Cerita Perjalanan dari Muara Gembong, Desa Tradisional di Ujung Bekasi

gomuslim.co.id- Bagi para backpacker yang senang berpetualang ke tempat-tempat terpencil dan penggiat alam, sudah tak asing lagi dengan nama daerah Muara Gembong di Bekasi. Lokasinya tidak jauh dari Kota Bekasi, sekitar 70 km atau naik mobil cukup menempuh waktu 2 jam perjalanan.

Beberapa waktu silam, saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi Muara Gembong dan menikmati panorama alamnya yang masih asri. Sebenarnya Muara Gembong atau yang biasa dikenal dengan singkatan (Mugo) merupakan nama kecamatan yang berlokasi di Kabupaten Bekasi. Di dalamnya ada enam desa yaitu Desa Pantai Bahagia, Pantai Mekar, Pantai Sederhana, Pantai Harapan Jaya, Desa Pantai Bakti, Desa Jaya Sakti.

Yang Menarik dari Muara Gembong

Saat ini Mugo dikenal dengan keindahan hutan mangrovenya dan keberadaan habitat lutung jawa, yang merupakan hewan endemik yang terancam punah di Pulau Jawa. Sematan desa banjir rob kini mulai luntur seiring banyaknya komunitas dan penggiat alam melestarikan hutan mangrove di sana. Pemuda yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Muara Gembong dan Komunitas-komunitas penggiat Mangrove, aktif menggencarkan kampanye menanam mangrove kepada kalangan anak muda.

Sepanjang perjalanan ke Muara Gembong, kami disuguhi oleh pemandangan hamparan sawah, ladang dan pemukiman desa setempat yang masih asri. Sesekali terlihat petani dan bapak-bapak bersepeda membawa rumput di ladang. Rasanya seperti berada di desa yang nun jauh dari perkotaan. Padahal tempat ini masih di Bekasi, yang tak jauh dari pusat kota.

Akses menuju Muara Gembong ada dua jalur. Kali ini saya mengambil akses jalan dari arah Babelan yang kondisinya lumayan bagus. Sedangkan akses yang kedua bisa ditempuh melalui proyek Pertamina dengan medan tanah merah berdebu dan minim lampu.

Tiba di Mugo

Setibanya di Muara Gembong kendaraan diparkir di lapangan samping kapolsek. Kemudian kami melanjutkan perjalanan dengan naik perahu menuju desa terujung, yaitu Desa Bahagia. Jika melihat kondisi Desa Bahagia, rasanya tak sama jika disandingkan dengan arti bahagia. Pasalnya desa ini masih sering terjadi banjir rob setiap bulan. Air laut masuk ke pemukiman warga yang menyebabkan rumah, sekolah dan fasilitas umum menjadi rusak.

Hal ini dikarenakan ulah warga setempat yang membangun lahan tambak ikan bandeng dan menebang hutan mangrove. “Dulu desa ini dikenal dengan desa dollar, karena nelayannya sukses bisnis ikan bandeng. Satu orang bisa punya beberapa tambak,” ujar Taryo salah satu warga yang berbincang dengan saya. 

Namun kejayaan itu tidak lama, desa dihantui dengan serangan banjir rob yang merugikan pemilik tambak, ikan-ikan bandeng kebawa arus dan hilang. Tambak pun rusak, dan beberapa akses yang menjadi penghubung antar desa terputus.

Seorang penggiat komuntas lingkungan, Save Mugo, Umam  mengatakan saat ini penduduk mulai sadar akan pentingnya keberadaan hutan mangrove. “Alhamdulillah, sekarang warga mulai sadar pentingnya mangrove. Mereka gencar menanam mangrove yang bekerjasama dengan Pokdarwis dan beberapa komunitas mangrove di sini,” ujar Umam.

Mugo Jadi Tempat Wisata Berbasis Mangrove

Belakangan ini, aksi penanaman Mangrove di Muara Gembong aktif dikampanyekan. Beberapa komunitas yang diinisiasi anak muda dan instansi kerap kali turut berpartisipasi melestarikan mangrove. Kini, Mugo memiliki wisata berbasis mangrove, walaupun infrastruktur belum bagus. Namun wisatawan mulai banyak yang mengunjungi tempat ini karena keindahan alam dan pesona desa tradisionalnya yang masih terjaga.

Beberapa ibu-ibu warga setempat juga mulai mengembangkan usaha hasil olahan mangrove. Mereka membuat dodol, sirup, teh, dan kopi yang terbuat dari buah dan daun mangrove dan dijual kepada wisatawan. “Waktu itu kami diajarin cara ngolah buah mangrove, ternyata berhasil dan rasanya enak. Tamu banyak yang suka, sekarang kami jual untuk oleh-oleh khas Muara Gembong,” ujar Sarni, salah seorang pembuat dodol mangrove.

Surau dan Masjid

Berdasarkan pantauan jurnalis gomuslim, mayoritas penduduk setempat memeluk agama Islam. Hal ini terlihat dari banyaknya surau, mushola dan masjid yang berada di sepanjang jalan desa. Ada pula sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mansya’ul Husna Kecamatan Muara Gembong yang kerap kali dijadikan sebagai sekolah untuk kegiatan bakti sosial. Murid-muridnya berkerudung dan mengenakan peci menjadi khas sekolah Muslim di desa tersebut.

Kendati ada yang beragama non Muslim mereka hidup berdampingan dengan baik, warga sekitar juga ramah dengan wisatwan yang hendak berkunjung. Mereka saling menyapa pengunjung dan mengajak untuk mampir ke rumahnya. Hal ini menandakan adanya kerukunan yang baik sesama warga. Menjelang sore, anak-anak kecil menyambangi masjid untuk mengaji. Saat maghrib tiba, masjid dipenuhi pemuda dan anak-anak untuk shalat berjamaah.

Jelang malam, suasana hening, tak banyak aktivitas malam yang dilakukan warga di sini. Hanya sesekali terdengar suara jangkrik dan lantunan Alquran menggema dari rumah-rumah warga yang masih terbuat dari kayu dan bilik bambu.

Tertarik berkunjung ke Muara Gembong? (nat)

 


Back to Top