Pasar Modal Syariah

Investasi Aman dan Penuh Berkah

(gomuslim). Kian hari instrumen syariah kian berhembus kencang hingga semakin menyadarkan masyarakat akan peluang yang ditawarkan. Keadaan ekonomi dunia yang masih belum menjanjikan bagi para investor serta banyaknya investor kecil yang belum terakomodir dengan baik, sehingga hadirnya instrumen-instrumen syariah yang juga menjadi bagian dari pasar modal syariah diprediksi akan berdampak signifikan bagi perekonomian Indonesia.

Instrumen syariah sendiri banyak ragamnya. Akan tetapi, secara umum, instrumen syariah terdiri dari tiga elemen, yakni saham syariah, sukuk atau obligasi syariah, dan reksadana syariah. Bila mengacu pada perkembangan terkini mengenai aktivitas instrumen syariah dalam percepatan perekonomian Indonesia, sebetulnya semua instrumen mulai dari saham syariah, sukuk, dan reksadana syariah semuanya sama-sama memberikan sumbangsih yang signifikan. Namun bila memaksakan, maka akan didapati urutan-urutan berikut ini.


Saham Syairah

Secara umum kegiatan Pasar Modal Syariah tidak memiliki perbedaan dengan pasar modal konvensional, namun terdapat beberapa karakteristik khusus Pasar Modal Syariah yaitu bahwa produk dan mekanisme transaksi tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah.

Penerapan prinsip syariah di pasar modal tentunya bersumber pada Alquran sebagai sumber hukum tertinggi dan Hadits Nabi Muhammad SAW. Selanjutnya, dari kedua sumber hukum tersebut para ulama melakukan penafsiran yang kemudian disebut ilmu fiqih. Salah satu pembahasan dalam ilmu fiqih adalah pembahasan tentang muamalah, yaitu hubungan diantara sesama manusia terkait perniagaan.

Sama halnya dengan saham syariah. Bila saham konvensional sangat berisko terkena riba, saham syariah dengan karakteristik yang khusus, dengan didasari fiqih muamalah, secara hukum dapat terselamatkan dari ancaman riba. Namun, sebelum itu, penulis akan menyampaikan dahulu pengertian dari saham.

Saham adalah satuan nilai atau pembukuan dalam berbagai instrumen finansial yang mengacu pada bagian kepemilikan sebuah perusahaan dengan tujuan pendanaan jangka panjang yang diperdagangkan dalam pasar primer atau pasar sekunder. Untuk lebih jelasnya, cara kerja saham bisa dianalogikan seperti ini. Andi dan Arif berpatungan masing-masing mengeluarkan Rp. 150.000 dan Rp. 50.000 untuk membeli sebuah makanan. Nantinya, Andi dengan uang Rp.150.000-nya berhak mendapatkan bagian sebesar 150.000/200.000 atau sebesar 75% dari makanan tersebut. Adapun Arif mendapatkan sisanya.

Seperti itulah cara kerja saham dalam pengertian yang mudah. Sedangkan saham syariah dengan karakteristik yang berbeda tentu saja memiliki teknis yang berbeda pula. Hal inilah yang menjadi perbedaan yang paling menonjol dengan saham konvensional. Perbedaan itu yakni mencakup prinsip transparansi, kesamaan, dan kejujuran. Dengan prinsip yang sebetulnya sederhana itu, pada akhirnya saham syariah dapat terbebas dari banyak hal yang diharamkan oleh syariah, seperti:

Perjudian dan permainan yang tergolong judi;

Perdagangan yang tidak disertai dengan penyerahan barang/jasa;

Perdagangan dengan penawaran/permintaan palsu;

Bank berbasis bunga;

Perusahaan pembiayaan berbasis bunga;

Jual beli risiko yang mengandung unsur ketidakpastian(gharar) dan/atau judi (maisir), antara lain asuransi konvensional;

Memproduksi, mendistribusikan, memperdagangkan dan/atau menyediakan barang atau jasa haram zatnya (haram li-dzatihi), barang atau jasa haram bukan karena zatnya (haram li-ghairihi) yang ditetapkan oleh DSN-MUI; dan/atau, barang atau jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat;

Melakukan transaksi yang mengandung unsur suap (risywah).

