KHA Wahid Hasyim: Penghulu Perkawinan Islam dan Nasionalisme

Jakarta, (gomuslim). Selain Sukarno, tokoh lain yang berperan dalam rumusan lima sila sebagai dasar negara adalah anggota dari Tim Sembilan dan dalam tim ini, ada sosok paling muda, paling disegani keilmuan agamanya, putra seorang ulama besar pendiri organisasi Islam terbesar dan pengasuh pesantren tua di tanah air. Ia adalah Abdul Wahid Hasyim. Kehadirannya di badan-badan persiapan kemerdekaan dianggap mewarnai kontur Islam dan Nasionalisme di tanah air, hingga tercetus Pancasila pada 1 Juni 1945, kemudian disempurnakan dalam Tim Sembilan beberapa hari setelahnya.

Seperti diketahui, sebelum meninggalkan Indonesia, pemerintah pendudukan Jepang membentuk Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai pada akhir tahun 1944. Badan ini sebenarnya dibentuk untuk menyelidiki persiapan rencana Indonesia merdeka. Tetapi di dalam proses sidang-sidang yang dilakukan, persiapan untuk menyusun negara merdeka itu rupanya sampai juga pada pembahasan dasar negara. Belum kemerdekaan itu didapat, dua kelompok yang membawa pandangan dan paham politik kenegaraan berbeda yaitu golongan nasionalis dan agama bergulat dalam polemik yang hampir membelah persatuan. Sehingga diputuskanlah untuk dibentuk kelompok panitia kecil berjumlah 9 orang dari 38 anggota sidang yang sebelumnya telah diberi amanat membahas pokok-pokok dasar berdirinya negara.

Dalam pidato Sukarno selaku bagian dari kelompok 38, dalam sidang BPUPKI tanggal 10 Juli 1945, mengatakan;

“Sebenarnya adalah kesukaran mula-mula antara golongan yang dinamakan Islam dan golongan yang dinamakan kebangsaan. Mula-mula ada kesukaran mencari kecocokan paham antar kedua golongan itu, terutama yang mengenai soal agama dan negara, tetapi sebagai tadi saya katakan, Allah Subhanahu wata’ala memberkati kita sekarang ini; kita sekarang ini sudah ada persetujuan.”

Yang dimaksud persetujuan oleh Sukarno itu ialah keberhasilan panitia kecil ini untuk mencapai suatu modus vivendi antara dua gagasan yang bertolak belakang mengenai dasar negara yang didorong oleh satu kelompok Islam dan satu lagi kelompok nasionalis. Panitia 9 ini akhirnya menyetujui rancangan pembukaan UUD Republik Indonesia, yang sebenarnya adalah rancangan teks proklamasi sedianya akan dibacakan secara resmi. Tetapi pihak Jepang belum menentukan tanggal proklamasi sehingga pembahasan tentang teks proklamasi itu tidak dianggap ada oleh Jepang (R.M. AB. Kusuma: 2004). “Teks Proklamasi” yang dihasilkan oleh Tim-9 ini kemudian lebih dikenal sebagai Piagam Jakarta, ditandatangani secara sah sebagai preambul dasar negara pada tanggal 22 Juni di Jakarta.

dfefrgMenariknya dalam tim sembilan ini hadir sosok Abdul Wahid Hasyim (1914-1953), putra ulama besar yang berpengaruh dalam revolusi kemerdekaan, KH Hasyim Asy’ari. Ia ditunjuk sebagai anggota termuda di dalam kelompok 9 yang ditugasi menyusun dan mengurai polemik soal dasar negara. Tokoh lainnya adalah Sukarno, Mohammad Hatta, A.A. Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Abdul Kahar Muzakkir, Haji Agus Salim, Achmad Soebardjo, dan Muhammad Yamin.

Pemuda Wahid Hasyim memiliki kematangan politik, meski masih tergolong belia ia memiliki jaringan gerakan lintas golongan dan kelompok aliran. A Wahid Hasyim dilahirkan di Jombang, Jawa Timur, 1 Juni 1914. Usianya saat menjadi anggota BPUPKI itu baru 31 tahun. Antara usia 20-an, Wahid sudah diserahi kepemimpinan di organisasi NU. Saat usianya 24 tahun ia diangkat sebagai anggota Pengurus Besar NU. Sehingga ia telah menjadi piawai dalam organisasi politik dan gerakan massa. Dalam kesempatan memimpin NU, pada 1939 ia mampu membawa masuk NU ke dalam MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia), sebuah perkumpulan yang menjadi wadah organisasi-organisasi Islam.

