Hardiknas

Korelasi dan Relevansi Konsep Ki Hajar dan Pendidikan Islami

Jakarta, (gomuslim). Ada korelasi dan relevansi antara konsep pendidikan Islam dan gagasan pendidikan yang dipopulerkan oleh tokoh Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara. Dalam prinsip pendidikan Islam berpangkal dari pandangan Islam secara filosofis terhadap jagad raya, manusia, masyarakat, ilmu pengetahuan dan akhlak. Pandangan Islam terhadap masalah-masalah tersebut melahirkan berbagai prinsip dalam pendidikan islami yang kemudian oleh Ki Hajar Dewantara dirumuskan dalam pendidikan yang mengutamakan kemerdekaan lahir dan batin, yaitu kemampuan untuk mengatur kehidupan dunia dan lingkungan sedemikian rupa, dengan secara suka rela dan ikhlas tidak melawan sunnatullah, secara jujur dan penuh keluhuran budi.

Dalam metodologi pendidikan, metode yang digunakan Ki Hajar Dewantara tidak jauh berbeda dengan metode yang digunakan pada masa sekarang yaitu antara lain: metode latihan, metode bermain peran, metode demonstrasi, metode pemberian tugas, metode tersebut digunakan Ki Hajar untuk mencapai tujuan pendidikan yang ia rumusan, yaitu diantara satu dan lainnya saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan.

Dalam tujuan pendidikan, yang dianjurkan Ki Hajar Dewantara adalah untuk mengerakkan jiwa anak sebagai bangsa bermaksud membimbing anak untuk menjadi manusia yang bisa hidup dengan kecakapan dan kepandaian, berbuat sesuatu yang berguna tidak saja untuk dirinya tetapi juga untuk kepentingan masyarakat. Dengan demikian konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara dengan konsep pendidikan Islam memiliki relevansi.

Nilai kepemimpinan ajaran Ki Hajar Dewantara masih tak kalah dobrak dengan konsep-konsep kepemimpinan modern. Seketika nilai kepemimpinan “lama” tersebut terasa mendesak untuk diangkat kembali. Jika melihat perkembangan mental budaya dan karakter kepemimpinan di segala level sekarang ini. Tokoh kelahiran 2 Mei 1889 di Yogyakarta itu, telah mengguratkan tiga prinsip pedagogis pendidikan  universal anak manusia untuk membentuk jiwa dan mental kepemimpinan generasi bangsa ini.

Pertama berprilakulah sebagai pemimpin yang dapat memberikan teladan yang bajik—tidak sekedar baik. Kedua jadilah pribadi yang memberikan angin segar bagi tumbuhnya prakarsa-prakarsa kebajikan bagi pembangunan manusia. Tentu pembangunan manusia ini ialah pembangunan mental dan budaya—bukan sisi materialnya belaka. Lalu ketiga ialah jangan menjadi penonton peristiwa perubahan, atau berdiri di belakang tanpa berbuat apa-apa sementara perubahan tengah terjadi. Jika tak mampu menjadi pemimpin yang memberi teladan atau tak bisa menyemangati prakarsa perubahan, sekurangnya jadilah pendorong dan ikut aktif bergerak dalam krumunan massa yang bertindak. “Tut wuri handayani”—itulah jiwa kepemimpinan kependidikan (pamong) seorang Ki Hajar Dewantara.

Dalam gagasan besar konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara, pemimpin tak ubahnya seorang pamong (pemimpin pendidik/guru); dan pamong adalah sebentuk konsep kepemimpinan mendidik (edukatif) yang memerdekakan anak manusia untuk bertindak menurut talenta dasar (nature)nya dan kekayaan pengetahuan/keterampilan yang telah diperoleh melalui kepengasuhan/pendidikan (nurture)nya. Hidup itu adalah “sekolah alam”—kira-kira begitulah apa yang ada di dalam gagasan Pendidikan Pembebasan Ki Hajar Dewantara.

Ki Hajar Dewantara sebenarnya bernama asli RM Soewardi Soerjaningrat, terlahir dari kalangan bangsawan Pakualaman. Ia adalah cucu Paku Alam III. Kelak ketika usianya beranjak 40 tahun dalam hitungan Jawa Saka ia berganti nama Ki Hajar Dewantara, dan tak pernah lagi menggunakan gelar kebangsawanannya. Alasannya agar ia lebih dekat dengan rakyat pribumi yang hendak ia bangunkan mental dan jiwa kepemimpinannya.

