#SafariGlobalQurban (3)

Mengulang Kembali Cerita Kurban di Bumi Samawa, Pulau Sumbawa NTB

gomuslim.co.id- Nusa Tenggara Barat (NTB) berada di satu titik alam bumi terindah. Pesisirnya adalah pantai-pantai yang masih perawan. Kota-kotanya dikelilingi desa petani dan peternak. Destinasi wisatanya sudah tak asing lagi dengan keramaian pelancong yang datang dari berbagai negara. Masyarakatnya yang dikenal religius dan dekat dengan Qur’an menjadikan provinsi ini juga mendapat julukan Bumi Al-Qur’an.

Tak heran, NTB menandai dirinya sebagai destinasi wisata halal di Indonesia. Penduduknya yang mayoritas muslim, tentu sangat ideal mendukung hal itu. Tak berhenti disitu, NTB  dikenal sebagai bumi sejuta sapi. Sumbawa dan Lombok menjadi daerah primadona untuk mengembangkan kedua potensi tersebut. Tapi, siapa sangka dua keistimewaan itu, tidak sepenuhnya bisa dirasakan masyarakatnya.

Sumbawa Merayakan Qurban di Tengah Paceklik

Julukan Sumbawa sebagai daerah peternak sapi terbesar, rupanya bukan jaminan warganya bisa menikmati gurihnya daging Qurban. Bagi warga Sumbawa, memiliki sapi adalah aset keuangan. Mereka akan lebih memilih memelihara, membiakkan, lalu menjualnya. Jangan bayangkan logika punya sapi berarti mereka bisa makan daging setiap hari. Para peternak ini juga bertani, hanya dari hasil panenlah mereka bisa makan.

Namun, sekian tahun terakhir, hantaman paceklik dialami Sumbawa. Impaknya luar biasa mencekik, persediaan beras dan jagung untuk bertahan hidup terancam. Ladang kering-kerontang. Jangankan tanaman padi dan jagung untuk makan warga, rumput untuk ternak pun sulit tumbuh. Pendapatan warga turun tak terhindarkan. Terlebih apabila sapi-sapi belum laku dijual.

Setahun kemarin, bulan September 2016, kemarau panjang begitu menguji kesabaran mereka. Sumber air satu persatu hilang di tengah hujan yang tak kunjung tiba.

“Sudah tiga bulan setetes air hujan tidak turun di Bumi Samawa. Sungai kering kerontang, sawah hanya tinggal nama, tidak ada satu tanaman pangan apapun yang dapat tumbuh,” jelas Suharyanto, Kepala Desa Bunga Eja, Kecamatan Empang, Kabupaten Sumbawa, kala itu ketika ditemui di ladang jagung milik seorang warga.

Maka beberapa tahun ke belakang, Idul Adha hadir di Sumbawa saat kemarau menyapa pelik. Perayaan Idul Adha di Sumbawa tidak pernah ramai sejak kemarau rutin melanda beberapa tahun terakhir. Hanya panas dan kering kerontang. Mungkin di meja makan hanya terhidang nasi dan lauk seadanya, daging kurban hampir mustahil didapat, kalau pun mau menyantap daging, mungkin harus ditebus dengan harga yang mahal.

Setahun kemarin, September 2016 saat itulah Global Qurban (GQ) berusaha hadir menyampaikan amanah ribuan pekurban Indonesia. Hampir 12 bulan lalu, warga dari 12 desa datang berduyun-duyun menyaksikan penyembelihan 24 ekor sapi di sebuah ladang luas di sudut terpencil Kabupaten Sumbawa.

Dengan raut bahagia. Ratusan masyarakat dari 12 desa turut berpartisipasi dalam penyembelihan, pencacahan, dan distribusi kurban. Seluruh proses itu tuntas hanya dalam waktu tiga jam. Barangkali waktu itu menjadi tiga jam terbahagia dalam tiga bulan terakhir mereka tanpa hujan.

Sore harinya, bahagia kurban menyapa kembali 11 dusun yang berbeda. Di Sumbawa, setahun lalu Global Qurban memicu kebahagiaan yang mungkin bakal teringat dalam waktu lama. Apalagi, banyak dari mereka mengaku baru pertama kali ada kurban di desanya.

Insya Allah hanya tinggal menghitung hari sebelum perayaan kurban tahun 2017, Global Qurban bakal kembali lagi ke Sumbawa, membawa amanah puluhan sampai ratusan sapi, memulai lagi cerita bahagia menyantap daging kurban di tengah terik Sumbawa. (rjl/act)

Mari Berkurban di www.gomuslim.co.id/qurban

Penulis:

Shulhan Syamsur Rijal

News Management Staff, Aksi Cepat Tanggap (ACT)

 


Back to Top