Ini Fatwa MUI Tentang Wakaf Manfaat dan Investasi Asuransi Jiwa Syariah

gomuslim.co.id- Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Syariah kini semakin berkembang. Salah satu diantaranya adalah asuransi syariah. Namun, masih banyak masyarakat, khususnya umat Islam, yang mempertanyakan kejelasan hukumnya dalam. Pada Oktober 2016 lalu, Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) telah mengeluarkan fatwa tentang Wakaf Manfaat Asuransi dan Investasi Asuransi pada Asuransi Jiwa Syariah.

Berikut dokumentasi fatwa asli yang dipublikasi Dewan Syariah Nasional MUI Pusat:

FATWA

DEWAN SYARIAH NASIONAL-MAJELIS ULAMA INDONESIA

NO: l06/DSN-MUIIXl2016

Tentang

WAKAF MANFAAT ASURANSI DAN MANFAAT INVESTASI PADA ASURANSI JIWA SYARIAH

Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) setelah,

Menimbang

Mengingat: a. bahwa masyarakat, lembaga wakaf, dan Lembaga Keuangan Syariah (LKS) memerlukan penjelasan dari segi syariah tentang hukum mewakafkan manfaat asuransi dan manfaat investasi pada asuransi jiwa syariah;

b. bahwa ketentuan hukum mengenai mewakafkan manfaat asuransi dan manfaat investasi pada asuransi jiwa syariah belum diatur dalam fatwa DSN-MUI;

c. bahwa atas dasar pertimbangan huruf a dan b, DSN-MUI memandang perlu menetapkan fatwa tentang wakaf manfaat asuransi dan manfaat investasi pada asuransi j iwa syariah untuk dijadikan pedoman;

1. Firman Allah SWT

a. Q.S. AI-Maidah (5):1

"Hai orang yang beriman, Penuhilah akad-akad itu.... "

b. Q.S. al-Isra' (17): 34

"...Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya ... "

c. Q.S Ali Imran (3): 92

"Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya ".

d. Q.S.AI-Baqarah (2): 267

"Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu... "

e. Q.S. Al-Maidah (5): 2

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya".

2. Hadis Nabi SAW:

a. Hadis Nabi riwayat al-Nasa'i:

"Diriwayatkan dari Ibn Umar ra, ia berkata: Umar ra berkata kepada Nabi saw., 'saya mempunyai seratus bagian (tanah/kebun) di Khaibar, belum pernah saya mendapatkan harta yang paling saya kagumi melebihi tanah itu; saya bermaksud menyedekahkannya. ' Nabi saw. berkata: 'tahanlah pokoknya dan sedekahkan hasilnya pada sabilillah '."

b. Hadis Nabi Riwayat Imam al-Bukhari:

Dari Ibnu Umar RA, bahwa Umar RA memperoleh sebidang tanah di Khaibar, kemudian menghadap kepada Rasulullah untuk mohon petunjuk. Umar berkata: Ya Rasulullah! Saya mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, saya belum pernah mendapatkan harta sebaik itu, maka apakah yang engkau perintahkan kepadaku? Rasulullah bersabda: bila kau suka, kau tahan tanah itu dan engkau sedekahkan. Berkata Ibnu Umar; 'Kemudian Umar mensedekahkan tanah tersebut, (disertai persyaratan) tidak dijual, tidak diwariskan dan tidak juga dihibahkan. selanjutnya Umar menyedekahkannya kepada orang fakir, kaum kerabat, hamba sahaya, sabilillah, ibnu sabil, dan tamu. Dan tidak dilarang bagi yang mengelola tanah wakaf itu (pengurusnya) makan dari hasilnya dengan cara yang baik dengan tidak bermaksud menumpuk harta.

c. Hadis Nabi Riwayat Muslim:

"Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw. bersabda: 'Apabila seorang manusia meninggal dunia, terputus darinya amalnya kecuali dari tiga hal (yaitu): dari sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya. "

d. Hadis Nabi riwayat Imam al-Tirrnidzi:

"Dari 'Amr bin 'Auf al-Muzanni, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sulh (penyelesaian sengketa melalui musyawarah untuk mufakat) boleh dilakukan di antara kaum muslimin kecuali sulh yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. "

3. Kaidah Fikih :

"Pada dasarnya, segala bentuk muamalat itu boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. "

Memperhatikan

1. Penjelasan para fuqaha mengenai Mauquf bih.

a. Wakaf adalah menahan harta yang dapat dimanfaatkan dan/atau di-istitsmar-kan tanpa lenyap bendanya, dengan tidak menjual, menghibahkan, dan/atau mewariskannya, dan hasilnya disalurkan pada sesuatu yang mubah kepada penerima manfaat wakaf yang ada.

b. Syarat-syarat obyek wakaf menurut pendapat ulama, antara lain adalah:

1) harta yang diwakafkan harus harta yang berharga/bernilai secara syariah (mal mutaqawwam);

2) harta yang diwakafkan harus harta yang sudah jelas dan terukur (ma 'lum); dan

3) harta yang diwakafkan harus harta yang sudah menjadi milik penuh (milk tam) bagi wakif pada saat akad wakaf dilakukan.

