Dari Kediri Sampai Bali, Begini Pengalaman Seru Solo Traveling Ala Hijaber

gomuslim.co.id- Musim panas di bulan Februari 2016 saya memulai liburan panjang. Solo traveling kembali saya pilih, ya! menjadi solo traveler woman atau wanita yang bepergian sendiri adalah hobi saya sejak kuliah. Walaupun sebenarnya wanita tidak diperbolehkan bepergian seorang diri, namun saya mencoba untuk memecahkan stigma itu, dan menantang diri menjadi wanita pemberani.

Selesai Wisuda Saatnya Berpetualang

Selesai wisuda petualangan kembali dimulai, daftar kunjungan (bucket list) tempat wisata sudah saya buat. Budgget pun demikian, tabungan saya cicil sejak masa-masa tugas akhir. Segala tek-tek bengek peralatan juga sudah siap untuk menemani perjalanan satu bulan. Dan yang terpenting adalah izin orang tua, jangan pernah sepelekan perizinan, karena doa orang tua sangat manjur jika kita berbohong, percayalah!

Satu cariel dan tas daypack siap bertengger di bahu dan dada, saya merasa macam backpacker profesional. Setelah itu pada pukul 14.00 wib saya tiba di stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat. Suasana tidak seramai biasanya, karena saya pergi di saat weekday bukan musim liburan atau pulang kampung.

Pare Kota Kecil Sejuta Kenangan

Kereta yang akan saya tumpangi adalah KA. Brantas jurusan stasiun Pasar Senen – Kediri. Tujuan pertama saya adalah kota Pare yang terletak di Kediri Jawa Timur, dan Kampung Inggris menjadi tujuan pertama. Saya berhasil dibuat penasaran dengan cerita teman-teman tentang Kampung Inggris yang saat itu tengah menjadi trending topic di kampus.

Saat tiba di Kampung Inggris saya dijemput oleh mas Siwi, kenalan Wulan teman kuliah saya. Kemudian mas Siwi memilihkan saya tempat kursus yang ia rasa paling bagus. Dua minggu saya habiskan di Kampung Inggris bersama teman baru, pengalaman, dan tentunya ilmu baru. Beberapa tempat wisata kecil seperti Gumul, Taman Kili Suci, Alun-Alun Pare, ladang jagung, tambak lele saya kunjungi saat berada di sana. Agak singkat namun cukup berkesan. Terjawab sudah rasa penasaran saya dengan Kampung Inggris dan tentunya Pare akan selalu menjadi kota kecil sejuta kenangan.

Menuju Pulau Dewata

Selanjutnya Kota Malang menjadi daftar tujuan kedua, namun saya mengurungkan niat karena ingin singgah lebih lama di tujuan selanjutnya, yaitu Pulau Dewata Bali.

Jalur laut saya pilih untuk sampai ke Bali, karena budggetnya lebih murah ‘Low Budgget Long Holiday’, itulah prinsip liburan saya!

Saya menggunakan jasa travel yang ada di Pare, biayanya 300 ribu sudah termasuk makan malam dan snack. Saya selalu pilih travel yang fasilitasnya sudah termasuk makan dan snack, karena lebih hemat.

Perjalanan dari Pare menuju Denpasar memakan waktu sekitar 24 jam, 1 hari 1 malam. Sebagai seorang Muslim, ibadah shalat jangan sampai dilalaikan, saya selalu atur strategi untuk menjamak dan mengqashar waktu shalat saat bepergian, sehingga saya selalu merasa aman walaupun bepergian seorang diri, karena ada Allah SWT yang selalu menjaga.

Selama perjalanan yang panjang, saya selalu sempatkan diri untuk berkenalan dengan penumpang lain, penumpang wanita selalu menjadi sasaran karena lebih nyaman untuk diajak ngobrol selama di perjalanan.

Penyebrangan dengan kapal fery dari pelabuhan Ketapang menuju Gilimanuk hanya 45 menit. Sinar matahari pagi dari ufuk timur Bali menyambut kedatangan saya, seolah menyapa ‘Selamat Pagi Nathasi!’ indahnya luar biasa, Massya Allah.

