Mantan Imam Besar Masjid Istiqlal

Prof. DR. K.H. Ali Mustafa Yaqub, Pakar Ilmu Hadis Indonesia

gomuslim.co.id– Nabi Muhammad Saw. merupakan sosok utusan terakhir Allah Swt. di muka bumi ini. Semua sahabatnya sangat mencintai dan menjadikan Nabi Saw. sebagai pantuan. Bahkan sebagian para sahabat rela menjadi pelayan setia Nabi karena kecintaan mereka terhadap sosok putra Abdullah ini.

Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya al-Bidayah wa al-Nihayah menyebutkan beberapa nama sahabat pelayan Nabi. Anas bin Malik, putra Ummu Sulaim, menjadi sekertaris pribadi Rasulullah selama sekitar 10 tahun. Ibunya menitipkan Anas pada saat ia masih berusia 8 tahun. Nabi mendoakannya memiliki banyak harta dan anak.

Selain itu, Rabi’ah bin Ka’ab merupakan salah satu Ashhabus Shuffah yang setia melayani Nabi Muhammad dalam mengambilkan air wudhu ketika Nabi membutuhkan bantuan. Ada juga sahabat Abdullah bin Mas’ud yang biasa biasa memakaikan dan mencopot kedua sendal Nabi. Sementara itu, Sahabat Uqbah bin Amir juga pernah bertugas sebagai penuntun Bigal yang ditumpaki Nabi saat bepergian kemanapun. Itulah beberapa potret sahabat Nabi yang pernah melayani Nabi dengan senang tanpa beban.

“Bagaimana dengan kita yang tidak pernah hidup satu masa dengan Nabi tapi ingin menjadi pelayan Nabi?” Kurang lebih itulah pertanyaan yang pernah dilontarkan almarhum Kiai Ali Mustafa Yaqub kepada para murid-muridnya saat beliau masih hidup. “Jika Anda ingin menjadi pelayan Nabi, pelajarilah Hadis Nabi dengan benar, amalkan isinya, serta sebarkanlah pemahaman hadis yang benar kepada masyarakat,” pesan kiai kelahiran Batang, Jawa Tengah.

Pesan seperti ini beliau buktikan sendiri yang di antaranya dengan produktif menulis beberapa buku yang berkaitan dengan Islam dan hadis secara khusus, baik berbahasa Indonesia, Arab, maupun Inggris. Selain itu, kiai yang lahir pada 2 Maret 1952 ini juga mendirikan Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah pada 1997 untuk tingkat mahasiswa dan Madrasah Darus Sunnah pada 2014 untuk tingkat tsanawiyah hingga aliyah.

Saat hidupnya, Kiai Ali pernah bercerita bahwa dirinya sebenarnya ingin terus melanjutkan sekolah formal setelah lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP) di kampungnya. Namun orangtua Kiai Ali justru menitipkannya di Pondok Pesantren Seblak Jombang pada 1966 hingga 1969. Setelah itu, Kiai Ali nyantri kembali di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang pada 1969 hingga 1971. Kiai Ali Mustafa Yaqub meraih gelar sarjana hingga master di Arab Saudi selama sembilan tahun (1976-1985). Sementara itu, gelar doktor Kiai Ali baru diraih pada 2008 dari  Universitas Nizamia, Hyderabad, India.

Walaupun dikenal sebagai ahli Hadis dan lama tinggal di Arab Saudi, namun pemahaman keagamaan Kiai Ali Mustafa Yaqub tetap lentur dengan budaya-budaya lokal yang berkembang di Indonesia. Bahkan Kiai Ali kerap memberi peringatan keras kepada para dai yang mudah membidahkan pemahaman keagamaan orang lain. Namun demikian, Kiai Ali Mustafa juga tidak segan mengkritik pemahaman liberal yang menyimpang dari Alquran maupun Hadis Nabi.

Selain itu, seperti kata pepatah Arab Man ‘arafa lughata qaumin amina min syarrihim (siapa yang mengetahui bahasa masyarakat setempat, maka ia akan terhindar dari tipu daya mereka), Kiai Ali Mustfa Yaqub juga kerap mempraktikkan pentinggnya makna pepatah tersebut. Bahkan Kiai Ali Mustafa Yaqub menekankan pentingnya menguasai bahasa asing kepada para santrinya.

