung ini (Sindoro dan Sumbing) tidak jauh dari perbatasan kabupaten Temanggung dan Wonosobo. Untuk menuju gunung Sindoro, kami cukup pesan kepada kondektur untuk diturunkan di Kledung dekat Basecamp.

Sesampainya di bascamp Kledung, ternyata gunung Sindoro pun ditutup. Alasannya sama dengan gunung Lawu, ditutup sementara akibat kebakaran. Disana, kami juga bertemu dengan rombongan pendaki lainnya yang hendak mendaki gunung Sindoro. Pilihan selanjutnya tentu gunung Sumbing yang lokasinya cukup dekat. Beruntung saat itu rombongan pendaki tadi membawa kendaraan. Kami pun ikut nebeng sampai ke lokasi basecamp Garung, gunung Sumbing.

Pukul 2 siang kami sampai di basecamp. Waktu shalat dzuhur masih ada dan saya pun segera menuju masjid terdekat. Selesai shalat, kami persiapan total untuk mendaki. Air, beras, makanan, baju, tenda, dan lainya dicek satu per satu. Takutnya ada yang belum tersedia atau barang tertinggal. Apalagi di gunung Sumbing ini, mata air hanya ada di dekat pos satu. Itu pun harus berjalan keatas 100 meter.

Selesai shalat Ashar kami pun sudah siap. Supaya lebih cepat, kami pesan ojek dari basecamp sampai pos satu. Ongkosnya Rp25ribu per orang. Ojek disini berbeda dari yang lainnya. Jika biasanya penumpang duduk di belakang, di ojek ini justru penumpang duduk di depan. Abang ojeknya di belakang sambil menggendong tas keril yang besar.

Dari pos 1 Malim inilah kami memulai pendakian. Jalan kaki menggendong tas besar dengan isi air persediaan dan bekal secukupnya. Alhamdulillah saat itu tidak berkabut. Jadi kami bisa melihat dengan jelas keindahan pemandangan gunung Sindoro dan sekitarnya. Seperti pada umumnya pendaki, kami berjalan santai tapi pasti. Tidak buru-buru. Saat capek, rehat sejenak untuk minum air atau membuka makanan kecil. Oh ya, saat mendaki sangat diwajibkan memakai sepatu.

Waktu berlalu dan kami pun tetap menikmati perjalanan ini. Menjelang maghrib, kami baru sampai di pos dua. Di pos inilah kami rehat lagi dan menunggu adzan berkumandang. Sampai disini suara adzan dari bawah masih terdengar. Disini pula kami melaksanakan shalat karena lokasinya yang cukup landai.

Peralatan shalat pun kami keluarkan seperti matras untuk alas dan sarung. Untuk mengetahui arah kiblat, kami mengeluarkan kompas. Namun karena disini tidak ada mata air, kami pun mengganti wudhu dengan tayamum. Ini karena perbekalan air hanya untuk minum dan masak nasi saja selama pendakian.

Saat hendak tayamum, saya cari lokasi tanah yang halus dan bersih. Kebetulan saat itu musim kemarau, jadi tanah-tanah kering dan berdebu. Cara tayamum sangat mudah. Pertama, niat dan berdoa untuk melakukan tayamum. Kedua, cari tanah dengan debu yang halus, bersih dan suci. Tempelkan kedua telapak tangan ke tanah bersih, lalu tiup dan usap punggung kedua telapak tangan. Tangan kanan diusap tangan kiri, dan sebaliknya. Kemudian usap wajah. Keduanya cukup dengan sekali usapan.

Selesai tayamum, disekitar pos dua kami pasang matras dan diarahkan ke kiblat. Kami shalat maghrib seperti biasa. Kami shalat maghrib berjamaah. Hal ini karena pas waktu maghrib kami menemukan lokasi yang cukup landai. Biasanya, kalau sedang trekking dan penuh tanjakan, shalatnya dilakukan setelah sampai di pos atau lokasi yang cukup datar sehingga dapat melaksanakan shalat dan dijamak (khusus shalat dzuhur dan asar, serta shalat maghrib dan isya saja).

Kami melanjutkan perjalanan setelah itu. Sampai di pos tiga pukul setengah 10. Kami pun istirahat dan mendirikan tenda di pos ini. Di tempat inilah kami menunggu fajar tiba. Di tempat ini pula, rombongan pendaki lain turut mendirikan tenda. Lokasi yang sedikit miring dan ada beberapa pohon menjadi lokasi strategis bagi para pendaki untuk ngecamp. Disini pula kegiatan memasak mie dan menyeduh kopi atau jahe panas kami lakukan.

Fajar pun tiba. Waktu subuh menjelang. Kami bangun dan seperti biasa, tayamum dan shalat subuh di samping tenda. Setelah itu, kami lanjutkan perjalanan menuju puncak. Dalam perjalanan, tampak matahari terbit begitu indah. Sayangnya kami tak menyaksikan sunrise ini di puncak pas.

Pukul 10 pagi kami baru sampai di puncak. Berangkat dari pos tiga pukul 5 pagi. Artinya, dari bascamp Garung butuh 9 jam untuk sampai ke puncak gunung Sumbing. Di puncak, tak lupa saya lakukan sujud syukur. Sujud mengakui kebesaran Sang Pencipta Alam. Disana saya merasa begitu kecil dan sadar betapa luas bumi yang Allah hamparkan.

Mendaki satu gunung saja terasa lelahnya. Belum lagi gunung-gunung lain di muka bumi yang jumlahnya ribuan bahkan mungkin lebih. Di sinilah proses perenungan akan alam semesta. Betapa manusia itu kecil, sangat kecil dibandingkan dengan ciptaan lainnya. Tidak pantas rasanya sedikit pun untuk bersikap sombong. Disisi lain, alam inilah yang seharusnya manusia jaga, bukan merusaknya.

Setelah satu jam di puncak, kami memutuskan untuk turun dan kembali ke pos tiga. Disana kami istirahat, shalat dan memasak untuk makan siang. Karena hari sudah semakin sore, kami akhirnya kembali tidur di tenda dan rencana turun ditunda sampai esok paginya. Baru keesokan harinya kami turun ke bascamp dan kembali ke rumah masing-masing. (njs)

   


Back to Top