Senyum lebar Eka yang khas, menyambut kedatangan saya di terminal Ubung. Eka adalah teman wanita saya di Jakarta yang sudah 5 bulan bekerja di Bali. Setelah seharian istirahat di kostan Eka, barulah keesokan harinya Eka mengajak saya berkeliling kota Denpasar. Dia mengajak saya wisata kuliner di sepanjang jalan Sunset Road. Di sana kami mencicipi makanan khas Bali mulai dari ayam betutu, sate lilit, rujak mangga, dan makanan khas anak kostan nasi Tempong.

Suasana Bali semakin terasa ketika kami melewati beberapa pura dan pemandangan pantai yang indah. Ini pertama kalinya saya datang ke Bali dan pesonanya menyambut hangat kedatangan saya.  

Saat weekend, Eka mengajak saya ke Ubud, tempat yang membuat saya excited dengan Bali. Ubud tersohor karena keindahan alamnya, subak yang tersusun rapi di bentangan persawahan dan udara sejuknya menjadikan Ubud sebagai tempat relaksasi. Kami juga sempat menonton tari Kecak di Pura Saraswati.

Ada Cerita di Klungkung

Karena Eka kerja saya banyak menghabiskan waktu di Bali dengan bepergian sendiri. Eka memperkenalkan saya dengan teman kost nya seorang wanita Bali bernama Ni Kadek Yuni, weekend itu Yuni hendak pulang ke rumahnya di Klungkung. Dia menawari saya untuk ikut, tanpa berpikir panjang saya menerima tawaran itu.

Perjalanan dari Denpasar menuju Klungkung sekitar 3 jam dengan berkendara sepeda motor. Klungkung merupakan kabupaten terkecil di Bali yang ibukotanya berada di Semarapura. Klungkung berbatasan dengan Kabupaten Bangli, Karangasem dan Gianyar.

Menurut informasi yang saya dapat dari Yuni, Desa Klungkung  diapit oleh laut dan gunung. Udaranya sejuk dan masih desa, saya makin tidak sabar untuk sampai ke sana.

Sesampainya di Klungkung hamparan sawah dan lembah bukit menyapa kami. Rumah Yuni benar-benar membuat saya terpesona karena lingkungannya bersih dan asri.

Kemudian Yuni mengajak saya ke Blue Lagoon, pantai yang terkenal di Karang Asem. Sebelum ke sana kami sempatkan makan siang di RM. Persinggahan Metha Sari. Tempat makan terkenal di Klungkung. Menu sup ikan, plecing kangkung, sambal matah, kacang goreng, pepes ikan dan sate lilit mengobati rasa lapar kami. Yuni merekomendasikan tempat makan ini karena ia tahu saya seorang Muslim dan sebagian dari menu makannya dari seafood dan sayuran yang kemungkinan terjamin kehalalannya.

Blue Lagoon dan Padang Bai

Hamparan garis pantai yang membentang menemani kami selama perjalanan menuju pantai Blue Lagoon, sesekali terlihat beberapa nelayan garam yang sedang membuat garam di pinggir pantai. Motor kami pun memasuki kabupaten Karang Asem, wangi tanah setelah hujan membuat energi positif saya kian membuncah. Saya seperti mendapatkan kembali energi sense of traveler di sini, senangnya.

Tidak lama kemudian kami melewati pelabuhan Padang Bai. Sebuah pelabuhan menuju pulau Lombok, pelabuhan Padang Bai menghubungkan pantai Blue Lagoon. Sesampai di Blue Lagoon kami bermain air, berfoto dan saling bertukar cerita.

Setelah puas menjelajah Karang Asem kami berpamitan dengan orang tua Yuni, kemudian kembali ke Denpasar. Namun rute yang kami lewati berbeda dengan rute berangkat. Yuni mengajak saya melihat Air Terjun Tukad Unda, Monumen Puputan Klungkung, Kerta Gosa & Taman Gili, serta mengajak saya untuk mencicipi makanan khas Klungkung, Serembotan sejenis urap dan Salak Rebus, asli enak! Setelah puas menjelajah Klungkung barulah kami kembali ke Denpasar.

