Penggemar Kertas Usang Arsip Nasional

Dien Madjid, Pemotret Haji Masa Kolonial

 

Jakarta (gomuslim) - Haji tak hanya sebentuk ritual ibadah bagi Muslim, tetapi juga menyimpan kronik sejarah yang menarik dan dapat dijadikan i’tibar (bahan pelajaran). Suka duka perjalanan haji merupakan satu “jalan ibadah”—semacam bentuk pengorbanan, sebagaimana kata/istilah ini berakar pada Qaraba – Qurban (Q-R-B), jalan berkorban harta benda, bahkan jiwa, untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kronik sejarah perjalanan haji cukup baik ditangkap oleh Prof. Dr. Dien Madjid dan disajikan dalam bentuk buku yang berbau kronik peristiwa perjalanan haji dan pelayanannya.

Pria paruh baya ini kelahiran Takengon, Aceh Tengah, 6 Juli 1949 lalu. Pendidikan di masa kecilnya ditempuh di Sekolah Rendah Islam Negeri, lalu melanjutkan ke Pendidikan Guru Agama Negeri selama enam tahun di Takengon. Gelar sarjana muda (1973) dan Sarjana lengkap (1977) ia peroleh dari jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam. Gelar doktor di bidang Sejarah dan Peradaban Islam ia dapat dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2002). Selain buku Berhaji di Masa Kolonial sebenarnya banyak karya tulis seputar sejarah ada yang diterbitkan dalam buku dan berupa makalah yang sudah disampaikan di seminar-seminar nasional dan internasional.

Ketekunan menggali data dan informasi dari lembar-lembar arsip membuat ia dijuluki penggemar kertas usang Arsip Nasional (ANRI). Tapi buahnya jadilah buku kronikal sejarah pelayanan dan perjalanan haji di masa kolonial. Dan tentu saja karya-karya yang lain.

Kebijakan perhajian di masa kolonial juga tidak terlepas dari sorotan kajian Dien. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, jumlah jamaah haji dari Nusantara meningkat, pernah sampai 40 persen dari seluruh jamaah haji yang datang dari berbagai belahan dunia berasal dari Nusantara. Peningkatan dari tahun ke tahun itu dibaca oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai sumber ekonomi, selain selama ini perjalanan haji adalah juga persoalan politik. Sehingga pemerintah Hindia Belanda memegang kontrol dan pengawasan terhadap para jamaah haji yang berangakat maupun sudah pulang dari Mekkah.

 

Orang pribumi berangkat haji bisa bertolak dari Singapura atau Malaka, ini dipandang oleh Belanda sebagai suatu yang merugikan pemerintah secara ekonomi. Profesor Dien Madjid menemukan kekhawatiran pemerintah Hindia Belanda jika seorang muslim berangkat haji dari Singapura maka hal itu akan mengurangi pendapatan pemerintah, karena semua kebutuhan layaknya orang pergi haji dibeli di Singapura. Segera pemerintah mengoperasikan semua embarkasi yang dianggap layak dan mampu disinggahi kapal bertonase besar.

Di lain kisah, Dien menemukan cerita orang berangkat haji tapi tertahan tak sampai ke Mekkah Mukarromah. Ia hanya sampai di Singapura dan karena kehabisan bekal akhirnya ia bekerja di pelabuhan, di lain cerita lain orang, ada yang bekerja di perkebunan-perkebunan. Tetapi bekal tak kunjung juga terpenuhi sebagai ongkos pergi haji. Akhirnya kemudian memutuskan pulang, namun saat pulang mengenakan pakaian haji. Mereka menyandang gelar haji dan di kampung juga mengenakan pakaian haji. Masyarakat di lingkungannya tak tau kalau itu hanya “Haji Singapura”. Haji yang tak pernah benar-benar sampai ke tanah suci. Apa benar juga ada istilah haji Tanah Abang? Yang konon pamit ke masyarakat lingkungannya untuk berhaji? Tetapi sebenarnya konon tinggal beberapa waktu di Jakarta, dari hotel ke hotel, lalu belanja oleh-oleh pernak-pernik haji di Pasar Tanah Abang. Kalau yang ini Prof Dien belum menelitinya, barangkali karena belum ada arsip yang ditemukan.

