Menelisik Jejak Peradaban Islam Berusia 200 Tahun, Ini Cerita Perjalanan ke Kampung Islam Bugis di Pulau Serangan, Bali

gomuslim.co.id- Kisah penyebaran Islam di Nusantara memiliki keunikan tersendiri bagi suatu daerah dan pulau. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah Pulau Bali, namun kali ini saya akan berkunjung ke tempat awal penyebaran agama Islam disyiarkan di Pulau Serangan.

Terletak lebih kurang 15 km dari Kota Denpasar, sebuah kampung seluas 2,5 hektar dihuni sekitar 100 kepala keluarga yang mayoritas Muslim. Kampung ini dikenal dengan sebutan Kampung Islam Bugis.

Kampung yang terletak di pulau Serangan ini berada di sebelah selatan ibukota Bali, Denpasar. Dulunya pulau ini terpisah dengan Pulau Bali, tapi kini tidak lagi, sebab pada tahun 1995 dibangun dermaga kecil dan jembatan yang menghubungkan kedua pulau tersebut.

Untuk mencapai pulau ini, saya berkendara sepeda motor dari Denpasar. Dengan berkendara motor akan lebih puas menyusuri jalan-jalan kecil perkampungan, dan bisa menikmati pemandangan hijau hutan mangrove di pinggir pantai sepanjang pulau.

Kebanyakan mata pencarian warga kampung adalah nelayan, karena letaknya yang dekat dengan pesisir pantai. Kampung ini dikelilingi oleh perkampungan Hindu yang juga memiliki sejumlah pura. Namun kedua pemeluk (Islam dan Hindu) saling berdampingan dan hidup toleransi.

Beberapa peneliti mengatakan kampung ini sudah ada sejak abad ke-17 Masehi saat orang Bugis pertamakali mendarat di Pulau Serangan atau setelah Belanda menguasai Kerajaan Gowa.

Menariknya, ada cerita satu tokoh penyebar Islam yang perannya sangat besar bagi perkembangan Islam di Bali, terutama di Pulau Serangan.

Dialah Syeikh Haji Mu’min, seorang pemimpin rombongan dari Gowa yang meninggalkan Sulawesi karena merasa tidak sepaham dengan peraturan pemerintah Belanda. Ketika itu Belanda sedang menjadi pengendali kehidupan maritim di sana.

Bersama rombongan awak kapalnya, Haji Mu’min terdampar di Pulau Serangan. Ternyata, kabar datangnya rombongan Haji Mu’min tersiar hingga ke telinga Raja Badung yang saat itu menjadi penguasa Pulau Serangan dan wilayah kerajaan Badung.

Selidik punya selidik, diketahui pengembara asal Bugis itu ternyata sakti. Akhirnya Raja Badung meminta Haji Mu’min menghadapnya. Ia diperkenankan tinggal di Pulau Serangan, tapi dengan satu syarat mereka harus membantu Raja Badung memenangkan pertempuran melawan Kerajaan Mangui.

Singkat cerita, dengan bantuan Haji Mu’min Kerajaan Badung meraih kemenangan. Berkat jasanya itu, Haji Mu’min diberi hadiah Pulau Serangan tempat awal ia bersama rombongan dari Bugis terdampar.

Di pulau ini Haji Mu’min mendirikan sebuah masjid kecil yang dibuatnya dengan menggunakan bahan sederhana. Atap masjid terbuat dari ijuk, dindingnya dari batu bata, dan lantainya menggunakan marmer. Namun sekarang sudah direnovasi menjadi lebih baik.

Saat saya berkunjung ke sana nampak bangunan sudah dipugar. Masjid bersejarah itu terlihat bersih, meski tempat sholatnya tidak seluas masjid pada umumnya, tapi mempunyai kesan etnik. Ruang sholat utama untuk laki-laki berada di dalam, sedangkan bagian perempuan terletak di pelataran depan dan ruangan samping yang digunakan untuk mengaji usai sholat maghrib oleh anak-anak yang tinggal di kampung Bugis.

