Tempuh Ratusan Kilometer dengan Sepeda Motor, Begini Cerita Perjalanan Mudik Asik Lebaran 2017

gomuslim.co.id- Kata mudik berasal dari sandi kata bahasa Jawa Ngoko yaitu mulih dilik yang berarti mudik adalah kegiatan perantau atau pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya. Mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan misalnya menjelang Lebaran.

Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya juga sowan dengan orang tua. Transportasi yang digunakan antara lain: pesawat terbang, kereta api, kapal laut, bus, dan kendaraan pribadi seperti mobil dan sepeda motor, bahkan truk dapat digunakan untuk mudik.

Sebagai seorang perantau di kota Jakarta, tentu saya tahu dan merasakan bagaimana perjalanan mudik. Pulang kampung ke tanah kelahiran dan bersilaturrahim dengan keluarga adalah moment berharga yang sangat ditunggu-tunggu. Apalagi saat mudik lebaran. Merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama orang-orang tercinta menjadi satu yang tak terbagi.

Lebaran tahun 2017 ini merupakan kali keempat bagi saya mudik menggunakan sepeda motor. Tujuannya ke kabupaten Brebes yang berada di wilayah selatan. Karena saya pecinta traveling (ngaku-ngaku), saya selalu menikmati perjalanan ke mana pun pakai motor. Apalagi mudik ini merupakan perjalanan spesial. Tentulah, karena memang hanya setahun sekali.

Jarak dari Jakarta ke kampung halaman sebetulnya 338 KM. Ini setelah saya cek di google maps jika menggunakan jalur utara (pantura). Sedangkan jika lewat jalur selatan, jaraknya bisa mencapai 381 KM. Hal ini karena jalan lurus di jalur selatan tak sebanyak seperti di jalur utara. Belum lagi di jalur selatan ini harus melewati jalanan menanjak dan menurun.

Normalnya, perjalanan mudik pakai motor ke kampung halaman membutuhkan waktu 8 sampai 9 jam. Ini kalau memilih jalur pantura. Sementara, jika lewat jalur selatan, butuh waktu 11 sampai 12 jam.

Selama empat tahun perjalanan terakhir mudik, saya selalu memilih jalur selatan. Mengapa? karena lewat jalur ini, saya bisa sambil mampir ke tempat teman dan sahabat untuk beristirahat. Lagi pula, jalanan di jalur selatan banyak yang berbelok. Ini sangat membantu supaya mata tidak cepat ngantuk (pengalaman pribadi).

Beberapa hari menjelang mudik, saya menyiapkan beberapa hal. Mulai dari menyiapkan fisik. Ini sangat penting. Ya tentu karena tubuh kita harus tetap fit agar nyaman saat mudik. Pola makan dan tidur teratur terus dijaga serta perbanyak minum vitamin.  

Selanjutnya packing barang-barang yang akan dibawa mudik. Tidak banyak yang saya bawa, karena kendaraan motor sangat terbatas untuk bawa apa-apa. Cukup masukan semua barang kedalam tas rangsel. Saya juga menyiapkan peralatan untuk shalat seperti peci, baju bersih, dan sarung. Jaga-jaga, karena pakaian yang dipakai saat perjalanan belum tentu bersih dan suci.   

Lalu menyiapkan kendaraan. Pastinya, sebelum mudik motor saya bawa ke bengkel. Memastikan semuanya dalam sehat dan baik-baik saja. Service, ganti oli, cek kedua rem, kedua ban, dan lampu kendaraan adalah beberapa diantaranya. Dan saya termasuk yang rajin melakukan ini sebulan sekali (perawatan kendaraan). Apalagi ini mudik, harus total.

Saya juga menyiapkan jaket, masker wajah (buff), sarung tangan, sepatu, pelindung betis dan sikut. Terakhir, hal penting lainnya tentu adalah bekal untuk perjalanan. Pastinya, butuh materi/uang untuk isi perut (makan) dan isi bensin selama perjalanan mudik. Oh ya, ditambah lagi, penyediaan sedikit thr untuk saudara-saudara (adik atau keponakan) di kampung.

