Hari Film Nasional

Chaerul Umam, Sutradara Film Religi Panutan Insan Perfilman Indonesia

gomuslim.co.id- Setiap tanggal 30 Maret, publik Tanah Air memperingatinya sebagai Hari Film Nasional. Hal ini tidak terlepas dari sejarah film pertama yang mencirikan Indonesia berjudul Darah dan Doa atau Long March of Siliwangi. Film ini disutradarai dan diproduksi oleh orang asli Indonesia yakni Usmar Ismail melalui Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini) tepatnya pada tanggal 30 Maret 1950.

Seiring berjalannya waktu, industri perfilman Indonesia terus berkembang. Berbagai rumah produksi film pun hadir berlomba-lomba menghadirkan karya terbaik untuk masyarakat. Salah satu genre positif dan edukatif bagi seluruh pecinta film adalah film bergenre religi.

Kali ini, gomuslim akan membahas salah satu tokoh penting dan berpengaruh dalam dunia perfilman Indonesia. Karya-karya filmnya banyak menginspirasi. Sejumlah prestasi dan nominasi pun berhasil diraih baik di tingkat lokal maupun internasional. Dia adalah seorang sutradara tersohor bernama Chaerul Umam.

Masa Kecil dan Sekolah

Lelaki kelahiran Tegal, 4 April 1943 ini adalah sutradara film bernafas Islami. Sejumlah film yang ia sutradarai kerap mendapat tempat di hati para penikmat dan pecinta film Tanah Air. Sejak kecil, dia sudah gemar menggeluti dunia seni peran. Walaupun bercita-cita menjadi polisi, pemilik nama lengkap Iman Chaerul Umam ini gemar berteater di desa kelahirannya.

Untuk menyalurkan hobinya itu, ia mendirikan sebuah grup teater bernama Ababalu. Lewat grup teater tersebut, anak ketiga dari empat bersaudara ini merekrut tetangganya yang berprofesi sebagai tukang krupuk, tukang obat, hingga desainer batik untuk ikut ambil bagian dalam berbagai pertunjukan sandiwara.

Setamat SMP, Chaerul hijrah ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikannya. Di kota berjuluk Kota Pelajar itu, Chaerul sempat berkuliah selama tiga semester di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Di kampus itu, pria yang biasa disapa “Mamang” ini membentuk grup teater bernama Pentas Cuwiri bersama dua rekannya, Syu'bah Asa dan Abdurrachman Saleh. Ia juga aktif dalam Teater HMI serta Bengkel Teater pimpinan WS Rendra.

Ia mulai berkenalan dengan dunia perfilman saat diminta sutradara D. Djajakusuma menjadi pengisi suara (dubber) sebuah film. Chaerul yang semasa SMA biasa bermain band ini tidak kikuk ketika harus menghadapi mikrofon. Jumlah bayaran yang ia terima sama dengan honornya sekali main drama yang latihannya berbulan-bulan.

Debut Sebagai Sutradara

Pengagum sutradara asal Jepang Akira Kurosawa ini memulai debutnya sebagai sutradara pada tahun 1975 juga berawal dari ketidaksengajaan. Ketika itu, film Tiga Sekawan, produksi Kwartet Jaya pimpinan Eddy Sud mulanya akan digarap oleh sutradara Asrul Sani. Namun, dua minggu sebelum syuting, Asrul Sani mendadak mengundurkan diri.

Tiga sutradara top di masa itu yakni Misbach Jusa Biran, Wahju Sihombing, dan Nya Abas Acub diminta menggantikan peran Asrul. Namun mereka semua menolak. Acub malah mengusulkan Chaerul yang memang pernah melamar sebagai pengganti Asrul Sani. Sejak saat itu, Chaerul Umam pun menjadi sutradara.

Film Religi

Nama Chaerul Umam mulai diperhitungkan di jagad perfilman pada tahun 1977 setelah membesut film Al Kautsar, produksi PT Sippang Jaya Film, serta film Titian Serambut Dibelah Tujuh yang dirilis tahun 1983, produksi PT Kofina. Al Kautsar meraih penghargaan dari Festival Film Asia di Bangkok untuk Film Budaya Sosial Terbaik dan Rekaman Suara Terbaik. Kedua film bernafaskan Islam itu digarapnya dengan begitu apik.

Pada era tahun 90-an ketika dunia perfilman Tanah Air sedang lesu dari film-film nasional berkualitas, ayah dua anak ini mulai menyutradarai sinetron bertema religi seperti Jalan Lain Ke Sana, Jalan Takwa, Astagfirullah, dan Maha Kasih.

Meski tidak berlatar belakang pendidikan sinematografi, Chaerul rajin membaca buku dan banyak belajar film dari sutradara ternama seperti Sjumandjaja, Motinggo Boesje dan Teguh Karya. Ia pun tak sembarangan menerima tawaran yang datang padanya sebab ia mematok beberapa kriteria, yakni skenario yang baik, misi yang jelas, dan tidak mau didikte. Film komedi yang menyuguhkan adegan seks vulgar akan langsung ditampiknya.

Di kala dunia perfilman Indonesia mulai menggeliat di awal tahun 2000-an, Chaerul kembali menyemarakkan industri perfilman. Setelah pada tahun 2006 Hanung Bramantyo menggebrak dengan film religi fenomenalnya yang diangkat dari novel best seller karya Habiburrahman El Shirazy, Ayat-Ayat Cinta, Chaerul pun tak mau ketinggalan. Pada tahun 2008, ia dipercaya menggarap film yang juga diadaptasi dari karya novelis yang sama, Ketika Cinta Bertasbih (KCB).

