Menguak Guru Spiritual R.A. Kartini

'Habis Gelap Terbitlah Terang' Ternyata Cuplikan dari Alquran

Jakarta, (gomuslim). Bukan surat-surat kepada para sahabatnya di Eropa yang dibukukan oleh J.H. Abendanon dengan judul Door Duisternis Tot Licht yang membuat Raden Ajeng Kartini mendapatkan pencerahan. Bukan, meski Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan dan Agama Hindia Belanda dan berperan dalam menguak gagasan dan pemikiran besar RA Kartini yang mencerahkan. Bahkan berkat kerja kerasnya, surat-surat itu menjadi buku diterbitkan pada 1911, dicetak sebanyak lima kali saat itu. Dalam buku itu terdapat lampiran surat RA Kartini lengkap dengan kutipan ayat suci Alquran 'minadzulumati ilannur' atau keluar dari kegelapan menuju pencerahan yang kemudian dijadikan judul buku 'Habis Gelap Terbitlah Terang'. Dari mana datangnya gagasan RA Kartini itu? Siapa guru spiritualnya?

Belum banyak yang mengetahui bahwa ada seorang kiai besar dan berpengaruh yang sesungguhnya lebih banyak berperan dalam membentuk pencerahan RA Kartini , yaitu sosok  arif bijak (Al Arif billah) Mumammad Soleh bin Umar Assamarani atau akrab dikenal KH Soleh Darat Semarang. Kartini yang tengah haus ilmu agama banyak menimba pengetahuan dari sang kiai. Namun mengapa nama sang romo kyai, demikian Kartini memanggilnya, tak ditemukan dalam kisah hidup Kartini yang ditulis dalam buku-buku sejarah nasional kita?

Cucu KH Soleh Darat, Fadhilah Soleh, mengisahkan sepenggal peristiwa penting pertemuan antar RA Kartina dan Kiai Soleh Darat, yang cukup monumental. Dalam sebuah pengajian di pendopo rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat yang juga paman RA Kartini muncul dialog yang terlalu vulgar di zamannya. Sang Kiai saat itu tengah menerangkan tafsir surat Al Fatihah.

Pengajian hampir usai, RA Kartini yang ikut menyimak, tak kuasa untuk menyampaikan sesuatu kepada Kiai Sholeh Darat di akhir acara. “Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.

Kyai Sholeh tertegun. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.

“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Al Quran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini. “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah,”lanjutnya. “Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Dari peristiwa itu, selanjutnya dua tokoh ini bisa dikatakan telah saling menginspirasi berbuat perubahan di tanah Jawa. Kartini memperoleh pencerahan spiritualitas tinggi akan emansipasi dan keluhuran budi pekerti yang diajarkan Islam. Sementara KH Soleh Darat terinspirasi untuk membuat tafsir Al Quran berbahasa Jawa dengan aksara Arab pegon “Faidlur Rahman fi Tafsiril Quran”.  Kelak karya penafasirannya ia hadiahkan kepada Kartini.

Saat mempelajari Islam lewat tafsir berbahasa Jawa inilah muncul ungkapan idiomatik yang cukup terkenal dari RA Kartini, “Habis gelap terbitlah terang”, yang mencerminkan hubungan pencerahan guru terhadap muridnya. Sebenarnya secara redaksi, ungkapan itu merupakan gubahan ritmis Armijn Pane yang mengkodifikasi surat-surat RA Kartini untuk jadi buku. Aslinya adalah “Dari gelap menuju cahaya”, ungkapan yang terinspirasi oleh Al Quran surat Al Baqarah ayat 257;

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan  kepada cahaya.”(Q.S:2:257)

Ungkapan itu yang dalam bahasa belanda Door Duisternis Toot Licht kerap dibawa-bawa oleh Kartini saat menulis surat untuk kolega Belandanya. Ia terkesan dengan ungkapan mendalam Minazh-Zhulumaati ilan Nuur dari ayat 257 Al Baqarah itu.

Sejak pertemuannya dengan KH Soleh Darat itulah, Kartini mengalami banyak pencerahan dan keberanian mengutarakan pandangan-pandangannya. Baik bersifat otokritik terhadap budaya tradisi keningrata Jawa yang rumit atau kritik terhadap pemerintahan Hindia Belanda. Kritik itu akan ditemukan dalam surat-surat yang ia kirimkan ke teman atau instasi pemerintah Belanda. Inilah sebenarnya awal dari yang dimaksud “Dari gelap menuju cahaya”, sebuah emansipasi Islam yang tak hanya untuk perempuan tetapi bagi perubahan secara menyeluruh hidup manusia dari “kegelapan” ke “cahaya”—yang telah dimulai oleh seorang perempuan RA Kartini!

Emansipasi Islam ini sebenarnya ia usahakan juga untuk ditularkan kepada teman-teman penanya. Berikut antara lain surat-surat pencerahan Kartini kepada teman bangsa kulit putih;

Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban.

Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan.

[Surat kepada Nyonya Abendanon, 27 Oktober 1902]

Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai.

[Surat kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902]

Lalu dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, RA Kartini menulis;

Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah.

Rupanya tafsir surat Al Fatihah yang dipelajari dari Kiai Sholeh Darat itu telah membuka kabut kegelapan wawasan RA Kartini hingga ia menemukan Cahaya Islam. Kiai Sholeh Darat adalah gurunya para guru di Jawa, dan tidak sedikit ulama berpengaruh di tanah air saat ini adalah anak cucu Kiai Sholeh Darat, termasuk Mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid yang sering berziarah ke makamnya. RA Kartini telah mengeluarkan kegelapan pemikiran menuju pencerahan. Ia meninggal saat berjuang menempuh proses persalinan di Rembang, Jawa Tengah, pada 17 September 1904 dalam usia 25 tahun. Setelah Kartini wafat, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan RA Kartini pada teman-temannya di Eropa hingga pencerahannya dapat dibaca hingga hari ini. Itulah percikan pencerahan dari kitab suci Alquran yang dipelajari RA Kartini dari Kiai Shaleh Darat.   (boz)

 


Komentar

  • Iman Santoso

    20 April 2017

    Syukur

    Alhamdulilkah, akhirnya saya menemukan tulisan yg saya cari sejak 1990 dan waktu itu blm ketemu. Terus terang saya hampir lupa akan pencarian ini, sampai sahabat saya mengingatkan makna hari yg akan kita rayakan besok. Tidak ada agama yg mengajarkan yg buruk2, tidak ada agama yg tidak mencerahkan nanusia dari kegelapan.


    Reply






















Tulis Komentar


Back to Top