Khofifah, dari Umat untuk Negara

  Bertempat di stadion Gajahyana Malang Jawa Timur, Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat NU Dra Hj Khofifah Indar Parawansa, M.Si menjadi ‘center point’  di atas panggung utama diapit Presiden Jako Widodo dan Gubernur Jawa Timur Sukarwo. Ketiga menjadi bintang dalam peringatan hari lahir ke-70 organisasi perempuan di bawah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Pada Sabtu (26/03/2016). Di hadapan 70 ribu jemaahnya, ia menyaksikan pecah rekor MURI dari 50 ribu penabuh rebana yang sudah menyatu dengan kegiatan Muslimat NU. Siapakah Khofifah yang berpenampilan teduh kharismatis dan cerdas itu?

Tokoh perempuan Indonesia ini menjabat sebagai Menteri Sosial RI, sebelumnya adalah Menteri Pemberdayaan Perempuan pada masa Presiden KH Abdurrahman Wahid (1999-2001). Ia terus berada di atas panggung nasional sejak 20 tahun terakhir. Tercatat dua kali maju sebagai calon gubernur Jawa Timur pada Pilkada tahun 2008 dan 2013, namun belum berhasil. Tidak kapok gagal, ia terus berpartai dan ber-NU. “Karena perjuangan butuh kendaraan. Negara adalah kendaraan sedangkan Muslimat NU adalah rumah berkegiatan,”ujarnya kepada gomuslim melalui sekretaris pribadinya, Sabtu. Khofifah sibuk bernegara atau berkendara kemudian pulang ke rumah NU untuk umat. Demikian dilakukan seterusnya.

Sebelum pemilu 1997, tidak banyak yang mengenal alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga, Surabaya ini. Saat itu ia sudah menjadi anggota DPR RI untuk periode kedua pada masa Orde Baru, tetapi belum muncul ke permukaan sebagai seorang tokoh yang diperhitungkan.  Masyarakat tiba-tiba tercengang ketika ia membacakan pidato kenegaraan paling fenomenal sejak Presiden Soeharto berkuasa. Bahkan ada yang meyakini, pidato Khafifah di forum resmi lembaga tertinggi negara, yaitu  forum Sidang Umum MPR RI pada tahun 1998 itulah pemantik pertama gerakan reformasi nasional atau reformsi 98. Sejak pidato itu, keberanian umum menyatakan pendapat merambat dan merambah ke semua lapisan masyarakat. Saat itulah embrio gerakan reformasi meretas.

Sebagaimana diketahui, ketika pidato disampaikan,  pemerintah Order Baru yang dikendalikan Presiden Soeharto berada di puncak kekuasaaan, semua hal dikendalikan simpul-simpul kekuasaan yang berada di birokrasi dan ABRI/TNI. “Ibarat kata, jarum jatuh di ujung Merauke pun akan terdengar di Jakarta. Tidak satu pun suara berseberangan dengan penguasa yang tidak terdeteksi,”ujarnya.

Jika ada yang berbeda pandangan, akan dianggap mengganggu stabilitas nasional yang ujung-ujungnya akan digebuk. Namun ibu muda kelahiran Surabaya, Jawa Timur, 19 Mei 1965 ini justru melayangkan kritik kepada pemimpin nasional ketika diberi tugas menyampaikan  pidato sikap Fraksi Persatuan Pembangunan (F-PP). Ia menyorot Pemilu 1997 yang penuh kecurangan.

Perempuan cerdas itu melontarkan ide-ide demokratisasi dengan suara lantang. Dia menyampaikan gagasannya di atas panggung seperti seorang mahasiswa sedang berorasi dalam demonstrasi. Kebetulan di luar gedung parleman juga sedang menggeliat gerakan perlawanan terhadap pemerintah meski masih di bawah tanah melalui sistem sel, dari kampus ke kampus. Saat itu umurnya masih muda, 33 tahun. Pantas bergelora membara.

