Syekh Nawawi al-Bantani, Sosok Paling Dicari Jemaah Haji Tempo Dulu

(gomuslim). Dulu, setiap Jemaah haji yang kembali dari tanah suci ke tanah air selain membawa oleh-oleh air zam-zam dan lainnya, tidak lupa juga membawa kabar tentang kemasyhuran Syekh Nawawi al-Bantani. Seorang Imam Besar Masjidil Haram dari Kerajaan Banten yang memiliki sebuah ‘rubatjawiyah’ atau Pesantren Jawa tidak jauh dari bukit Marwa, Mekkah. Ia juga menjadi ulama paling dicari jemaah haji dari seluruh dunia karena karya-karyanya telah menyebar ke seluruh penjuru dunia Islam pada masa itu.

Menyebut Syekh Nawawi al-Bantani al-Jawi bagi Jemaah haji dari Nusantara merupakan kata kunci yang membanggakan. Hampir setiap Jemaah haji dari berbagai pelosok dunia mengenal ulama alim-allamah ini pada masa itu. Selain menjadi Syekh shalat di depan Kakbah, ia juga mengasuh ‘halaqah’ atau pengajian di salah satu sudut masjid yang ramai diikuti Jemaah dari seluruh dunia.

Pada musim haji 2016 ini mungkin saja jejak-jejak kebesaran nama Syekh Nawawi tidak lagi menggema di tanah suci. Selain pesantrennya sudah tergusur jauh hingga daerah Misfalah, juga karena sudah termakan waktu. Jemaah haji kontemporer juga memiliki kesibukan lain seperti dengan selfie-selfie dan belanja-belanja oleh-oleh haji khas tanah suci. Oleh-oleh kisah seputar Syekh Nawawi al-Bantani menjadi terlupakan dari generasi ke generasi.

Namun nama Syekh Nawawi masih kuat di kalangan pesantren karena kitab-kitab karangannya masih dikaji hingga hari ini. Selain itu, jika kita melihat sosok Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia  Prof KH Makruf Amin, sebagian besar orang langsung menghubungkan dengan sosok Syekh Nawawi, sebab ketua umum MUI tersebut adalah salah seorang cucunya yang merawat dan menuruskan tradisi keilmuan Syekh Nawawi.

Benar, nama kiai asal Banten ini seakan masih hidup. Pada zamannya, Ia mendapatkan gelar Sayid Ulamail Hijaz atau penghulu ulama di Mekkah dan Madinah karena kepakarannya tiada tara pada masanya. Bangsa Indonesia tetap menyimpan kebanggaan luar biasa kepada Syekh Nawawi ini hingga saat ini.

Orang-orang Mekkah mengenalnya sebagai Syekh Nawawi al-Bantani, atau Nawawi al-Jawi. Al-Bantani menunjukkan bahwa ia berasal dari Banten, sedangkan sebutan Al-Jawi mengindikasikan muasalnya yang Jawa, sebutan untuk para pendatang Nusantara karena nama Indonesia kala itu belum dikenal, dan rerata tidak berkenan menggunakan nama koloni Hindia Belanda.

Kalangan pesantren sekarang menyebut ulama yang juga digelari ‘Asy-Syekh al-Fakih’ itu sebagai Nawawi Banten. Demikian dijelaskan Tubagus  Ismetullah Al Abbas, pewaris Kesultanan Banten.

Menurut sejarah, Syekh Nawawi memiliki nama lengkap Abu Abd al-Mu’ti Muhammad bin Umar al- Tanara al-Bantani al-Jawi. Lahir di sebuah desa kecil di kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, atau sekarang di Kampung Pesisir, desa Pedaleman, Tarana Serang, Banten pada tahun 1230 H atau 1815 M.

Seorang ilmuwan atau ulama yang di usia 15 tahun dikirim ayahnya ke Mekkah untuk belajar dengan ulama paling terkemuka, Syekh Ahmad Khatib Sambas. Hingga Akhirnya Syekh Ahmad menyukai kecerdasan muridnya lalu diangkatlah Syekh Nawawi menggantikan posisi sang guru menjadi Syekh dan pengajar majelis di Masjidil Haram. Beliau meminta izin untuk pulang ke Indonesia. Namun Syekh Nawawi diusir oleh Belanda untuk kembali ke Makkah. Sejak terusir itulah dia tak menginjakkan kaki lagi di negeri ini sampai akhir hayat.

Syekh Nawawi juga terkenal sebagai penulis yang menghasilkan banyak karya. Manuskripnya disebarkan dan diterbitkan ribuan kali bahkan tanpa royalti.  Ketika Syekh Ahmad Khatib Sambas uzur menjadi Syekh Masjidil Haram, Nawawi ditunjuk menggantikannya. Sejak saat itulah ia menjadi Syekh Masjidil Haram dengan panggilan Syekh Nawawi al-Jawi. Selain menjadi Syekh Masjid, ia juga mengajar dan menyelenggarakan halaqah (pengajian/kajian) bagi murid-muridnya yang datang dari berbagai belahan dunia.

