Asief Ishom

Menebar Dakwah di Bumi Belanda

Dari sebuah penjara besar di Belanda, Asief Ishom—pendakwah yang putra asli Banyumas, Jawa Tengah—menebarkan cinta dan kasih kepada para pesakitan. Berkat dakwah yang mengayomi dan dialogis, satu per satu narapidana imigran Timur Tengah luluh dan kembali menemukan taqwa yang sirna. Setelah pensiun, Ishom tetap melanjutkan jalan dakwahnya di Negeri Kincir Angin.

 

Pengabdian suci itu dimulai tahun 1995  saat Asief Ishom dipercaya oleh otoritas di Belanda untuk membina sekitar 260 orang narapidana di sebuah penjara besar di Scheveningen, Den Haag. Mubaliqh kelahiran 30 Juli 1947 ini semula ditugasi sebagai koordinator staf medis merangkap sebagai imam atau pembimbing rohani narapidana muslim penghuni beberapa rumah tahanan.

Ishom pun membuat perbedaan. Tampil menjadi imam tunggal setelah dua imam lainnya meninggalkan tugas mulia ini. Awalnya sempat grogi  ketika harus menghadapi para bekas pelaku kriminal dengan tampang menyeramkan. Mereka eks pelaku beragam tindak kriminal. Dengan tekad membaja, plus kesabaran dan bahasa dakwah nan lembut, Ishom berhasil menaklukkan hati para narapidana. Satu per satu mereka dapat diajak untuk kembali ke jalan taqwa kepada Allah Swt.

Guna lebih memudahkan kehadiran dirinya diterima dengan tangan terbuka oleh para warga binaan lapas yang mayoritas imigran asal Timur Tengah itu Ishom tidak tampil layaknya seorang pendakwah, yakni berjubah dan bersurban.

Sebagai pembimbing rohani, Ishom yang mantan Sekjen Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa (PPME) ini mengaku tidak mengarahkan, apalagi mendikte mereka untuk menuruti kehendak sang imam. “Semua berpulang kepada mereka. Merekalah penentunya. Kami hanya sekadar menunjukkan jalan yang benar dan apa saja yang harusnya dilakukan seorang muslim,” kata dia.

Ada tiga orang staf yang membantu Ishom menjalani tugasnya, yakni seorang geolog, supervisor saham, dan seorang insinyur dari Shell. Ketiganya warga asli Belanda. Yang patut pula disyukuri, ternyata ketiga orang itu cukup antusias membantu menyadarkan para narapidana muslim, yang sebagian mereka harus menghabiskan sisa umur di balik jeruji penjara.

Ishom yang sudah berdomisili di Negeri Kincir Angin sejak 1976 hingga sekarang itu begitu menikmati pekerjaannya. Terlebih lagi di sini ada penghormatan yang tinggi pada hak asasi manusia (HAM). Makanya, seberat atau sekeji apapun laku kejahatan yang diperbuat, si narapidana tetap diperlakukan secara manusiawi. Itu pula yang menjadi modal dasar guna memantik optimisme hidup para pesakitan. Mereka menjadi mudah disadarkan dan diperbaiki kembali hidupnya. Dicontohkan, ada pria asal Maroko yang akhirnya bertaubat setelah sebelumnya enam kali keluar masuk penjara.

Tahun 2011 Ishom pensiun setelah 16 tahun mengabdi sebagai pembimbing rohani para narapidana. Bersamaan dengan itu jumlah imam yang bertugas seperti dirinya sudah ada 60 orang. Pengganti Ishom ternyata orang Indonesia juga, yakni seorang muslimah pendakwah asal Magelang, Jawa Tengah.

Jalan dakwah Ishom tidak berhenti di gedung-gedung penjara. Dia tetap meneruskan kegiatan dakwah Islam di negeri Belanda hingga sekarang, baik sebagai  penceramah, khatib, dan pembicara di forum-forum keislaman.

 

Mulai Dari Mekah

Jauh sebelum mengembara ke Belanda, Ishom sempat 2,5 tahun studi di Universitas Al Azhar, Kairo, berkat beasiswa yang diterimanya.  Semasa tinggal di Mesir, mantan santri sebuah pesantren di  Kebarongan, Kebumen itu pernah menjuarai lomba penulisan, dengan hadiah naik haji.

Maka berangkatlah Ishom ke Mekah, Arab Saudi, tepatnya pada 1973. Setelah lima bulan bermukim di Kota Suci, dia ditawari pergi ke Eropa oleh teman kuliah yang asal Malaysia. Ishom mantap pergi ke Belanda, dengan alasan ada kerabat sekampung halaman yang bermukim di negeri penghasil keju ini.

Awal-awal di Belanda, Ishom menjadi tenaga honorer di KBRI. Pekerjaan sebagai staf lokal ini dijalani kurang dari setahun. Ishom lalu bekerja di pabrik plastik milik warga Belanda yang beristrikan orang Banyumas, itupun hanya berlangsung sebentar, sekitar 10 bulan.

Selepas itu Ishom menjadi broker di sebuah perusahaan asuransi. Dia mengabdi lumayan lama, sekitar 16 tahun. Bersamaan ada penggabungan perusahaan asuransi dengan perusahaan lain, dia ditawari ikut seleksi menjadi staf medis sebuah rumah sakit yang menangani narapidana. Suami Mimi Sjafudin ini berhasil menyisihkan sebanyak 13 orang pelamar. 

Semasa bekerja di perusahaan asuransi, Ishom juga aktif berkegiatan di organisasi Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa (Young Muslims Association in Europe). Dia tercatat pernah menjadi Sekjen PPME selama 10 tahun. Lantaran hobi menulis, Ishom ditunjuk memimpin majalah dwibulanan Al-Ittihad. Nah, lantaran umur, sejak tahun 1992 dia tidak lagi menjadi pengurus PPME.

Di Belanda Ishom bersama sang istri sempat membuka usaha restoran, tepatnya di kota Den Haag. Namanya restoran “Banyumas”. Sajiannya tentu saja hidangan Nusantara, seperti sayur lodeh, sayur asem, rendang, dan lainnya. Setelah berjalan tujuh tahun akhirnya restoran ditutup. Pasalnya, sang istri sudah tidak sanggup lagi mengurus seiring usia yang menua. “Karena kewalahan tenaga akhirnya restoran kita tutup,” ujarnya mengenang. Kini, restoran sudah tutup, usiapun telah meredup, tapi semangat Ishom untuk terus berdakwah di bumi Belanda tidak pernah menyusut. (dns)


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top