Pidato di gedung DPR/MPR RI itu mengagetkan, membangunkan macan tidur dan mengancam kedudukaannya sebagai wakil rakyat di bawah kendali Ordde Baru. Semua pimpinan fraksi beraut kecut, termasuk fraksi ABRI yang. Bagaimana dapat lolos naskah pidato yang sebelumnya harus dikoreksi pemerintah melalui markas besar ABRI/TNI itu?

Usut punya usut, setelah naskah pidato asli dari FPP dikirim ke Mabes ABRI / TNI di Cilangkap, ia latihan berpidato di rumah. “Saya punya kebiasaan selalu membaca berulang-ulang sebelum tampil di muka umum. Bahkan, di rumah pun saya membuat simulasi dan catatan-catatan kecil. Isi pidatonya memang memuji-muji pemerintah Soeharto. Bahkan, pembantu saya berkomentar, kok hanya memuji," cerita Ketua Muslimat NU tiga periode ini.

Sebelum dibacakan di depan MPR, naskah itu juga dibaca secara resmi dalam forum internal anggota FPP. Di depan koleganya itu, suara hilang, Khofifah hanya diam terpaku. Sejumlah anggota FPP langsung mengusulkan agar Khofifah diganti. Namun, beberapa tokoh senior FPP saat itu, seperti Yusuf Syakir dan Hamzah Haz, tetap mempertahankan Khofifah. Lantas, Khofifah diajak bertemu Buya Ismael Hasan Metareum (ketua umum PPP) waktu itu.
Khofifah ditanya apa yang menyebabkan suaranya tak keluar. "Isi naskah tak sesuai dengan hati nurani saya," jawab Khofifah. Dia tidak sreg dengan pidato yang memuji Orba itu. Lantas, para pemimpin PPP memutuskan merombak naskah pidato tersebut agar suara Khofifah keluar lantang seperti biasnya. Urusan merombaknya pun diserahkan kepada yang membaca. Saat itulah ia keluarkan isi pemikirannya.

"Saya tulis sesuai dengan hati nurani. Sekitar 90 persen isi naskah saya ganti," cerita Khofifah. Saat naik ke podium SU MPR, Khofifah begitu percaya diri. Dia berbicara dengan lantang. Mengkritisi gaya pemerintah yang mengekang demokratisasi. Mengungkit pemilu yang berada dalam kekangan pemerintah. Acara disiarkan secara langsung. Para penonton TV di seluruh nusantara yang saat itu sudah dijangkiti sikap apatis terhadap Orba pun bertepuk tangan.

Pidato Khofifah itu menjadi catatan sejarah. Itu pidato formal di forum formal yang secara terbuka mengkritik rezim Soeharto yang tengah berkuasa. Pidato ini melambungkan Khofifah sebagai tokoh dari kalangan perempuan yang disegani di tanah air hingga kini, dan pada puncak acara Harlah ke-70 Muslimat NU yang ia pimpin itu seperti hadiah atas kiprahnya berkhidmat kepada rakyat melalui Muslimat NU. Sebagai seorang pemantik gerakan reformasi yang membebaskan negeri ini dari totalisme obsolut, Khafifah juga pantas dinobatkan sebagai tokoh bangsa yang bernegara untuk umat dan sebaliknya dari umat Khafifah untuk Negara. Dirgahayu, semoga sehat dan berjaya. (mm)


Nama Lengkap
Khofifah Indar Parawansa

Tempat, Tanggal Lahir
Kota Surabaya, Jawa Timur, 19 Mei 1965

Jabatan
Menteri Sosial RI (2014-19)

Menteri Pemberdayaan Perempuan (1999-2001)

Anggota DPR RI (1992, 1997, 1999, 2004)

Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Taruna, Surabaya ( 1989 )
Dosen Universitas Wijaya Putra, Surabaya ( 1991 - 1992 )

PENDIDIKAN :
- SD Taquma, Surabaya ( 1978 )
- SMP Khadijah, Surabaya ( 1981 )
- SMA Khadijah, Surabaya ( 1984 )
- Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah, Surabaya ( 1989 )
- Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Airlangga (Unair), Surabaya ( 1991)
- Magister Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI), Jakarta ( 1997 )


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top