Selain berbahasa Arab, Kiai Ali Mustafa Yaqub juga kerap berbahasa Inggris saat berbincang-bincang atau berdialog dengan para santri-santrinya. Hal ini beliau lakukan agar para santrinya dapat mengembangkan dan menyebarkan Islam bukan hanya di Indonesia, namun juga di Mancanegara.

Karena pemikirannya yang cukup moderat dan terbuka ini, Kiai Ali Mustafa Yaqub kerap menjadi pembicara di beragai media di Tanah Air atas nama Imam Besar Masjid Istiqlal terkait isu-isu sosial keagamaan yang sedang hangat dibicarakan masyarakat. Kiai Ali menjabat sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal sejak Desember 2005 hingga Januari 2016. Pada Kamis, 28 April 2016, ayah Zia Ul Haramain ini, meninggal dunia pada usianya yang ke-64.

Kiai Ali, Hadis Nabi dan Kebudayaan Lokal

Dua tahun menjelang wafat, Imam Besar Masjid Besar Masjid Istiqlal ke-4 ini menulis buku Al-Thuruq as-Shahihah fi Fahm as-Sunnah an-Nabawiyyah (Cara Benar Memahami Hadis Nabi). Memahami Hadis Nabi yang benar tidak cukup dengan hanya membaca terjemahnya saja. Terjemah-terjemahan hadis yang beredar di sekitar kita itu hanya untuk mempermudah saja, bukan untuk dijadikan pegangan utama dalam memahami agama.

Bila mengandalkan terjemahan saja, fenomena yang terjadi justru nantinya akan mudah menyalahakn orang lain yang tidak sepaham dengan pemahamannya. Apalagi saat ini kita dihadapkan banyak fenomena para ustaz yang mudah membidahkan dan bahkan mengkafirkan orang lain hanya dengan bersandar pada satu hadis saja. Padahal memahami Hadis tidak dapat sepotong-sepotong yang nantinya akan mengakibatkan pemahaman yang tidak utuh.

Dalam salah satu uraian bukunya tersebut, almarhum Kiai Ali Mustafa Yaqub menekankan betul perbedaan antara mana yang budaya Arab dan mana yang merupakan ajaran agama. Hal ini karena tidak semua yang datang dari Rasulullah wajib kita amalkan selagi bukan berupa akidah agama.                                                                                                 

Kiai Ali Mustafa Yaqub mengutip riwayat Imam Muslim yang menyebutkan bahwa Nabi mempersilakan para sahabatnya mandiri dalam menentukan sikap dan pendapat terkait masalah duniawi. Waktu itu, saran Nabi mengenai trik bercocok tanam justru tidak menghasilkan panen yang bagus. Karenanya, di waktu berikutnya Nabi mempersilakan sahabat untuk lebih memahami urusan muamalah masing-masing.

Selain itu, menurut Kiai Ali Mustafa Yaqub, ritual dan doa simbolik yang beredar di masyarakat Indonesia, seperti nujuh bulan jabang bayi yang masih dalam kandungan, tradisi syawalan, dan tradisi-tradisi lain yang berkembang di masyarakat Indonesia bukanlah suatu hal yang dilarang dalam agama, selain tujuan berdoa meminta keberkahan dan keselamatan dari Allah Swt. 

Terkait budaya doa tersebut, almarhum Prof. Dr. Ali Mustafa Yaqub memiliki istilah tersendiri yaitu al-du’a bil rumuz, doa menggunakan simbol. Pendapat beliau ini didasarkan pada hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Zaid al-Mazini yang melihat Rasulullah melakukan salat istisqa dan merubah posisi serbannya (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam beberapa syarah kitab Hadis, seperti syarah Muslim dan Fathul Bari, hikmah Nabi merubah posisi serban yang di atas kemudian menjadi di bawah adalah sebuah ilustrasi yang diharapkan akan merubah kondisi paceklik menjadi subur kembali karena Allah memberikan hujan setelah melaksanakan salat istisqa. Para ulama menyebutnya dengan tafaulan. Pemahaman hadis kontekstual seperti inilah yang sesuai dengan mayoritas umat Muslim di Indonesia, Islam yang menghargai terhadap lokalitas. (ihs/dbs)

Baca juga:

Hari Ini, Indonesia Kehilangan Salah Satu Pakar Ilmu Hadis

Jadi Simbol Demokrasi Indonesia, Arsitektur Masjid Istiqlal Perpaduan Dua Benua


Back to Top