KH Abdullah Syafi'i: Tajam ke Atas Kritiknya, Teduh ke Bawah Ilmunya

Jakarta, (gomuslim).  Pada tanggal 22 Juni 2016 ini Jakarta berulang tahun ke-489 tahun, sebuah peringatan hari jadi yang istimewa bagi umat Islam karena berlangsung di tengah umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan. Ada yang patut diingat kembali, bahwa umat Islam di Jakarta pernah memiliki seorang tokoh yang namanya melekat di Ibukota. Tokoh itu adalah KH Abdullah Syafi'i, ulama yang dijuluki "Macan Betawi" pada masa Orde Lama dan Orde Baru.

Nama KH Abdullah Syafi’i identik dengan Pesantren dan Perguruan Assyafi’iyyah, sebagai salah satu lembaga pendidikan yang cukup berpengaruh di Ibukota. Selain itu nama tokoh ini juga melekat dalam ingatan warga Ibukota karena menjadi salah satu jalan di jalur Kampung Melayu – Kota Casablanca Kuningan, Jakarta Selatan.

Lahir pada 10 Agustus 1910 di kampung Bali Matraman, Manggarai, Jakarta Selatan, meninggal 3 September 1985 pada umur 75 tahun. Ulama kebanggaan masyarakat Jakarta pada zamannya itu terkenal karena orasi panggungnya yang memukau umat. Ia adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia DKI Jakarta pada periode pertama dan kedua, yang diterima di kalangan mana pun. Ia dekat dengan umat, disegani sesama ulama dan dihormati penguasa. Siapakah KH Abdullah Syafi’i dan bagaimana perannya di Jakarta?

 

 

Perguruan

KH Abdullah Syafi’i terkenal dan terkenang hingga hari ini karena meninggalkan amal jariyah antara lain berupa lembaga pendidikan yang mencerdaskan ribuan umat dari tahun ke tahun. Lembaga ini tidak serta merta sebesar seperti tampak hari ini, tetapi bermula dari sebuah kandang sapi.

Kisah sukses itu barawal ketika Abdullah muda mendirikan madrasah di atas lahan seluas 8000 M2. Tanah itu berasal dari pemberian orangtuanya, lalu dibangun dengan dana dari menjual sapi-sapi ayahnya. Itulah Madrasah Islamiyah pertama yang didirikan KH Abdullah Syafi’i pada tahun 1928.

Lima tahun kemudian, pada tahun 1933 KH Abdullah Syafi’i melebarkan sayap dakwahnya dengan membeli sebidang tanah yang kemudian diwakafkan dan dijadikan masjid dengan nama Masjid al Barkah Sejak itulah Masjid al Barkah semakin dikenal karena keramaian jemaah dan kepiawaian KH Abdullah Syafi’i memikat hati jamaah dalam berbagai ceramahnya.

Tahun 1954, KH Abdullah Syafi’i membeli lagi tanah di depan Masjid al Barkah yang diniatkan untuk pengembangan Sekolah Menengah atau Tsanawiyah yang kemudian resmi dinamakan Perguruan Islam As-Syafi’iyyah, mengambil nama ayahnya yang memodali awal pendirian dengan menjual sapi. 

Sejak awal, centrum atau magnet Assyafi’iyah adalah pengajian Ahad pagi di Masjid al-Barkah selalu yang diikuti ribuan jamaah. Namun tidak pernah melupakan dunia pendidikan. Seiring dengan perkembangan pengajian, Madrasah Diniyah pun berkembang. Pada tahun 1957 didirikan Madrasah Tsanawiyah (MTS), Raudhatul Athfal pada tahun 1969. Setahun kemudian, didirikan Sekolah Dasar (SD), Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) hingga Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) dan Universitas Assyafi’iyah.

Pengembangan lembaga pendidikan formal ini tidak hanya di Bali Matraman tetapi juga di Jatiwaringin. Selain itu juga mengembangkan kegiatan sosial, seperti poliklinik, pondok yatim piatu dan untuk kepentingan dakwah didirikan Radio AKPI As-Syafi'iyah.

Dari hari ke hari, Perguruan Islam As-Syafiiyah semakin berkembang hingga yang dapat kita saksikan saat ini. Ilmu yang diberikan meneduhkan umat sehingga makin hari makin banyak yang berdatangan untuk belajar.

 

Organisator

Selain sebagai pendidik dan da’i kondang, KH Abdullah Syafi’i juga termasuk orang yang gemar berorganisasi dan bergaul luas dengan berbagai kalangan, antara lain tokoh-tokoh masyarakat pada tingkat nasional dan dari berbagai etnis. Penganut amaliah NU ini pemah menjadi tokoh Masyumi dan dekat dengan Muhammad Natsir, bahkan ia berhasil mengajak Natsir masuk ke dalam Majlis Dzikir Mudzakaroh untuk mengkaji kitab kuning, sesuatu yang kurang dikenal di kalangan cendikiawan muslim modern.

