Habib Salim bin Jindan, Ahli Hadis yang Produktif Menulis

gomuslim.co.id – Habib Salim termasuk ulama yang hidup pada abad ke-14 hijriah yang mendapatkan julukan al-musnid. Hal ini disampaikan oleh Yusuf al-Mar’asyli, Guru Besar Hadis dan Fikih di Universitas Islam Beirut, Libanon, dalam karyanya Natsrul Jawahir wad Durar fi Ulamail Qarnir Rabi’ ‘Asyar. Al-Musnid adalah julukan bagi ulama yang meriwayatkan hadis beserta sanadnya yang didapatkan dari gurunya hingga sampai ke Rasulullah.    

Ulama yang juga dikenal sebagai penghafal banyak hadis ini kecil memulai pendidikannya secara formal di Madrasah Al-Khairiyah, Surabaya. Setelah itu, Habib Salim melanjutkan studinya ke Yaman, Mekah, dan negara Timur Tengah lainnya. Habib yang lahir pada tahun 1906 (1324 H) ini dikenal juga sebagai ulama yang produktif dalam menulis dan mempunyai banyak koleksi kitab yang tidak dimiliki ulama pada masanya.

Di era digital seperti saat ini, siapa pun mudah untuk memiliki koleksi kitab yang berjumlah ribuan bahkan jutaan. Al-Maktabah al-Syamilah di antara software yang mengoleksi banyak kitab berbahasa Arab dalam berbagai bidang keilmuan. Belum lagi kitab-kitab berbahasa Arab berbentuk pdf yang bebas diunduh di berbagai situs Arab, seperti Waqfeya dan Al-Mostafa. Oleh karena itu, memiliki kitab dengan jumlah yang fantastis saat ini bukanlah suatu yang mengherankan. Ini berbeda di zaman dulu yang mana teknologi belum berkembang.

Beberapa karya ulama yang wafat pada tahun 1969 (1389 H) ini berhasil didigitalisasi oleh Lektur Kementerian Agama jumlahnya cukup banyak dan terdiri dari beberapa bidang keilmuan, di antaranya sejarah, hadis dan ilmu hadis, dan hukum. Koleksi kitab tersebut semuanya berbahasa Arab dan didapatkan dari keturunan Habib Salim, Habib Ahmad, yang kini mengasuh Pesantren Al-Fachriyah, Tangerang, Banten.

Karya Habib Salim Bidang Sejarah

  1. As-Syawarikh fi Nuktatit Tawarikh (kitab sejarah)
  2. Man Hum ar-Rafidhah (syiah Rafidhah)
  3. Al-Awraq al-Ashliyyah min Fawaid as-Sayyid Salim bin Jindan (kitab nasab)
  4. Bahjatul ‘Alim fi dzikri man ismuhu Salim (kumpulan ulama yang bernama Salim)
  5. Ad-Dur wal Yaqut fi Buyutat ‘Arab al-Muhjar wa Hadhramaut (sejarah kabilah Arab Muhjar dan Hadramaut)
  6. Kasyfun Niqab ‘an Ghawamidil Alqab (julukan-julukan kabilah Arab)
  7. Syifaus Shadr fi Manaqib Ashab Badr (biografi sahabat yang ikut perang Badar)
  8. At-Tahdzib fil Ansab wal Akhbar wa Ulut Ta’rib (buku tentang nasab)
  9. Fadhailul Yaman wa Quthriha (keutamaan negeri Yaman), Majami’ut Turab fi Fadhailil ‘Arab (keutamaan bangsa Arab)
  10. Al-Jawahir an-Naqiyyah fi man ismuha Ruqayyah (kumpulan nama Ruqayyah)
  11. Tajul Banat fi Tarikh Inat (sejarah desa Inat)
  12. Fawatihur Rahmut fi Mahasin Hadhramaut (keindahan kota Hadramaut)
  13. Qutfuts tsamar fi Manaqib as-Syeikh Abi Bakar (biografi Syekh Abu Bakar, kakek moyang Habib Salim)
  14. Az-Zahrah al-Bahirah Dzil Jannat fi Manaqibis Syekh Abi Bakar (biografi kakek moyang Habib Salim, Habib Abu Bakar)
  15. Naqsyut Tabut fi Man Halla minas Shahabat bi Wadi Hadhramaut (sahabat Nabi yang pernah berada di Hadramaut)
  16. Ihyaul Mayyit bi Fadhail Ahlil Bait (keutamaan Ahli Bait)
  17. Al-Lawami’ al-Bayyinat fi Dzkiri man Wafada ila ‘Inat (Murid Syekh Abu Bakar di desa Inat)
  18. Bughyatul Kafif ni Nasabi Ali ‘Afif (nasab keluarga Afif)     

 