Karya-karya Dien Madjid terkait dengan kronik sejarah Islam atau sejarah lokal hampir semua tersusun dari mozaik cerita yang ditemukan dari arsip dan data-data di atas kertas yang biasa ia lakukan dengan meneliti dan mengkajinya di Arsip Nasional atau sumber-sumber primer lainnya.

Lalu bagaimana  setelah jadi buku atau karya ilmiyah? Ia pernah bercerita untuk menerbitkan buku, terutama “Berhaji di Masa Kolonial” ia mendirikan badan hukum sendiri untuk meramu sebuah organisai penerbitan sederhana hingga karyanya jadi buku, lalu disebar di toko-toko buku. Modalnya tak seberapa, katanya, hanya memerlukan beberapa lembar rupiah, tetapi biaya kerja keras menyebarkan dan menjual itu “harga mahal” yang pernah ia lakukan sebagai penulis dan guru besar bidang sejarah.

“Meski untungnya juga tak seberapa, biar lah itu cukup sebagai imbalan untuk menerbitkan buku sendiri,” katanya kepada gomuslim dengan tutur logat Aceh.

Pribadi yang sederhana dan gambaran ketekunan bisa nampak saat berbincang-bincang denganya. Dien Madjid selain menjadi dosen dan guru besar di lingkungan Universitas Islam Negeri ternama di Jakarta, ia juga menjadi pengajar di beberapa kampus. Di periode yang lalu pernah dipercaya menjadi rektor sebuah kampus swasta, dan telah banyak melakukan kerja sama baik sebagai pribadi ahli sejarah maupun mengatasnamakan institusi di mana ia mengabdi saat ini dengan kampus-kampus berafiliasi ke kajian sejarah.

 

Karya Diterbitkan:

“Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh Tenah dan Kaitannya dengan Perlak dan Pasai”, dalam Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, A. Hasymi (ed), Maarif, Bandung 1981.

“Selintas Tentang Keberadaan Islam di Bumi Sriwijaya,” dalam Masuk dan Berkembangnya Islam di Sumatera Selatan, KHO. Gajahnata dan Sri Edi Swasono (ed), Universitas Indonesia Press, Jakarta 1986.

“Pasar Angkup: Studi Kasus Perilaku Pasar di Aceh Tengah,” dalam Perdagangan Pengusaha Cina dan Perilaku Pasar, Pustaka Grafika Kita Jakarta, 1988.

“Het Institute Agama Islam Negeri (IAIN) (Hoger Islamitisch Onderwijs)”, dalam Majalah Orion Jaargang 6 Nummer 4, NV. Noord Netherlandse Drukkerij, 1990.

Sejarah Kabupaten Tangerang (editor) diterbitkan Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Tangerang kerja sama dengan Lembaga Penelitian Pengabdian Masyarakat (LPPM) UNIS Tangerang 1992.

Kemal Idris Bertarung dalam Revolusi, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta 1996.

Jakarta – Krawang – Bekasi dalam Gejolak Revolusi: Perjuangan Moeffreni Mu’min, Jakarta: Keluargaaa Moeffreni Mu’min, 1999.

“Berhaji Tempo Dulu dengan Kapal Laut” dalam Edi Sedyawati dan Susanto Zuhdi, Arung Samudra, Persembahan Memperingati Sembilan Windu A.B Lapian, Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Lembaga Penelitian Universitas Indonesia bekerja sama dengan IKAPI, Depok 2001.

Kharis Suhud: Catatan Seorang Prajurit, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta 2002.

“Menelusuri Sejarah Melalui Arsip” dan “Jaringan Perdagangan Masa Islam di Indonesia” dalam Sudarnoto Abdul Halim, Islam dan Konstruksi Ilmu Peradaban dan Humaniora, UIN Press 2003.

Dan lain-lain.

Hari ini, Dien yang masih aktif mengajar di UIN Jakarta ini dikenal sebagai penulis terbaik perjalanan haji pada masa kolonial. Perburuannya hingga perpustakaan Belanda KITLV untuk mendapatkan catatan historis itu melahirkan karya rujukan di bidang sejarah haji Indonesia yang menumental dan fenomenal. (bud)

 


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top