Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Ulama Nusantara yang Jadi Imam dan Guru di Masjidil Haram

(gomuslim). Ketika seorang Imam Masjid Nabawi Syeikh Ayub wafat, banyak masyarakat Muslim di dunia yang kagum dengan beliau yang sejatinya merupakan ulama keturunan Burma. Mungkin banyak yang menyangka ini merupakan suatu kelangkaan karena biasanya imam Masjid Haramain merupakan ulama berkebangsaan Arab.

Namun perlu diketahui bahwa jauh sebelum ulama keturunan Burma tersebut menjadi imam di Masjid Nabawi, ulama nusantara pernah menempati posisi sebagai imam dan juga guru di Masjidil Haram tepatnya pada awal abad ke-20.

Pada masa pra kemerdekaan banyak ulama besar Indonesia menuntut ilmu di Mekkah selepas menunaikan ibadah haji. Proses pelaksanaannya bukan dalam bentuk kuliah formal namun belajar bersama para guru besar imam Masjidil Haram seperti layaknya mengaji. Dalam perkembangan menuntut ilmu di Mekkah, kecerdasan calon ulama Nusantara diakui oleh ulama Mekkah bahkan ada beberapa yang dinobatkan sebagai imam Masjidil Haram, demikian pula halnya yang dialami langsung oleh Syeikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi.

Nama asli dari putra Minang yang pernah menjadi imam Masjidil Haram ini adalah Ahmad Khatib bin Abdul Latif Al-Minangkabawi, ia merupakan tokoh kelahiran Koto Tuo, Balai Gurah IV, Angkek Candung, Agam, Sumatera Barat, pada Senin 6 Dzulhijjah 1276 H (1860 Masehi) dan wafat di Mekkah pada Senin 8 Jumadil Awal 1334 H (1916 M).

Kecerdasan beliau diakui oleh banyak pihak, tidak hanya ulama Nusantara namun juga ulama Mekkah pada masa itu.  Ahmad sempat mengenyam pendidikan formal, yaitu pendidikan dasar dan berlanjut ke Sekolah Raja atau Kweek School dan tamat tahun 1871 M. Selain belajar pada lembaga pendidikan formal yang dikelola Belanda, Ahmad kecil juga mempelajari mabadi’ (dasar-dasar) ilmu agama dari Syaikh ‘Abdul Lathif yang merupakan ayah kandungnya sendiri. Dari sang ayah pula, Ahmad menghafalkan beberapa juz Alquran lalu sang ayah mengajaknya ke Mekah pada usia 11 tahun (1871) untuk menunaikan ibadah Haji.

Setelah selesai melakukan ibadah haji, Ahmad tidak pulang ke kampung halamannya, ia lebih memilih untuk menetap di Mekah demi menuntaskan hafalan Al-Qur’an, sementara sang ayah pulang ke Sumatera Barat. Selain menghafal Al-Qu’an, ternyata Ahmad berguru kepada para ulama Mekah di Masjidil Haram seperti Sayyid Bakri Syatha, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, dan Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makkiy. Namun selain menuntut ilmu kepada 3 ulama tersebut, ia juga banyak ke beberapa ulama terkemuka di Kota Mekkah.

Di antara guru-guru Ahmad di mekkah adalah: Sayyid ‘Umar bin Muhammad bin Mahmud Syatha Al Makki Asy Syafi’I (1259-1330 H) Sayyid ‘Utsman bin Muhammad Syatha Al Makki Asy Syafi’i (1263-1295 H) Sayyid Bakri bin Muhammad Zainul ‘Abidin Syatha Ad Dimyathi Al Makki Asy Syafi’i (1266-1310 H) –penulis I’anatuth Thalibin sebuah kitab fikih yang merupakan penjelasan dari kitab Fathul Mu’in.

Selain dikenal cerdas dalam memahami ilmu agama, Ahmad juga dikenal sebagai ulama yang menguasai, sejarah, aljabar, ilmu falak, ilmu hitung, dan ilmu ukur (geometri). Dalam ilmu fikih, ia mendalami fikih mazhab Syafi’i, bahkan beliau dijuluki sebagai tiang tengah dari mazhab Syafi'i dalam dunia Islam pada permulaan abad ke-20.