Yang menarik perhatian saya adalah mimbar kayu yang berukir, ukurannya tidak terlalu besar, namun terlihat megah. Langit-langit masjid terbuat dari kayu memberikan kesan bangunan khas Bugis yang kental dengan ornamen kayu.

Di samping kiri masjid kini ditambah bangunan baru untuk tempat berwudhu, dan toilet. Selain itu, seluruh bangunannya masih mempertahankan pondasi asli.

Masjid ini memiliki perkumpulan remaja masjid yang bernama Remaja Islam Masjid Assyuhada (RISMAS). Diperkirakan masjid ini menjadi kedua tertua setelah masjid tertua pertama yang berada di daerah Gelgel, Gianyar. Menurut sejarah, masjid yang tertua di Pulau Bali dibangun pada masa kejayaan Majapahit.

Menjelajah perkampungan ini membuat saya seperti ada di perkampungan Bugis asli. Ya, kebanyakan warga di sini menggunakan Bahasa Bugis sebagai bahasa sehari-hari namun masih ada campuran logat Bali yang menjadi perpaduan akulturasi di kampung ini. Selain bahasa, perangai wajah mereka juga kental dengan suku Bugis, membuat saya kembali merasakan betapa budaya Bugis masih terjaga di pulau ini.

Selain Masjid Assyuhada yang menjadi ikon Kampung Islam Bugis, ada pula pemakaman Islam kuno khusus tempat peristirahatan warga Muslim. Di makam ini terdapat makam tokoh-tokoh bersejarah hingga ulama. Salah satunya makam Syeikh Haji Mu’min sang pembawa ajaran Islam.

Di depan masjid terdapat rumah suku Bugis, rumah ini menjadi cagar budaya karena bangunanya masih asli seperti ratusan tahun silam. Tapi sayangnya, kondisi cagar budaya ini kurang baik dan dirawat padahal menjadi aset sejarah.

Setelah puas berkeliling kampung, saya melanjutkan perjalanan ke tempat penakaran penyu yang dikenal dengan Turtle Conservation Education Centre (TCEC) Serangan. TCEC menjadi tempat wisata ekologi, pengunjung bisa mendapatkan banyak informasi dan edukasi tentang konservasi penyu. Salah satu yang menarik adalah ajakan kepada pengunjung agar tidak lagi mengkonsumsi penyu, baik sebagai makanan maupun bagian dari upacara adat.

Menjelajah Pulau Serangan menambah pengalaman baru saya berwisata religi dan ekologi. Pulau ini menyimpan banyak kisah sejarah yang harus terus digali dan dilestarikan.

Jika Anda berkunjung ke Bali, mari sesekali nikmati pengalaman wisata yang berbeda. Menelisik sejarah Islamnya di Kampung Islam Bugis dan Masjid Assyuhada, serta belajar konservasi di tempat wisata yang berbasisi ekologi di Turtle Conservation Education Centre (TCEC) atau Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Karhutla (BPPIK) yang terdapat trekking mangrove di Suwung, tidak jauh dari Pulau Serangan.

Dari Pulau Serangan saya mengadopsi falsafah hidup masyarakat Bali ‘Tri Hita Karana’ yang artinya hidup harus selaras dengan sesama manusia, alam, dan Tuhan, agar hidup seimbang, tenteram, dan damai.

Sebagai informasi tambahan, penyebutan nama ‘Serangan’ untuk pulau ini berawal dari kata sira angen. Siapa pun yang menikmati keindahan Pulau Serangan, pasti diliputi perasaan sayang dan senantiasa mengangeninya untuk kembali berkunjung.

Penasaran dengan rasa sira angen? Mari berkunjung ke Pulau Serangan, Bali. Dan nantikan cerita perjalanan saya selanjutnya Jelajah Islam di Nusantara. (nat)

Alamat Masjid Assyuhada Serangan

Jl. Tukad Bulan, Kp. Bugis – Serangan, Denpasar, Bali

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Back to Top