#SafariGlobalQurban (5)

Begini Semarak Kurban dalam Sunyi Kota Lospalos Timor-Leste

gomuslim.co.id- Pagi itu, setahun kemarin di pertengahan Bulan September, pagi berjalan lambat sekali. Jam di gawai masih menunjukkan pukul 5.30 TLT (Timor-Leste Time). Sudah sepagi ini tapi suasana di luar masih berselimut gelap. Maklum, zona waktu Timor-Leste memang sedikit berbeda dibanding di tapal batas Kota Atambua, kota Indonesia terdekat dengan Timor-Leste.

Timor-Leste menerapkan aturan GMT+9, lebih cepat satu jam dibandingkan Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Artinya di waktu yang sama, di Atambua masih pukul 04.30 WIT. Dalam gelap subuh itu, hanya sunyi yang terasa. Betul-betul sunyi. Tidak ada bising kendaraan, tidak ada aktivitas pasar atau keramaian sama sekali.

Padahal, hari itu adalah hari lebaran.

Bulan September setahun lalu, Tim Global Qurban menjejakkan kaki di tanah paling timur dari Pulau Timor. Sehari menjelang lebaran kurban, tim berpacu dengan waktu bergerak menuju kota Lospalos, kota paling timur dari Kota Dili, ibu kota Timor-Leste. Dari Kota Dili, jaraknya hampir tujuh jam perjalanan darat atau sekira 220 kilometer melewati tepian laut sampai Kota Lospalos.

Sepanjang jalan utama Kota Lospalos yang mungkin serupa dengan lebar jalan sekelas kecamatan di Indonesia, berjejer bangunan tua bekas peninggalan pemerintah Indonesia masa lalu. Bahkan masih ada beberapa bangunan sekolah yang bertulis “Tut Wuri Handayani” di tembok depan sekolahnya. Lospalos bagai kota mati, sunyi dengan gelap sepanjang jalur utama kota. Kota ini jelas tertinggal dan terabaikan sangat jauh dibanding perkembangan Dili yang bergaung semarak.

Sampai matahari betul-betul naik dan menerangi Lospalos, tetap saja semarak lebaran itu tak nampak di kota ini. Hanya ada satu masjid berukuran kecil yang berada di tengah Kota Lospalos. Masjid At-Taqwa berdiri sudah sejak tahun 1976 silam atau hanya beberapa saat selepas Provinsi Timor-Timur masuk menjadi Provinsi ke-27 di Indonesia.

Lospalos bagai kota yang tak berdetak, namun pagi itu masih ada semarak Idul Adha di Masjid at-Taqwa. Idul Adha kala itu berlangsung syahdu sekali. Sekira tiga shaf laki-laki dan tiga shaf perempuan berjajar rapi meramaikan asjid (meski sebenarnya lebih tepat disebut sebagai musala, karena lebarnya yang tak lebih dari 4 kali lompatan).

Wajah-wajah Timor mendominasi, beberapa di antaranya berwajah Jawa, ada pula wajah yang menampilkan gores muka khas Melayu. Muslim Timor dan Muslim pendatang dari daerah lain ramai menyesak di Masjid At-Taqwa.

Ustaz Idris selaku Imam yang menghidupi Masjid At-Taqwa berkisah, data terakhir yang pernah ia kumpulkan, populasi minoritas Muslim di Lospalos sekitar 38 Kepala Keluarga, atau 138 Jiwa. Kebanyakan dari keluarga Muslim Lospalos ini menetap di dalam lingkungan pagar masjid yang sudah kusam termakan usia.

“Hampir semua Muslim di Lospalos itu dari Kecamatan Luro di atas gunung. Luro satu dari lima kecamatan yang ada di Distrik Lospalos. Di dalam pagar masjid ini ada kurang lebih 11 KK atau 62 jiwa. Mereka pilih tinggal di dalam pagar masjid agar selalu dekat dengan keluarga Muslim lain, hampir mereka semua asalnya dari satu kampung di Luro,” ungkap Idris.

Tujuh kali takbir di rakaat pertama, disambung lima kali takbir di rakaat kedua berlangsung khusyuk. Sunyi Lospalos tanpa ingar-bingar suara dengung kendaraan makin menambah nikmat Idul Adha di pagi itu.

Kata Ustaz Idris, toleransi di Lospalos alhamdulillah terjaga sampai hari ini. Lima waktu solat tak pernah ada gangguan meskipun di Lospalos, Muslim adalah minoritas. “Malah kemarin ada non-Muslim Lospalos bilang langsung ke saya, katanya terima kasih azan Subuh di pagi buta selalu membuat ia bangun lebih pagi dan mulai berjualan lebih awal. Berkah luar biasa,” kisah Idris.

Kurban semarak di tengah sepi Kota Lospalos

Usai salat Idul Adha ditunaikan, semarak lebaran kurban di Masjid At-Taqwa belum berhenti. Kopi bergelas-gelas, ditambah biskuit sekian belas piring tersaji di pelataran masjid. Semua tersaji untuk siapa pun jemaah Idul Adha Kota Lospalos di pagi itu.

Rasa bahagia yang demikian kompleks membuncah seketika itu juga. Tim Global Qurban untuk Timor-Leste memaknai semarak Idul Adha di Masjid At-Taqwa berbanding terbalik dengan sunyi di sekujur Kota Lospalos. Meski sudah lewat jam 9 pagi, Lospalos tetap saja sunyi. 

Kebahagiaan makin membubung ketika satu ekor sapi besar dari Global Qurban mulai disembelih dan dicacah satu persatu dagingnya. Amanah kurban yang dititipkan kepada Global Qurban untuk satu titik Kota Lospalos di Timor-Leste berhasil tertunaikan.

Siti Khadijah, perempuan berparas hitam manis berjilbab biru – yang menetap di dalam pagar masjid At-Taqwa – tak henti menitipkan salam dan syukurnya. “Global Qurban perjuangannya hebat bisa sampai ke sini. Jauh sekali perjalanan dari Jakarta lalu Dili sampai ke Lospalos hanya demi kirimkan daging kurban untuk kami di sini,” ungkapnya haru.

Jelang siang, Tim Global Qurban harus bergerak lagi mengejar hari tasyrik. Masih belasan desa lagi di Timor-Leste sampai ke perbatasan Atambua yang bakal dikirimkan nikmat kurban terbaik.

“Besok lagi jangan lupakan kami di Lospalos. Juga jangan pula lupakan saudara Muslim kami yang masih menjadi minoritas di Kecamatan Luro. Muito Obrigado Global Qurban. Terima kasih sekali Global Qurban,” ucap Siti bersimpul senyum.  (rjl/act)

Penulis:

Shulhan Syamsur Rijal

News Management Staff, Aksi Cepat Tanggap (ACT)

 

 

Komentar

  • Tri Bagus

    17 Mei 2018

    Masjid Lospalos

    Alhamdulillah syukron katsiir, tahun kemarin ada silaturahim ke Lospalos. Kami pernah tinggal di sana dan sempat memakmurkan masjidnya di tahun 1990 - 1999. Barangkali bisa kirim foto yang lain ke email saya utk mengobati rasa rindu. tribagushp@yahoo.co.id


    Reply






















Tulis Komentar

Kode Acak

*Ket : Masukkan kode di atas sesuai tulisan, perhatikan huruf dan angka


Back to Top