2. Surat-surat terkait, yaitu :

a. Surat dari Sun Life Financial Syariah No. 01lE/SHDI 1112015 tanggal 27 Februari 2015 perihal Surat Konfirmasi Program Manfaat Investasi Asuransi Jiwa Syariah untuk Wakaf.

b. Surat dari Lembaga Wakaf AI-Azhar No.019/Dir-

Wakaf/IIl/2014 tanggal 26 Maret 2014 perihal Permohonan Ketetapan Aspek Syariah atas Produk Wakaf Wasiat Polis Asuransi.

c. Keputusan Rapat Kerja DSN-MUI tanggal 11-13 Februari 2016 yang dilaksanakan di Bogor.

3. Fatwa DSN-MUI:

a. Fatwa DSN-MUI Nomor: 21 IDSN-MUIIX/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah;

b. Fatwa DSN-MUI Nomor: 51 IDSN-MUIIIII/2006 tentang Akad Mudharabah Musytarakah pada Asuransi Syariah (Ketentuan Kedua, Ketentuan Hukum, angka 2); dan

c. Fatwa DSN-MUI NO: 85/DSN-MUIIX1II2012 Tentang Janji (Wa'd) Dalam Transaksi Keuangan Dan Bisnis Syariah

4. Fatwa MUI tentang Wakaf Uang tanggal 11 Mei 2002

5. Pendapat peserta Rapat Pleno DSN-MUI tanggal 01 Oktober 2016

MEMUTUSKAN:

FATWA TENTANG WAKAF MANFAAT ASURANSI DAN MANFAAT INVESTASI PADA ASURANSI JIWA SYARIAH.

Pertama: Ketentuan Umum

Dalam fatwa ini yang dimaksud dengan:

1. Wakaf adalah menahan harta yang dapat dimanfaatkan dan/atau di-istitsmar-kan tanpa lenyap bendanya, dengan tidak menjual, menghibahkan, dan/atau mewariskannya, dan hasilnya disalurkan pada sesuatu yang mubah kepada penerima manfaat wakaf yang ada.

2. Manfaat Asuransi adalah sejumlah dana yang bersumber dari Dana Tabarru' yang diserahkan kepada pihak yang mengalami musibah atau pihak yang ditunjuk untuk menerimanya.

3. Manfaat Investasi adalah sejumlah dana yang diserahkan kepada peserta program asuransi yang berasal dari kontribusi investasi peserta dan hasil investasinya.

Kedua: Ketentuan Hukum

1. Pada prinsipnya Manfaat Asuransi dimaksudkan untuk melakukan mitigasi risiko peserta atau pihak yang ditunjuk.

2. Mewakatkan Manfaat Asuransi dan Manfaat lnvestasi pada asuransi jiwa syariah hukumnya boleh dengan mengikuti ketentuan yang terdapat dalam Fatwa ini.

Ketiga: Ketentuan Khusus

1. Ketentuan Wakaf Manfaat Asuransi

a. Pihak yang ditunjuk untuk menerima manfaat asuransi menyatakan janji yang mengikat (wa'd mulzim) untuk mewakatkan manfaat asuransi;

b. Manfaat asuransi yang boleh diwakatkan paling banyak 45% dari total manfaat asuransi;

c. Semua calon penerima manfaat asuransi yang ditunjuk atau penggantinya menyatakan persetujuan dan kesepakatannya; dan

d. lkrar wakaf dilaksanakan setelah manfaat asuransi secara prinsip sudah menjadi hak pihak yang ditunjuk atau penggantinya.

2. Ketentuan WakafManfaat Investasi

a. Manfaat investasi boleh diwakatkan oleh peserta asuransi;

b. Kadar jumlah manfaat investasi yang boleh diwakatkan paling banyak sepertiga (113) dari total kekayaan dan/atau tirkah, kecuali disepakati lain oleh semua ahli waris.

3. Ketentuan Ujrah terkait dengan produk wakaf

a. Ujrah tahun pertama paling banyak 45% dari kontribusi reguler;

b. Akumulasi ujrah tahun berikutnya paling banyak 50% dari kontribusi reguler.

Keempat: Ketentuan Penutup

1. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalui lembaga penyelesaian sengketa berdasarkan syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.

2. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan, akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Jakarta

Pada Tanggal 29 Dzulhijjah 1436 H. 1 Oktober 2016 M.

DEWAN SYARIAH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA

Ketua,                                                                          Sekretaris,

 

 

KH. Ma’ruf Amin                                                        DR. H. Anwar Abbas, MM., M.Ag

Selengkapnya; Silahkan Klik link berikut ini:

Wakaf Manfaat Asuransi dan Manfaat Investasi pada Asuransi Jiwa Syariah

 

 


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top