Perhatiannya terhadap hukum waris juga sangat tinggi, kepakarannya dalam mawarits (hukum waris) telah membawa pembaharuan adat Minang yang bertentangan dengan Islam.  Martin van Bruinessen mengatakan, karena sikap reformis inilah akhirnya al-Minangkabawi semakin terkenal.  Salah satu kritik Syeikh Ahmad Khatib yang cukup keras termaktub di dalam kitabnya Irsyadul Hajara fi Raddhi ‘alan Nashara.  Pada kitab ini, ia menolak doktrin trinitas Kristen yang dipandangnya sebagai konsep Tuhan yang ambigu.

 Ahmad pun dikenal sebagai ulama yang rasional, namun menurutnya Islam itu tidak mungkin memusuhi kebudayaan.  Menurutnya dalam Islam menjunjung nilai persamaan, kebangsaan, hasrat untuk maju dan rasionalisme.  Pendapatnya ini menjadi keunggulan tersendiri dari Syekh Ahmad Khatib dalam memberikan pelajaran kepada muridnya. Ia juga merupakan ulama yang menolak sikap sikap fanatik buta (taqlid).

Pemahaman dan pendalaman dari Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi ini, kemudian dilanjutkan oleh gerakan pembaruan di Minangkabau, melalui tabligh, diskusi, dan muzakarah ulama dan zu’ama (para pemimpin), penerbitan brosur dan surat-kabar pergerakan, pendirian sekolah-sekolah seperti madrasah-madrasah Sumatera Thawalib.

 

Pengangkatan Ahmad Khatib Menjadi Imam Masjidil Haram

Semasa lajang, Ahmad merupakan sosok yang rajin belajar dan suka membaca, ia kerap mengunjungi toko buku milik Muhammad Shalih Al Kurdi yang terletak di dekat Masjidil Haram. Kala itu Ahmad sering membeli kitab di toko buku ini, namun manakala ia tidak memiliki uang, ia tetap berkunjung saja dan membaca buku hingga selesai. Kebiasaannya seperti ini dipandang oleh Kurdi sebagai bentuk kecintaan terhadap ilmu, sehingga hal tersebut menarik perhatian khusus Kurdi terhadap Ahmad.

Karena Kurdi tertarik atas perangai serta keuletan Ahmad dalam menuntut ilmu, maka muncullah keinginan Kurdi untuk mengangkat Ahmad menjadi menantunya. Kurdi hendak menjodohkan Ahmad dengan putrinya yang bernama Khadijah. Awalnya penawaran Kurdi sempat ditolak oleh Ahmad karena ia merasa belum siap untuk menikah, sebab saat itu Ahmad belum memiliki penghasilan tetap sementara ia masih dalam tahap menuntut ilmu.

Namun setelah Kurdi menyatakan akan menanggung semua biaya pernikahan hingga biaya hidup setelah menikah, lantas Ahmad pun memunuhi permintaan Kurdi untuk menikah dengan putrinya. Dari pernikahan tersebut Ahmad dan Khadijah dikaruniai seorang putra yang diberi nama Abdul Karim. Namun pernikahan dengan Khadijah tidak berlangsung lama, karena ia meninggal dunia.

Pada akhirnya Kurdi pun menjodohkan Ahmad untuk kedua kalinya dengan adik Khadijah yang bernama Fatimah, dari pernikahan tersebut lahirlah dua orang putra yakni, Abdul Malik dan Abdul Hamid Al Khatib.

