#SafariGlobalQurban (1)

Ketika Global Qurban Bersua dengan Muslim Minoritas di Tapal Batas Atambua

gomuslim.co.id- Apa yang terbayang ketika menyebut kata tapal batas? Sekilas bakal terputar kembali ingatan dan gambaran tentang kawasan paling ujung dari wilayah Indonesia. Mungkin perbatasan Kepulauan Batam atau Riau dengan Singapura, mungkin juga perbatasan wilayah Entikong dengan Serawak antara Kalimantan Barat dengan Malaysia. Tapi pernahkah membayangkan bahwa di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) juga ada tapal batas yang sama?

Tapal batas atau garis batas yang satu ini memang tak terlalu dikenal dan tak banyak dijelajahi para pelancong dalam negeri. Tapal batas yang satu ini sebenarnya memisahkan saudara satu rumpun, saudara satu budaya namun “dipaksa” untuk berbeda. Dulunya mereka bersama sebagai satu kesatuan negara Republik Indonesia. Tapi hari ini, tapal batas di Kota Atambua ini memisahkan Kabupaten Belu dengan Republik Demokratik Timor-Leste.

Setahun lalu, di Tanah Timor nan gersang dan terik yang membakar kulit ini, Global Qurban sampai di tapal batas wilayah administratif Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Global Qurban menyapa ribuan keluarga Muslim minoritas yang bermukim di balik dataran tinggi Belu.

Gersang dan kemiskinan adalah padanan yang selalu pas menggambarkan pulau Timor ini. Apalagi, jika menyimak kisah tentang minoritas Muslim yang berjuang menjaga agama mereka di Kabupaten Belu. Tak sedikit dari mereka adalah “pelarian perang”, korban kebrutalan konflik Provinsi Timor-Timur sekian dekade silam. Menurut mereka, setelah Timor-Leste merdeka, menjaga identitas sebagai Muslim di Atambua adalah pilihan terbaik ketimbang harus melanjutkan hidup sebagai Muslim di negeri tetangga, Timor-Leste.

Kurban untuk Minoritas Muslim di Pelosok Belu dan Malaka

Kini, kebanyakan Muslim pelarian dari Timor-Leste menetap di Kabupaten Belu dan Kabupaten Malaka. Menjadi warga negara Indonesia, menjaga akidah sebagai minoritas. Meski hidup damai beriringan dengan mayoritas, tapi terkadang mereka harus mengendap dan bersembunyi sekadar hanya untuk menjalankan solat berjamaah.

“Kami masih tak punya musala untuk beribadah di dalam kampung, izin untuk membuat musala setiap hari semakin dibuat sulit,” kata Abdullah Saleh Duru, tetua Kampung Haikrik, sebuah kampung di pedalaman Belu yang hanya dihuni 9 KK Muslim.

Ada lagi cerita dari Kabupaten Malaka, kabupaten yang baru berdiri tahun 2012 silam, pemekaran dari Kabupaten Belu. Di Malaka, Beberapa desa yang dihuni minoritas Muslim malah sampai tak berani menunaikan solat Idul Fitri dan Idul Adha di kampung mereka sendiri karena nada ancaman dari kelompok mayoritas. Terpaksa mereka harus berjalan kaki jauh menuju Kota Atambua ibu kota Belu, atau Kota Betun ibu kota Malaka untuk tunaikan salat Idul Adha.

“Kami dijemput dengan truk. Satu truk itu muat untuk kurang lebih 30 KK Muslim, penuh, berdesakan sejak subuh pagi-pagi sekali. Truk membawa kami, Muslim satu kampung menuju Kota Betun. Di sana sudah ada jemaah Muslim Betun yang menunggu salat Idul Adha bersama kami.” kisah Ahmad, Imam Musala al-Falah, Desa Kletek, Kabupaten Malaka.

Sekelumit kisah tentang hitam manis perjuangan Muslim minoritas di tapal batas Belu ini pun menjadi alasan yang tak usah disanggah lagi. Gurih dan nikmat daging kurban adalah kejutan Idul Adha bermakna begitu mendalam bagi mereka di pelosok Belu dan Malaka.

Di tapal batas dekat Timor-Leste ini, Tim Global Qurban menemukan sekelumit masalah kemiskinan berbalut dilema kekeringan. Dalam waktu bersamaan, minoritas Muslim Belu dan Malaka pun tetap harus berjuang menjaga akidah, menjalin hubungan baik, menjaga toleransi dengan lingkungan mayoritas yang terkadang ramah, tapi terkadang pula bisa berubah menjadi dingin dan mencekam.

Tinggal menghitung hari menjelang Idul Adha tahun 2017, Global Qurban sudah menyiapkan rencana berikutnya, melanjutkan distribusi kurban sampai ke tapal batas Atambua. Insya Allah titik-titik distribusi di gerbang perbatasan Indonesia – Timor Leste ini bakal lebih luas dan menyapa lebih banyak desa-desa pelosok di balik-balik bukit gersang Atambua. (rjl/act)

Untuk daftar berkurban bersama Global Qurban ACT di gomuslim, Anda bisa akses di www.gomuslim.co.id/qurban 

 

Penulis:

Shulhan Syamsur Rijal

News Management Staff, Aksi Cepat Tanggap (ACT)

 


Back to Top