#SafariGlobalQurban (7)

Selamat Datang di Mogadishu, Negeri Muslim yang Ramah Nan Tangguh

gomuslim.co.id- Hampir tengah hari, decit suara roda pesawat terbang bertemu dengan aspal landasan pacu Bandara Aden Abdulle, bandara utama di Mogadishu, ibu kota Somalia. Bandara ini baru saja dipercantik dengan bantuan dana dari berbagai pihak di luar Somalia.

Bandara yang lebih cantik memberi pesan bahwa negeri ini sedang berbenah, negeri ini sedang mencoba memperbaiki pintu gerbang mereka. Somalia sedang mencoba memberi kesan pada siapa pun, bahwa negeri mereka semakin ramah untuk didatangi. Selamat datang di Mogadishu! Selamat datang di negeri paling timur dari Benua Hitam Afrika.

Tiba di Mogadishu, Tim Global Qurban untuk Somalia datang selang beberapa hari sebelum Lebaran Kurban dirayakan oleh jutaan Muslim di Somalia.

Somalia sedang berbenah, mengurangi ketakutan, meredam peperangan

Panas terik negeri ini tak beda jauh dengan Jakarta, sekira 28 sampai 30 derajat Celsius. Hanya satu hal yang membedakan, Mogadishu bagai Jakarta yang ditarik mundur jauh ke 50 tahun yang lalu. Tak ada gemerlap kota, hanya sedikit kemajuan teknologi yang mampir di negeri ini. Tak ada perdagangan yang lebih ramai dibanding sebuah pasar kecil setingkat kecamatan di Jakarta.  

Jalan beraspal halus mungkin jumlahnya pun bisa dihitung dengan jari. Sisanya hanya jalanan berdebu yang dibiarkan hancur dan penuh dengan sampah-sampah rongsokan. Tengok ke kanan dan kiri, runtuhan bangunan yang hancur karena dilempar granat, bom, atau roket masih mudah ditemukan di berbagai sudutnya. Konflik memang membuat Mogadishu berjalan lambat, lambat sekali.

Bahkan sampai hari ini, gerbang-gerbang check point yang dijaga militer pemerintah selalu ada di setiap 10 menit perjalanan darat berkeliling Kota Mogadishu. Gerbang check point meminta siapa pun yang melintas untuk menunjukkan identitas asli.

Sejumlah bangunan penting pun punya tamengnya sendiri. Tameng yang terbuat dari bak pasir besar yang ditumpuk tinggi seperti tembok. Tameng itu punya fungsi meredam ledakan apabila ada serangan bom atau roket atau granat yang dijalankan oleh militan Al-Shabaab, teroris yang sedang mengacak-acak Somalia, teroris yang menjadi musuh utama di seluruh Somalia. 

Setiap bangunan penting pun punya pos pengintainya masing-masing yang dibuat ala kadarnya. Pos itu tinggi menjulang membuat siapa saja di dalam pos dapat melihat ke seantero sudut. Di tiap pos itu ada seorang atau dua orang penjaga yang mencangklong senjata laras panjang, siap menjadi garda depan ketika ada serangan dari militan al-Shabaab.

Jangan salah, tak hanya bangunan pemerintah yang punya pos pengintai seperti itu. Hotel, restoran, pusat perdagangan, dan bangunan umum lain bahkan punya penjaga khusus yang bersiap dengan senjata laras panjangnya. Ketegangan konflik belum pernah mereda di Somalia.

“Jangan bandingkan dengan di Jakarta. Di sini setiap ada penjaga yang memegang senjata berarti ada rasa aman di situ. Ada rasa aman yang diberikan untuk warga. Tapi mungkin kalau di Jakarta, ada orang bawa senjata justru malah membuat orang lari ketakutan, betul kan?” kata Shafi, seorang kawan Tim Global Qurban yang bermukim di Mogadishu. Sebelumnya Shafi pernah beberapa tahun merasakan hidup sebagai mahasiswa asing di Jakarta.

Meski hari berjalan lambat di Mogadishu, tapi tetap ada optimisme untuk bangkit. Sekira 12 juta Muslim Somalia punya cita-cita yang sama untuk berbenah dan menghapus semua ketakutan. Mereka ingin mengurangi ketegangan, melenyapkan perlahan konflik.

Somalia juga baru saja menyelesaikan Pemilihan Presiden pada Februari 2017 kemarin. “Presiden baru Mohamed Abdullahi Mohamed dianggap berhasil memberikan banyak perubahan untuk Mogadishu,” ujar Shafi.

Sejak pagi, azan Subuh sampai Isya selalu lantang terdengar di setiap sudut kota. Di dalam mobil angkutan umum, mudah pula untuk menemukan lelaki Somalia berpeci dan bersurban menggenggam tasbih. Perempuan-perempuan Somalia dengan jilbab panjang berwarna-warni juga menghiasi pinggiran jalan Mogadishu. Identitas Somalia sebagai negeri Muslim yang tangguh terpampang nyata di setiap sudut Mogadishu. Setiap menyapa, senyum mereka pun ramah, tanpa ada rasa curiga, tanpa ada ketakutan. Ucapan assalamualaikum dan pelukan hangat adalah identitas budaya jutaan Muslim di Somalia. 

Bagi perempuan dan anak-anak Somalia, kini hampir tak ada lagi rasa takut untuk berjalan sendirian di tengah kota. Pasar tetap ramai walau pasukan militer pemerintah selalu berpatroli dengan mobil bak terbuka dan menggenggam senjata laras panjang mereka. Seperti yang dikatakan Shafi, ada pasukan militer bersenjata yang berlalu-lalang justru malah memberikan rasa aman bagi warga sipil.

Tapi itu hanya gambaran Mogadishu, Sang Ibu Kota yang penuh debu dan lalu lalang bajaj, mobil dan motor-motor klasik, bahkan keledai dan unta di tengah jalan. Mogadishu adalah lembaran Somalia yang lebih maju dibanding wilayah lainnya.

Sementara itu, negeri ini punya luas daratan yang luas sekali, dengan garis pantai paling panjang di Benua Afrika. Masih ada ribuan desa lain jauh dari Mogadishu, ratusan kilometer dari Mogadishu. Desa yang terjebak dalam kemiskinan, kekeringan dan kesulitan hidup yang bertubi-tubi.

Insya Allah, hari Lebaran Kurban tahun ini bukan hanya untuk Mogadishu. Global Qurban akan bawa ribuan amanah hewan kurban dari Indonesia sampai ke pelosok Somalia. Menembus debu dan kegersangan yang luar biasa di kampung-kampung miskin di ujung Somalia. (rjl/act)

 Penulis:

Shulhan Syamsur Rijal

News Management Staff, Aksi Cepat Tanggap (ACT)

 

 


Back to Top