KH Abdullah Syafi’i juga mengabdikan dirinya untuk Majlis Ulama Indonesia hingga ia menjadi Ketua I MUI Pusat. Pada tahun 1978-1985, ia dipercaya menduduki jabatan sebagai Ketua Umum MUI DKI Jakarta dan kemudian pada tahun 1982 ia ditunjuk sebagai penasihat MUI Pusat yang pada waktu itu diketuai oleh Buya Hamka.

Dalam dokumen-dokumen lama, banyak tersiar aktivitas KH Abdullah Syafi’i bersama Gubernur DKI Ali Sadikin, Pangdam Jaya Try Sutrisno (waktu itu, sekitar tahun 1980-an), bersama menteri-menteri Orde Baru, bahkan bersama para pemimpin Islam dunia yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI). Meski dekat dengan para penguasa, tetapi tidak menumpulkan sikapnya. Ia beberapa kali berseberangan keras dengan pemerintah Order Baru karena beda pandangan dalam sejumlah kebijakan, antara soal RUU Perkawinan (1974) yang dinilai sekular, soal lokasisasi yang dilegalisasi dan lainnya.

 

Keluarga

KH Abdullah Syafi’i  menikah pada usia 18 tahun dengan Siti Rogayah(15 tahun), putri KH Ahmad Mukhtar. Dari hasil perkawinannya dengan Rogayah, dikaruniai lima orang anak. Mereka adalah, Muhibbah, Tuty Alawiyah (mantan Menteri Peranan Wanita pada Kabinet Pembangunan VII yang wafat pada 4 Mei 2016), Abdur Rasyid (mendirikan Pesantren Abdullah Syafii di Bogor), Abdul Hakim dan Ida Farida.

Pada tahun 1951, Siti Rogayah, meninggal dunia. Abdullah menikah lagi dengan seorang gadis bernama Salamah. Dari perkawinan yang kedua ini, Abdullah dikaruniai sepuluh orang anak, mereka adalah, Mohammad Surur, Syarif Abdullah, Mohammad Zaki, Elok Khumaira, Ainul Yaqin, Syafi'i Abdullah, Nufzatul Tsaniyah, Muhammad, Thuhfah, dan Laila Sakinah.

Secara formal, pendidikan Dulloh hanya SR (SD). Tapi dia belajar ilmu agama dari satu ustadz ke ustadz lainnya, dari satu habib ke habib yang lain. Dalam bidang nahwu, ia berguru kepada KH Abdul Majid (Guru Majid) dan KH Ahmad Marzuki (Guru Marzuqi) dalam bidang fiqih, Habib Alwi Al Haddad dalam bidang tasawuf, tafsir dan ilmu pidato, Habib Salim bin Jindan di Jatinegara dalam bidang ilmu hadist, Guru Mansur dalam bidang falaq dan Habib Ali Kwitang.

Di antara cara belajar yang digunakan KH. Abdullah Syafi'i adalah setiap hari tidak kurang dari 4 jam ia pergunakan untuk membaca kitab yang dilanjutkan dengan membuat catatan yang berupa inti sari dari kitab yang dibacanya. Catatan riwayat hidupnya mengatakan, bahwa pada menit terakhir dia akan dipanggil Allah (wafat), ia meminta kepada putra-putrinya agar selalu membaca sebuah kitab. Salah seorang putranya, Abdul Rasyid mengatakan, bahwa KH. Abdullah Syafi'i memiliki semangat menuntut ilmu yang tinggi dan pembaca yang kuat, bahkan sebelum ia dipanggil Allah SWT masih sempat meninggalkan sebuah kitab untuk dibaca.

 

Wafat

Menjelang wafat KH Abdullah Syafi’i menyuruh anaknya, Abdul Rosyid, untuk membacakan kitab di hadapan jemaah majlis taklim dan dengan suara yang terbata-bata beliau mendoakan anaknya. Tidak lama meninggal dunia di pangkuan anaknya sewaktu dibawa kerumah sakit….innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

Wafat pada tanggal 3 September 1985 dalam usia 75 tahun. Dari radio Islam Asyafi’iyah bergema ayat-ayat suci Alquran diselingi berita-berita duka cita. Ribuan orang datang untuk ber-takziah. Suara tahlil, takbir dan tahmid bergema tiada henti. Dari rumah duka di Kampung Bali Matraman ke peristirahatan terakhir di Pesantren Asyafi’iyah, Jatiwaringin, mesin mobil pembawa jenazah dimatikan karena, ribuan pelayat rela saling rebutan mendorongnya sejauh 17 KM.

 

Selama hidupnya, KH Abdullah Syafi'i sempat membut karya tulis antara lain:
1. Al-Muasasat Al-Syafiiyah Al- Ta'limiyah.
2. Bir Al-Wiilidain.

3. Penduduk Dunia Hanya ada Tiga Golongan.
4. Mu'jizat Sayiduna Muhammad.
5. Al-Dinu waAl-Masjid.
6. Madarij Al-Fiqh.

Kini, umat merindukan hadirnya ulama-ulama yang berilmu tinggi dan bermental singa seperti KH Abdullah Syafi’i. Bukan saja Jakarta atau masyarakat Betawi, Indonesia merindukan ulama mumpuni yang tajam ke atas kritiknya dan teduh ke bawah ilmunya. (mm)

 


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top