Setelah menikah Ahmad diangkat menjadi imam di Masjidil Haram, terdapat dua versi mengenai kronologi pengangkatan Ahmad menjadi imam di Masjidil Haram. Menurut Umar Abdul Jabbar dalam Siyar wa Tarajim disebutkan bahwa pengangkatan Ahmad menjadi imam sekaligus khatib di Masjidil Haram merupakan permintaan Shalih Al Kurdi kepada salah seorang imam Masjidil Haram bernama Ainur Rafiq

Sedangkan menurut Buya Hamka dalam tulisannya yang berjudul Ayahku, beliau mengungkapkan bahwa dalam sebuah salat berjama’ah yang diimami langsung Syarif ‘Aunur Rafiq terdapat kesalahan dalam bacaan ayat Alquran. Lantas seketika itu pula Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah pun membetulkan bacaan sang imam. Usai shalat, Syarif bertanya pada jemaah mengenai sosok yang membenarkan bacaannya, saat itu diketahuilah bahwa yang melakukan hal tersebut adalah Ahmad maka diangkatklah Ahmad menjadi imam di Masjidil Haram untuk mazhab Syafi’i.

Meski terjadi perbedaan pendapat mengenai pengangkatan Ahmad menjadi imam di Masjidil Haram, namun tidak dapat dipungkiri bahwa kapasitas keilmuan beliau dapat dikatakan mumpuni untuk menjadi seorang imam. Hal ini terlihat bahwa selain mengimami shalat di Masjidil Haram, beliau juga mengajar fikih, ilmu hisab (berhitung), ilmu falak (astronomi), faraidh (ilmu waris) dan lainnya. Bahkan keilmuan beliau tidak dapat diragukan lagi, sehingga banyak ulama besar Nusantara yang belajar padanya seperti KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, Syaikh Sulaiman Ar Rasuli, Syaikh Jamil Jaho, Syaikh ‘Abbas Qadhli, Syaikh Musthafa Purba Baru, Syaikh Hasan Ma’shum Medan Deli dan banyak lagi ulama Nusantara lainnya.

kjaldjfl

Ahmad ketika itu sebagai ulama non Arab yang bermukim di Mekkah mendapat perhatian tersendiri dari Muhammad Sa’id Babsil seorang ulama Arab dan mufti mazhab Syafi’i yang juga guru di Masjidil Haram. Ia merasa tidak suka dengan pencapaian Ahmad Khatib di negeri Arab. Pasalnya, Ahmad merupakan pria non-Arab yang memperoleh tempat mengajar di pusat pengajaran kota Mekah. Namun karena Ahmad telah mendapat izin langsung dari Imam Besar Masjidil Haram Syarif Ainur Rafiq, maka Babsil pun segan padanya. 

Sejatinya Islam pertama kali tidak turun di Nusantara, namun hal yang tak dapat dilupakan bahwa, banyak ulama terkenal dari berbagai disiplin ilmu khususnya tentang keislaman, justru didominasi oleh bangsa non-Arab (a’jam). Seperti yang banyak diketahui, Imam Bukhari yang merupakan periwayat hadis yang kredibilitasnya dan kualitasnya tidak diragukan lagi, namun ternyata ia bukanlah ulama yang berasal dari bangsa Arab.

Sama halnya dengan Sibawaih yang merupakan pakar ilmu nahwu (kaidah bahasa Arab). Sejatinya ia merupakan pria kelahiran Persia yang merupakan bangsa non-Arab, namun ia adalah seorang ahli yang diakui dalam bidang kaidah bahasa Arab. Hal ini tidak terlepas dari minat bangsa a’jam terhadap ilmu pengetahuan jauh lebih besar pada masa perkembangan peradaban Islam di abad pertengahan. Sementara bangsa Arab disibukkan dengan politik pemerintahan, itulah sebabnya beberapa ulama a’jam lebih menguasai ilmu pengetahuan termasuk ilmu keislaman dibanding dengan bangsa Arab.

Kondisi seperti ini, juga membuka ruang bagi putra terbaik bangsa yang pernah mengharumkan Tanah Air. Tidak hanya Ahmad Khatib yang merupakan putra minang, Syeikh Albantani yang merupakan putra Banten juga pernah menjadi guru besar di Tanah Suci, bahkan beliau dinobatkan sebagai bapak kitab kuning disebabkan banyaknya kitab yang ditulisnya menjadi referensi dan dipelajari baik di pesantren tanah air maupun di Mekkah. (fh)


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top