Saya memulai perjalanan mudik dari Jakarta pukul setengah 4 sore. Ba’da shalat ashar saya berangkat menuju bogor (puncak). Kebetulan di sana ada kakak saya yang belum mudik. Sampai di rumah kakak, pas beberapa menit lagi waktu berbuka puasa. Istirahatlah saya di sana. Berbuka dan shalat maghrib dilanjut dengan makan bersama.

Setelah shalat isya dan tarawih, perjalanan mudik saya lanjutkan. Saat itu jam 8 malam. Saya pilih waktu malam karena biasanya lebih longgar daripada waktu siang. Lagipula saat itu teman saya di Bandung pun sudah menunggu.

Jalanan di puncak cukup bagus. Tanjakan, turunan dan berkelok-kelok. Saya melewati Cianjur, Bandung Barat, Cimahi lalu Kota Bandung. Cukup sekali isi bensin secara full untuk melewati tiga kabupaten dan kota tadi.

Sampai di Kota Bandung, waktu menunjukan pukul 12 malam lewat sedikit. Artinya perjalanan dari Bogor (puncak) saya lalui dengan waktu 4 jam lebih. Di sinilah saya kembali beristirahat lebih lama. Bahkan tidur sambil menunggu waktu sahur tiba.        

Selesai sahur, shalat subuh, dan tadarus, saya sempatkan untuk kembali tidur. Supaya tidak ngantuk dalam perjalanan selanjutnya. Baru pas jam 9 pagi saya kembali melanjutkan perjalanan mudik.

Dari Kota Bandung, saya melewati Nagreg, wilayah yang dikenal sebagai jalur macet saat menjelang lebaran dan hari-hari besar tiba. Namun saat itu, wilayah Nagreng masih terpantau padat merayap. Apalagi saya yang naik motor, jalanan macet pun masih bisa jalan pelan.

Nagreg pun terlewati, saya masuk wilayah Limbangan, Kabupaten Garut. Di sinilah baru macet mulai terasa. Kendaraan terlihat sangat padat. Pihak kepolisian setempat mengatur jalan beberapa kilometer sampai Malangbong dengan sistem buka tutup. Hal ini untuk mengutamakan kendaraan pemudik yang datang dari Barat karena lebih banyak.

 

Setelah Limbangan dan Malangbong terlewati, jalur macet selanjutnya adalah wilayah Gentong, Tasikmalaya. Di sini juga terpantau kendaraan cukup padat. Ditengah perjalanan padat merayap itulah saya mencari tempat rest area. Karena waktu dzuhur telah tiba. Saya beristirahat di pom bensin yang menyediakan ruangan shalat memadai.

Merasa istirahat sudah cukup, saya kemudian kembali mengisi bensin dan melanjutkan perjalanan. Saat itu waktu menunjukan pukul 2 siang. Saya melewati kabupaten Ciamis, Kota Banjar sebelum memasuki wilayah Jawa Tengah. Di Kota Banjar saya kembali istirahat untuk shalat ashar.

Selesai shalat, saya kembali gas motor menuju kampung halaman. Saya melewati Majenang, Cilacap sebelum masuk jalan alternatif ke Brebes. Jalan alternatif inilah saya seperti kembali melewati jalanan puncak. Karena banyak tanjakan, turunan dan berkelok-kelok. Bedanya, jalanan di sini lebih sempit dan kendaraan tidak terlalu banyak. Lebih banyak pepohonan karena melewati hutan pinus.

Alhamdulillah, setelah melewati perjalanan cukup panjang akhirnya saya sampai di rumah jam 5 sore. Sebentar lagi menjelang berbuka puasa. Bersyukur karena sampai dengan selamat dan tubuh masih sehat wal afiat.

Perjalanan mudik lebaran meski sudah biasa dilakukan bukan berarti disepelekan. Butuh persiapan matang untuk sampai ke kampung halaman. Karena urusan keselamatan dalam perjalanan menjadi hal utama. Banyak kecelakaan di jalan dalam perjalanan mudik karena kurang hati-hati dan persiapan yang belum matang. Selalu berdoa kepada Allah SWT sebelum, selama perjalanan sampai ke tempat tujuan. (njs)

  


Back to Top