Bus Sarbangita Sahabat Kita

Singkat cerita di Bali, saya banyak mengunjungi tempat-tempat wisata sendirian, kecuali saat Eka libur kerja. Sifat nekat saya kembali lagi, dengan bermodal buku Lonely Planet Edisi Bali saya mantap mengeksplore Bali. Saya banyak menghabiskan perjalanan dengan angkutan umum, untungnya di Bali sudah tersedia ojek online dan Bus Sarbangita semacam bus Transjakarta yang memiliki rute cukup banyak. Harga tiketnya Rp 3.500, dan wisatawan bisa puas berkeliling kota Denpasar dan sekitarnya.

Saya juga sempat mengunjugi Museum Bali yang berisi benda-penda peninggalan sejarah, mulai dari kerajaan hingga budayanya yang kini masih dilestarikan. Kemudian dengan menumpang bus Sarbangita saya mengunjungi Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan di Bukit Unggasan, Jimbaran.

Yang menjadi favorit adalah Pura Luhur Uluwatu. Pemandangan pura menghadap langsung ke lepas samudera. Sesekali terlihat sekumpulan monyet yang singgah di pepohonan, beberapa pengunjung ada yang melakukan meditasi di sini karena udaranya yang bersih dan suasananya tenang.

Selain itu beberapa pantai juga saya kunjungi, antara lain; pantai Pandawa, Gunung Payung, Blue Point, Batu Belig, dan beberapa pantai kecil lainnya.

Kunjungan ke Hutan Mangrove

Rasanya belum afdol ke Bali kalau belum mengunjungi Balai Pengelolaan Hutan Mangrove Wilayah I yang kini berganti nama menjadi Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Karhutla, yang berlokasi di Kota Denpasar, masih dalam satu kawasan dengan Teluk Benoa dan bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. Hutan mangrove di sini cukup terawat dan vegetasinya lengkap. Ada pula Mangrove Information Centre, pusat informasi mangrove. Pengunjung dapat mempelajari ekosisitem yang ada pada hutan mangrove melalui diorama, menurut saya tempat ini semacam museum mangrove karena menyimpan berbagai koleksi flora mangrove dan fauna endemik yang diawetkan.

Di tempat ini saya juga bertemu dengan mahasiswa Ilmu Kelautan dari Universitas Udayana dan Unpad. Mereka sedang melakukan KNN, saya mencicipi kuliner hasil olahan mangrove yang mereka buat. Kami bertukar cerita dan berbagi pengalaman tentang kegiatan pelestarian mangrove di komunitas kami masing-masing. Sekali lagi saya kembali mendapatkan teman baru dari sini.

Petualangan Selesai

Petualangan saya dari pulau Jawa sampai Bali berakhir, tepat 1 bulan berjalan lancar sesuai dengan rencana. Sementara jaring pertemanan saya pun meluas. Pulau Bali mengajarkan saya banyak hal, tentang keragaman, dan toleransi antar umat beragama. Ketika saya menumpang shalat penduduk Bali mempersilahkan dengan ramah.

Menjadi solo traveler woman mengajarkan saya hidup mandiri. Dengan bepergian seorang diri menuntut saya berani bertanya dan bertindak. Apalagi dengan hijab yang saya kenakan, ketika saya mengunjungi daerah yang minoritas Muslim, banyak orang yang segan dengan saya karena berhijab. Sebenarnya entah mereka risih atau memang segan, saya tidak tahu. Namun secara tidak langsung hijab melindungi saya. Ke manapun saya pergi walaupun seorang diri, saya selalu mendapatkan kemudahan dan terlindungi. Jadi jangan takut untuk menjadi solo traveler woman, berani coba? (nat) 

-Instagram: @nathasi.f, Aktivis Kemangteer Jakarta. 

 

 

 

 

 


Back to Top