#SafariGlobalQurban (6)

Ketika Nikmat Kurban Redam Pilu Pengungsi Rohingya di Bangladesh

gomuslim.co.id- Dentuman tembakan menggaung di udara, di langit Myanmar yang bersinggungan langsung dengan Bangladesh. Jauh di bawah, ratusan Muslim Rohingya terlihat memadati lahan pertanian, berbaris memanjang setelah menyeberangi perbatasan Myanmar-Bangladesh. Pos Keamanan Ghumdhum yang menjaga salah satu area perbatasan Bangladesh dan Myanmar tak mampu lagi membendung banyaknya pengungsi baru yang memohon masuk, Sabtu (26/8).

Hari itu, ratusan pengungsi baru terus menjauhi titik perbatasan dan menuju Desa Ghumdhum. Deru tembakan dari tanah seberang, Myanmar, mempercepat langkah mereka. Para pengungsi baru itu terlihat berjongkok di rawa-rawa, bersembunyi di balik semak belukar untuk menghindari pengawasan penjaga pos keamanan.

“Kami berhasil menghindari serangan tembakan di Myanmar dan mencoba masuk ke Bangladesh. Semalaman kami menunggu, setelah sebelumnya kami sempat diusir oleh polisi keamanan Bangladesh. Pagi ini, alhamdulillah kami bisa masuk,” ungkap Hamid Hossain (42) kepada Reuters. Ia dan tiga keluarga Rohingya lainnya berhasil masuk ke Bangladesh pada Sabtu pagi (26/8).

Setelah konflik kembali berkecamuk pada Jumat dini hari (25/8) di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, ribuan Muslim Rohingya serentak meninggalkan desa mereka. Hingga hari itu, jumlah Muslim Rohingya yang tewas telah mencapai 80 orang, menurut laporan Reuters. Keselamatan atas nyawa mereka di sana sudah di ambang batas maut. Nampaknya, menjadi “pengungsi tak berstatus kewarganegaraan” di Bangladesh dianggap lebih baik daripada mati terbunuh di kampung halaman.

Horor masih menggelayuti wajah mereka ketika kisah demi kisah kekejaman tentara Myanmar terus terlantun. Beberapa pengungsi bahkan memohon agar tidak dikembalikan ke kampung halamannya.

“Tolong selamatkan kami. Kami ingin tinggal di sini. Jika terus di sana, kami mungkin akan terbunuh,” ujar Amir Hossain (61).

Belasan ribu pengungsi baru Rohingya mencari suaka di Cox’s Bazar, Bangladesh

Jumlah pengungsi Rohingya baru yang memasuki Bangladesh hingga Sabtu lalu masih simpang siur. Namun, sejumlah media internasional memperkirakan angka tersebut mencapai belasan ribu. Kabar buruknya, sebagian besar dari mereka masih terjebak di perbatasan Myanmar-Bangladesh.

“Mereka mencoba masuk ke Bangladesh, tapi kami punya kebijakan zero tolerance, siapa pun tidak diizinkan masuk,” kata Mohammad Ali Hossain selaku Wakil Komisioner Cox’s Bazar. Cox’s Bazar sendiri merupakan distrik di Bangladesh yang berbatasan langsung dengan Myanmar.

Namun demikian, sekitar 3000 Muslim Rohingya berhasil masuk dan berlindung di beberapa kamp pengungsian dan desa yang ada di Bangladesh sejak Jumat lalu (25/8). Kantor berita AFP menyebutkan, para pengungsi baru tersebut menempati area kamp pengungsian Balukhali. Bahkan, Ahad kemarin (27/8), setidaknya 100 pengungsi baru yang terdiri dari perempuan dan anak-anak datang lagi. Semua menceritakan kisah yang sama: kekejaman militer Myanmar.

Selain Kamp Balukhali, sebagian besar pengungsi Rohingya baru juga mencari perlindungan di Kamp Kutupalong. Salah satunya adalah Mokhtar Hossain, pemuda Rohingya yang melarikan diri setelah konflik pecah Jumat silam (25/8). Tuturnya, para militer Myanmar tanpa ampun menganiaya warga sipil Rohingya. Ia bahkan tertembak di depan rumahnya di Medi, Maungdaw Jumat dini hari lalu.

“Polisi dan tentara menembaki kami tanpa pandang bulu,” ungkap Mokhtar. Ia kini tengah menjalani perawatan di salah satu klinik yang ada di Kamp Kutupalong, Cox’s Bazar.

Kurban amanah masyarakat Indonesia akan redam pilu Rohingya di Bangladesh

Gelombang pengungsi diperkirakan akan terus berdatangan menuju Cox’s Bazar, Bangladesh. Jumat kemarin (25/8), mitra Aksi Cepat Tanggap di Chittagong, Bangladesh, mengungkapkan para pengungsi tersebut akan mencari suaka terdekat, yakni Cox’s Bazar.

Perkiraan itu pun kini perlahan kian mendekati realitas. Kamp Kutupalong dan Kamp Balukhali menjadi sasaran utama para warga Rohingya yang bereksodus ke Bangladesh.

“Kamp Kutupalong saja kini sudah ada sekitar 15 ribu KK atau 66 ribu jiwa. Sementara itu, Kamp Balukhali sudah ada 4 ribu KK,” papar Hasan, salah satu mitra ACT di Chittagong.

Hasan menambahkan, menjelang Idul Adha, tak diragukan lagi jumlah tersebut akan terus bertambah. Menurutnya, akan banyak pengungsi baru yang merayakan Idul Adha pertamanya di kamp pengungsian.

“Tahun lalu, jumlah daging kurban yang kami bagikan ke mereka saja rasanya belum cukup. Alhamdulillah hampir sebagian besar pengungsi mendapat daging kurban, walau jumlahnya tidak begitu banyak,” tuturnya. Dengan makin banyaknya pengungsi baru yang datang, ia berharap perayaan Idul Adha kali ini dapat mengikis trauma teror yang tengah mereka alami.

Insya Allah, tahun ini Global Qurban tak luput menyapa Muslim Rohingya yang tengah berduka di kamp-kamp pengungsian di Bangladesh. Idul Adha tahun ini, kebahagiaan kurban dari Indonesia akan meredamkan pilu yang mereka rasakan. (rjl/act/foto: Reuters)

 

Penulis:

Shulhan Syamsur Rijal

News Management Staff, Aksi Cepat Tanggap (ACT)

 

 


Back to Top