KCB pun menuai sukses. Bedanya, jika Ayat-Ayat Cinta menampilkan bintang utama yang sudah cukup mempunyai nama, KCB justru memasang wajah-wajah baru sebagai bintang utamanya yakni Muhamad Cholidi Asadil Alam dan Okkie Setiana Dewi. Semua pemain merupakan pemuda-pemudi terpilih yang dinilai paling mendekati karakter-karakter dalam novelnya, yang sekaligus juga diharapkan dapat menjadi contoh yang baik bagi para pemuda masa kini.

Untuk mendapatkan pemain yang sesuai tuntutan skenario, diadakan audisi di sembilan kota besar di Indonesia yang dibanjiri ribuan orang. Chaerul cukup terkejut dengan besarnya jumlah peminat, padahal persyaratan yang dipatok cukup berat yakni bisa membaca Alquran, berbahasa Arab, sholeh/sholehah, serta memiliki karakter dan berpenampilan menarik.

Kehadiran film yang turut menampilkan aktor kawakan seperti Deddy Mizwar, Slamet Rahardjo, Didi Petet, dan El Manik itu juga disambut gembira oleh penggemar bukunya yang tersebar di beberapa negara. Tidak hanya di Indonesia, film yang didapuk sebagai film 'Pembangun Jiwa' ini juga dapat dinikmati oleh penonton di 7 negara lainnya seperti Brunei, Malaysia, Singapura, Hongkong, Taiwan, Mesir dan Australia.

Tidak hanya itu, keaslian novelnya pun terjaga dengan syuting yang dilakukan di lokasi aslinya, Mesir, selama 22 hari. Suatu pencapaian yang luar biasa mengingat sulitnya mengantongi izin syuting di sana.

Sebagai sutradara senior yang kerap menghasilkan film-film berkualitas, Chaerul menaruh harapan besar agar film-film bermuatan agama semakin meramaikan bioskop Tanah Air. Terlebih di tengah kepungan film bertema horor dan komedi seks yang kian marak belakangan ini.

Menurut Chaerul, pembuatan film bertema religi masih terkendala sumber daya manusia. Sebab banyak pihak yang belum siap dan sadar untuk menyuguhkan tema Islam sebagai alternatif membuat film, dibandingkan tema-tema lain yang mungkin lebih diminati. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya film bertema religi yang dibuat dan diputar di bioskop namun dibuat oleh sutradara yang itu-itu saja. Tidak banyak yang mau membuat film bertema religi.

Selain masalah sumber daya manusia, pembuatan film religi juga terkendala sumber dana karena banyak produser yang cenderung memilih film dengan tema-tema lain yang dianggap lebih memiliki nilai jual dibandingkan dengan film religi.

Sutradara yang kerap tampil sebagai pembaca cerita pendek ini juga menjelaskan, pembuatan film bertema religi harus lebih mengutamakan nilai dakwah tanpa meninggalkan unsur-unsur yang membuat film tersebut memiliki nilai jual. Walaupun pada kenyataannya, nilai dakwah dan nilai jual merupakan dua hal yang berbeda dan tidak dapat disamakan.

Mantan Ketua Lembaga Seni Budaya PP Muhammadiyah ini mengatakan pihaknya gencar menggelar workshop pembuatan film untuk melatih dan menyadarkan masyarakat dan ternyata banyak diminati, terutama oleh kalangan muda. Menurut dia, hal terpenting untuk membuat film religi adalah kedekatan pembuat film dengan masalah yang akan diangkat dalam film dan pembuat film religi juga harus benar-benar menguasai seluk beluk permasalahan berkaitan dengan agama Islam, selain soal sinematografi.

Masa Akhir

Chaerul Umam meninggal dunia pada hari Kamis, 3 Oktober 2013 pukul 15.00 di RSI Pondok Kopi, Jakarta, setelah dirawat beberapa hari akibat sakit. Almarhum dimakamkan Jumat, 4 Oktober 2013 setelah Sholat Jumat di TPU Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur. Beliau meninggalkan satu istri, tiga anak, dan dua cucu.

Filmografi

Sejumlah film garapan Chaerul Umam diantaranya, Tiga Sekawan (1975), Cinta Putih {1977), Al Kautsar (1977), Sepasang Merpati (1979), Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982), Hati yang Perawan (1984), Bintang Kejora (1986), Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1986), Keluarga Markum (1986), Joe Turun ke Desa (1989), Nada dan Dakwah (1992), Ramadhan dan Ramona (1992), Fatahillah (1997), Ketika Cinta Bertasbih (2008), Ketika Cinta Bertasbih 2 (2009), Cinta Suci Zahrana (2012).

Sinetron

Selain film, sutradara Chaerul Umam juga menggarap sejumlah sinetron bernafaskan Islam. Sinteron tersebut diantaranya, Jalan Lain ke Sana, Jalan Takwa, Astagfirullah, Maha Kasih, Ketika Cinta Bertasbih Spesial Ramadhan, Dari Sujud Ke Sujud, Dalam Mihrab Cinta, dan Cinta Ilahi. (njs/dbs)

 


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top