Bidang Hadis dan Ilmu Hadis

  1. As-Shaharij al-Lu’luiyyah fil Musalsalat al-‘Alawiyyah (hadis musalsal yang diriwayatkan keluarga Alawi)
  2. Targhibul ‘Amal bis Sunnah wa Tarhib man Tarakah (anjuran melakukan Sunah Nabi)
  3. ‘Umdatul ‘Ukaf fi Marwiyyatis Sadat al-Kaf  (sanad Hadis riwayat keluarga Al-Kaf)
  4. At-Tijan al-Marshu’ah fil Ahadits al-Maudhu’ah (hadis-hadis palsu)
  5. As-sahm ar-Rami ‘ala Munkarin nasab al-Fathim (argumen terhadap pembantah nasab Fatimah putri Nabi)
  6. Al-Rasail al-Jindaniyyat (kumpulan beberapa kitab hadis)
  7. Majmu’ul Masanid wal Ijza al-Masmu’ah li Ahlil Bait (kumpulan sanad hadis riwayat Ahlul Bait)
  8. Manba’ul ‘Uyun (sanad-sanad keilmuan habib Salim)
  9. Raudhatul Wildan fi Tatsabbut Ibni Jindan (guru-guru Habib Salim)
  10. ‘Uddatul Luffazh bi Dzaili Thabaqatil Huffazh (biografi ulama-ulama hadis)
  11. al-Masyikhah al-Wustha al-Musammah Durratul Hijal fi Masyahir ar-Rijal (biografi guru-guru Habib Salim)
  12. Al-Ibanah fi Tarikh as-Sunnah (sejarah Hadis Nabi)
  13. Raihanul Jinan fi Tsabati Ibni Jindan (kumpulan hadis yang diriwayatkan dari guru Habib Salim)
  14. Al-Hiqdul Mukallal fi Hadits ‘Asyura al-Musalsal (hadis musalsal mengenai hari Asyura)

 

Bidang Hukum

  1. At-Ta’zir ‘alal Qail bi Thaharatil Khinzir (bantahan terhadap pendapat babi itu suci)
  2. Al-Ilmam bi Ma’rifatil Fatawa wal Ahkam (fatwa-fatwa hukum Islam)
  3. Targhib al-Musytaq fi Masailit Thalaq (fikih talak)

 

Bidang Dakwah

  1. Majmu’ Mudzakirat al-Habib Salim (kumpulan ceramah Habib Salim)
  2. Kalam Sayyidil Habib Al-‘Arif Billah Aidrus (nasihat Habib Aidrus bin Umar al-Habsyi)

 

Fatwa Kopiah Hitam

Habib Salim bin Jindan menulis salah satu karya Al-Ilmam bi Ma’rifatil Fatawa wal Ahkam yang berisi tentang kumpulan fatwa-fatwa hukum Islam yang terjadi di masanya. Dalam pendahuluan kitab ini, Habib Salim mengungkapkan bahwa keterbatasan mengakses majalah-majalah berbahasa Arab yang berada di dunia Arab mengenai kumpulan fatwa mendorong dirinya untuk menulis kitab tersebut. Fatwa-fatwa yang dikumpulkan oleh Habib Salim di antaranya dikutip dari pendapat-pendapat ulama Al-Azhar, Mesir, yang terdapat di majalah Nurul Islam, Al-Ahram, Al-Balagh, dan lain sebagainya, dan tentu pendapat pribadi Habib Salim.

Salah satu fatwa yang ditanyakan kepada Habib Salim itu mengenai kopiah hitam. Pada masa itu, sebagaian ulama Jawa dan Melayu melarang keras masyarakat mengenakan pakaian yang serba hitam, termasuk kopiah hitam. Penggunaan kopiah hitam dan pakaian hitam setiap saat dianggap makruh oleh sebagian ulama Jawa. Bahkan konon kemakruhan tersebut telah disepakati oleh sebagian ulama itu. Pendapat ini pun dibantah oleh Habib Salim. Ada kemungkinan fatwa makruh mengenakan kopiah hitam itu susupan dari penjajah yang sudah mengakar pada waktu itu. Pasalnya, kopiah hitam pada waktu itu adalah simbol pergerakan dan nasionalisme.

Menurut beliau, berpakaian itu adalah bagian dari kebudayaan dan tradisi masyarakat yang masing-masing memiliki ciri khas yang berbeda. Pendapat mengenai makruhnya mengenakan kopiah hitam adalah suatu yang berlebihan, sama seperti fanatisme di masa jahiliyah. Karena beliau ahli Hadis, fatwa mengenai kopiah hitam ini dijawab dengan beberapa hadis dan sejarah. Bahkan Habib Salim menganggap sunah memakai kopiah hitam.

Dengan mengutip beberapa hadis, Habib Salim menyebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah mengenakan serban dan jubah hitam pada saat perang Khaibar (HR Ibnu Abi Syaibah). Selain itu, Rasulullah Saw. juga pernah mengenakan serban hitam saat khutbah pemebasan kota Mekah (HR Bukhari). Selain itu, pada masa kekhilafahan Abbasiyah, simbol resmi kenegaraan juga menggunakaan warna hitam. Seluruh pejabat negara masa itu mengenakan warna hitam dalam acara resmi kenegaraan maupun bukan. Habib Salim pun merekomendasikan satu kitab karya Imam Suyuthi yang berjudul Tsaljul Fuad fi Ahadits Lubsis Sawad (hadis-hadis mengenai mengenakan pakaian hitam). (ihs)  


Back to Top