Soewardi terlihat sosok pribadi yang berkarakter kuat, jika dilihat dari tulisan-tulisannya di beberapa media pergerakan saat itu. Terutama De Express yang pernah memuat tulisan pedasnya “Andai Saya seorang Belanda,” menyindir pemerintah kolonial Belanda yang meminta sumbangan perayaan hari kemerdekaannya dari Perancis ke kaum bumi putra. Sepakterjangnya di dunia pergerakan pra kemerdekaan mencerminkan “pemberontak” emansipatoris, seperti saat menggerakan Budi Utomo bersama bersama teman karibnya Dowe Dekker aliar dr. Setyabudi Danurdirdja dan dr. Cipto Mangunkusumo— yang kelak dikenal sebagai tiga serangkai. Saat aktif di seksi agitasi propaganda Boedi Oetomo ia tak hanya menganjurkan orang lain, tapi juga menggerakkan untuk berbuat dan bertindak melakukan perubahan. Dalam konteks saat itu ialah mencapai Indonesia merdeka.

Konsep pendidikan yang dikembangkannya tak hanya menyapa akal pikiran saja (kecerdesan intelektual), namun juga rasa-pikiran, jiwa (spirit), dan kesadaran untuk merdeka berbuat dan berekpresi. Baginya kemerdekaan dalam diri anak manusia itu tidak bisa dibatasi, sehingga kemerdekaan itu sendiri bagi Bangsa Indonesia, saat itu, adalah suatu keharusan yang segera terjadi.  “Kemerdekaan itu ialah tak ada batas. Batasnya adalah tertibnya kedamaian masyarakat. Andai kemerdekaan perbuatan seseorang itu melampaui batasnya yakni tertibnya kedamaian orang lain, maka dia telah mengganggu kemerdekaan orang lain pula.”(Ki Hajar Dewantara).

Trilogi kepemimpinan Ki Hadjar Dewantara yang terangkum dalam Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani sejatinya adalah konsep pendidikan membangun karakter manusia Indonesia yang indegenus, independen dan membebaskan. Tanpa keteladanan pimpinan di depan (ing ngarso), pro-aktif mengikuti dinamika dalam masyarakat (ing madyo), kemudian menerapkan pembinaan/pengawasan melekat (tut wuri), maka pemahaman dan pelaksanaan pendidikan yang memerdekakan jiwa masyarakat mustahil dapat tercapai. Kalau pemimpin hanya bisa memerintah, tidak bisa memberi tauladan yang baik, hanya mementingkan pribadi atau golongannya saja, tidak bisa melakukan pembinaan dan pengawasan, maka fungsi pamong (pemimpin pendidik) ini tidak sesuai dengan cita-cita dan keinginan pembangunan manusia Indonesia versi Ki Hajar Dewantara. Karena hal itu dianggap menyimpang dari pengertian sistem among—sebuah istilah dasar dalam trilogi tersebut.

 

Ki Hadjar Dewantara pada saat mendirikan Tamansiswa 1922 menetapkan 7 azas pendidikan yang salah satu butir pertama berbunyi: “Sang anak harus tumbuh menurut kodrat (natuurlijke groei) itulah perlu sekali untuk segala kemajuan (evolutie) dan harus dimerdekakan seluas-luasnya. Pendidikan yang beralaskan paksaan-hukuman-ketertiban (regering-tucht en orde) kita anggap memperkosa hidup kebatinan sang anak. Yang kita pakai sebagai alat pendidikan yaitu pemeliharaan dengan sebesar perhatian untuk mendapat tumbuhnya hidup anak, lahir dan batin menurut kodratnya sendiri. Itulah yang kita namakan Among Methode.”

Selanjutnya butir ke-2 Azas Tamansiswa 1922 berbunyi “Pelajaran berarti mendidik anak-anak akan menjadi manusia yang merdeka batinnya, merdeka fikirannya dan merdeka tenaganya.” Dan masih dalam Azas Tamansiswa butir 2 disebutkan pula “Pamong jangan hanya memberi pengetahuan yang perlu dan baik (menurut silabus) saja, akan tetapi harus mendidik siswa mencari sendiri pengetahuan itu dan memakainya guna amal keperluan umum.”

Pendidikan dalam gagasan Ki Hajar Dewantara rupanya bukan sekedar transformasi pengetahuan dari guru kepada murid. Tetapi adalah sebuah proses Among, yang berangkat dari keluhuran budi pekerti seorang pamong untuk menyempurnakan budi pekerti manusia lainnya.

 


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top