Wahid Hasyim juga punya pengalaman pernah mendirikan organisasi kepemudaan Islam.  Bersama M Natsir dan Anwar Cokrominoto, dia menggalang gerakkan pemuda Islam yang kemudian diberi nama GPPI (Gerakan Pemuda Islam Indonesia). GPPI lahir  pada tanggal 2 Oktober 1945, sebagai organisasi politik pemuda yang memiliki kecenderungan radikal. Namun sosok Wahid Hasyim sendiri dikenal sebagai sosok moderat. Sikap moderat ini buah dari pengatahuan yang didapatnya yang bersumber dari khasanah pesantren, yang menitikberatkan pada sikap tawazun dan kearifan. Sebegaiamana diketahui, pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang memiliki pijakan pengembangan pengetahuan dan kepribadian yang bersumber pada tradisi sufistik Al Ghazali, Kalam Asy’ariyah dan Fiqih Syaifiiyah—terbilang moderat dan bijak.

Usai masa revolusi dan Indonesia merebut kedaulatannya, Wahid Hasyim diangkat menjadi Menteri Agama dalam Kabinet Hatta (20 Desember 1949 - 6 September 1950). Jabatan sebagai Menteri Agama ini ia duduki dalam dua kabinet berikutnya secara berturut-turut. Yaitu dalam Kabinet Natsir (6 September 1950 – 27 April 1951) dan Kabinet Sukiman (27 April 1951 – 3 April 1952). Selama berkiprah dalam pemerintahan banyak langkah penting dalam reformasi pendidikan Islam yang ia lakukan. Terutama dalam pendidikan pesantren yang telah ia lakukan sejak diajak oleh ayahandanya KH Hasyim Asy’ari membina pesantren Tebuireng, Jombang. Karena itu, ia juga dikenal sebagai sosok kiai tradisionalis yang telah memajukan khasanah pesantren di panggung modern.

Berkah jabatan sebagai Menteri Agama, KHA Wahid Hasyim mewajibkan pendidikan agama di lingkungan sekolah umum, mendirikan sekolah guru agama, pendirian Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri pada 15 Agustus 1951 yang berkembang menjadi 14 lembaga PTAIN di beberapa propinsi. Sebagain diantaranya telah menjadi Universitas Islam Negeri (UIN), beberapa masih Institut Agama Islam negeri (IAIN), dan sekolah tinggi (STAIN). Keberadaan kementerian yang mengurusi soal agama itu sendiri merupakan berkah dari perjuangannya dalam mengawal negara dengan panduan nilai-nilai Agama memaknai kemerdekaannya.

Sosok KHA Wahid Hasyim ini tak ubahnya seperti kitab klasik berjilid-jilid yang tak akan tuntas dibaca dalam semalam. Terlalu banyak kiprah dan teladan yang ditorehkannya dalam usianya yang begitu singkat. Ia wafat, usianya baru 38 tahun, dalam sebuah insiden kecelakaan saat hendak menghadiri rapat organisasi NU di Bandung pada tahun 1953. Tapi sosok jenius, ini rupanya juga tercermin di putra sulungnya—Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Jika Gus Dur dapat melahap buku berjilid dengan kelebihan ingatannya yang di atas rata-rata, maka Wahid Hasyim memiliki kemampuan mengetik dengan dua mesik ketik sekaligus dengan tangan kanan dan kirinya. Bukan sekedar 10 jari lagi.

Berkat kiprah KHA Wahid Hasyim dan sejawatnya baik di BPUPKI, PPKI dan Tim Sembilan yang merumuskan Pancasila itulah hingga hari ini bangsa Indonesia dapat menikmati indahnya bersatu dalam Negara Kesantuan Rapublik Indonesia meski berbeda agama, suku dan golongan. Dapat dibayangkan, sebagai wakil kelompok mayoritas, jika sedikit saja mementingkan diri sendiri, tentu bangunan NKRI tidak seperti hari ini. Islam ia kawinkan dengan nasionalisme yang seolah tidak mungkin disatukan sebelumnya, namun di tangan KHA Wahid Hasyim, semua itu selesai dalam meja musyawarah. Ia adalah penghulu Islam dan Nasionalisme di Indonesia. (boz)

 


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top