 

Sukuk

Di dunia, sukuk saat ini benar-benar memainkan peran penting sebagai salah satu perangkat pasar modal syariah dalam membantu melanjutkan pembangunan di berbagai negara; baik negara maju maupun negara berkembang. Di Indonesia sendiri, saat ini sukuk mulai banyak dilirik oleh banyak investor mengingat Indonesia adalah  tempat cocok untuk jadi pusat pembiayaan dari sukuk dengan segala kelebihan komunitas Muslimnya, yang berjumlah kurang lebih 250 Juta jiwa. Dengan memaksimalkan potensi pasar di Indonesia saja, sebetulnya para investor tidak perlu lagi mencari tempat untuk berinvestasi saking besarnya potensi keuangan syariah dalam hal ini obligasi syariah di negeri ini.

Sukuk secara terminologi merupakan bentuk jamak dari kata “sakk” dalam bahasa Arab yang berarti sertifikat atau bukti kepemilikan. Sukuk umum, masyarakat dapat memahami sukuk sebagai obligasi syariah. Secara ilmiah, Definisi sukuk / sertifikat ialah sertifikat bernilai sama dengan bagian atau seluruhnya dari kepemilikan harta berwujud untuk mendapatkan hasil dan jasa didalam kepemilikan aset dan proyek tertentu atau aktivitas investasi khusus, sertifikat ini berlaku setelah menerima niali sukuk, saat jatuh tempo dengan menerima dana sepenuhnya sesuai dengan tujuan sukuk tersebut.

Adapun menurut fatwa Majelis Ulama Indonesia No. 31/DSN-MUI/IX/2002 sukuk adalah suatu surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan emiten kepada pemegang obligasi syariah. sukuk mewajibkan emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang obligasi syariah berupa bagi hasil margin/fee, serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo.

Berdasarkan Standar Syariah AAOIFI No.17 tentang Investment Sukuk, jenis sukuk terdiri dari :

Sertifikat kepemilikan dalam aset yang disewakan;

Sertifikat kepemilikan atas manfaat, yang terbagi menjadi 4 (empat) tipe : Sertifikat kepemilikan atas manfaat aset yang telah ada, Sertifikat kepemilikan atas manfaat aset di masa depan, sertifikat kepemilikan atas jasa pihak tertentu dan Sertifikat kepemilikan atas jasa di masa depan;

Sertifikat salam;

Sertifikat istishna;

Sertifikat murabahah;

Sertifikat musyarakah;

Sertifikat muzara'a;

Sertifikat musaqa;

Sertifikat mugharasa.

 

Reksadana Syariah

Reksadana syariah secara definitive banyak sekali pengertiannya. Menurut Undang-undang Pasar Modal Nomor 8 Tahun 1995 Pasal 1, ayat (27): “Reksadana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat Pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio Efek oleh Manajer Investasi.”

Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) No. 20/DSN-MUI/IV/2001, reksadana syariah (Islamic investment funds) adalah reksadana yang beroperasi menurut ketentuan dan prinsip-prinsip syariah Islam, baik dalam bentuk akad antara pemodal dengan manajer investasi (wakil pemodal), maupun antara  manajer investasi dengan pengguna investasi.

Perbedaan mendasar antara reksadana konvensional dan syariah terletak pada kebijakan investasi reksa dana syariah adalah berbasis instrumen investasi dengan cara-cara pengelolaan yang halal yang nantinya berefek pada output bisnis itu sendiri. Seperti, tidak melakukan perbuatan riba (membungakan uang) dan tidakmemakai strategi investasi  berdasarkan  spekulasi,  saham,  obligasi dan  sekuritas  lainnya    tidak berhubungan dengan produk minuman keras, produk yang mengandung babi, bisnis hiburan berbau maksiat, perjudian, pornografi, dan sebagainya. (alp/dbs)

 


Back to Top