Laporan Snouck Hurgronje, orientalis yang pernah mengunjungi Mekkah ditahun 1884-1885 menyebut, Syekh Nawawi setiap harinya sejak pukul 07.30 hingga 12.00 memberikan tiga perkuliahan sesuai dengan kebutuhan jumlah muridnya.

Di antara muridnya yang berasal dari Indonesia adalah KH  Kholil Madura, KH Asnawi Kudus, KH Tubagus Bakri, KH Arsyad Thawil dari Banten dan KH Hasyim Asyari dari Jombang. Mereka inilah yang kemudian hari menjadi ulama-ulama terkenal di tanah air. Konon, KH Hasyim di sela-sela pengajian kitab-kitab karya gurunya ini, seringkali Kyai Hashim Ashari bernostalgia bercerita tentang kehidupan Syekh Nawawi, kadang mengenangnya sampai meneteskan air mata karena besarnya kecintaan beliau terhadap Syekh Nawawi.

Sejak 15 tahun sebelum kewafatannya, Syekh Nawawi sangat giat dalam menulis buku. Akibatnya, ia tidak memiliki waktu lagi untuk mengajar. Ia termasuk penulis yang produktif dalam melahirkan kitab-kitab mengenai berbagai persoalan agama.

 Paling tidak 34 karya Syekh Nawawi tercatat dalam Dictionary of Arabic Printed Books karya Yusuf Alias Sarkis. Beberapa kalangan lainnya malah menyebut karya-karyanya mencapai lebih dari 100 judul, meliputi berbagai disiplin ilmu, seperti tauhid, ilmu kalam, sejarah, syari’ah, tafsir, dan lainnya. Di antara buku yang ditulisnya dan mu’tabar (diakui secara luas–Red) seperti Tafsir Marah Labid, Atsimar al-Yaniah fi Ar-Riyadah al-Badiah, Nurazh Sullam, al-Futuhat al-Madaniyah, Tafsir Al-Munir, Tanqih Al-Qoul, Fath Majid, Sullam Munajah, Nihayah Zein, Salalim Al-Fudhala, Bidayah Al-Hidayah, Al-Ibriz Al-Daani, Bugyah Al-Awwam, Futuhus Samad, dan al-Aqdhu Tsamin.

Ia adalah salah satu keturunan Sultan Hasanuddin, Putra Sunan Gunung Jati Cirebon atau Keturunan ke-12 dari Sultan Banten.Ayahnya seorang Ulama Banten, ‘Umar bin ‘Arabi, ibunya bernama Zubaedah. Syekh Nawawi wafat di Makkah pada 1879 pada usia di usia 84 tahun.

 

Karomah
Setelah wafat,  banyak kisah karomah dikisahkan.  Salah satunya adalah tentang keajaiban ini. Salah satu kitab Syekh  Nawawi yang banyak dibaca kalangan pesantren adalah syarah atau catatan kitab Bidayatul Hidayah (karya  Imam Ghozali). Ajaib, saat dalam perjalanan menaiki unta, Syekh Nawawi tetap menulis meski dalam keadaan gelap.   Beliau berdoa, bila kitab ini dianggap penting dan bermanfaat buat kaum muslim, ia mohon kepada Allah SWT memberikan sinar agar bisa melanjutkan menulis.

"Tiba-tiba jempol kaki beliau mengeluarkan api, bersinar terang, dan beliau meneruskan menulis syarah itu hingga selesai dan bekas api di jempol tadi membekas, hingga saat Pemerintah Hijaz memanggil beliau untuk dijadikan tentara (karena badan beliau tegap), ternyata beliau ditolak, karena adanya bekas api di jempol tadi," ujar Tb Ismet, Sang cucu.

Fakta ini menjadi pembicaraan banyak kalangan dari tahun ke tahun karena banyak yang membuktikan. Kuburan atau makam ketika akan dibongkar oleh pemerintah Saudi untuk dipindahkan tulang belulangnya dan liang lahatnya akan ditumpuki jenazah lain (sebagaimana lazim di Ma’la), ternyata ditemukan fakta mencengangkan.

Saat itulah para petugas mengurungkan niat membongkar, sebab jenazah Syekh Nawawi (beserta kafannya) masih utuh walaupun sudah bertahun-tahun dikubur.
 
Inilah sosok yang zaman dahulu kisahnya dinanti Jemaah sepulang haji yang sempat bertemu Syekh Nawawi. Ibarat kata, para haji dahulu tidak afdhal jika tidak menceritakan tentang kealiman dan kemasyhuran Imam Nawawi, ulama dari Banten yang menjadi penghulu ulama di Mekkah dan Madinah.


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top