Syekh Abdul Hamid, Ulama Mekah Asal Yaman yang Diklaim Berdarah Kudus Jawa Tengah

gomuslim.co.id– Syekh Abdul Hamid merupakan ulama yang dalam berbagai tulisan di media online dikaitkan dengan Kudus, Jawa Tengah. Sampai saat ini belum ditemukan bukti valid mengenai darah Kudus yang selalu melekat pada diri Syekh Abdul Hamid. Walaupun demikian, salah satu karya beliau Lathaiful Isyarat dalam bidang usul fikih paling tidak dikaji di berbagai pesantren di Jawa.   

Syekh Abdul Hamid lahir di Mekah pada 1277 H/1861 M. Menurut Syekh Yasin Padang, Syekh Abdul Hamid merupakan di antara ulama yang layak mendapat julukan al-musnid, ulama yang mempunyai banyak jalur sanad periwayatan keilmuan dalam bidang hadis atau lainnya.

Syekh Abdul Hamid merupakan ulama generasi kedua yang menimba ilmu di al-Azhar setelah Syekh Ahmad Pattani (Thailand). Tidak hanya Mesir, Syekh Abdul Hamid pun menuntut ilmu hingga negeri Syam. Syekh Abdul Hamid sangat produktif dalam menulis berbagai bidang keilmuan, seperti sejarah Nabi dan keluarganya, dan ilmu-ilmu syariat.  

Doktor Ridha Muhammad Shafiyuddin, Dosen Studi Islam di Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas King Abdulaziz, Jeddah, Arab Saudi, menyampaikan, koleksi kitab dan karya belaiu sendiri mencapai 1820 kitab dalam bidang tafsir, hadis, fikih, bahasa dan sastra Arab. Semua koleksi tersebut dihadiahkan oleh ahli warisnya untuk Perpustakaan Mekah. Perpustakaan pribadi miliki Syekh Abdul Hamid ini merupakan perpustakaan terlengkap setelah perpustakaan pribadi milik Syekh Muhammad Majid Kurdi. Doktor Abdul Wahhab Abu Sulaiman menyebutkan beberapa karya Syekh Abdul Hamid sebagai berikut:

Karya-karya Syekh Abdul Hamid dalam Bidang Syariat

  1. Syarhul araba’in an-nawawiyyah
  2. Syarhul basmalah fima yata’allaq biha min fan haditsil mushtafa
  3. Al-anwarus saniyyah ‘alad duraril bahiyyah
  4. Irsyadul muhtadi ila syarh kifayatil mubtadi
  5. Nubdzatun tata’allaq bil basmalah wal mabadiil ‘asyrah min ‘ilmit tauhid, wa ushulil fiqh, wal fiqh, wat tashawwuf
  6. Lathaiful isyarat ‘ala tashilit thuruqat li nazhmil waraqat fil ushulil fiqhiyyat
  7. At-tuhfah al-mardhiyyah fatwa fi jawaz tafsiril quran bil a’jamiyyah
  8. Al-futuhat al-qudsiyyah fi syarhil qashidah ar-rajaziyyah
  9. Dhiyaus syams ad-Dhahiyah ‘alal hasanat al-mahiyah
  10. Al-jawahirul mudhi‘ah fil akhlaq al-mardhiyyah
  11. Indzarul hadhir wal bad, dan lain sebagainya

 

Karya-karya Syekh Abdul Hamid Terkait Sejarah Nabi dan Keluarganya

  1. Al-Dzakhair al-qudsiyyah fi ziyarah khairil bariyyah
  2. Majmu’ zahir wa tartib fakhir
  3. Nailul is’ad wal is’af bil ma’mul fi madhi sayyidatina jiddah al-asyraf az-zahra al-batul
  4. Nafahatul qabul wal ibtihaj fi qishatil isra wal mi’raj
  5. Daf’us syiddah fi tasythiril burdah

Berkat produktivitas menulis dan kedalaman ilmunya, penguasa Mekah pada masanya, as-syarif Ali Pasha, menunjuk Syekh Abdul Hamid menjadi imam mazhab Syafi’i di Maqam Ibrahim, Mekah. Hubungan Syekh Abdul Hamid dengan Gubernur Mekah Kerajaan Turki Utsmani tersebut cukup baik. Syekh Abdul Hamid pun ikut hadir dalam peresmian perbatasan Istanbul-Madinah. Syekh Abdul Hamid wafat di Mekah pada 1334 H/1915 M dan dikebumikan di pemakaman Ma’la.  

Ulama Berdarah Yaman atau Jawa?

Relasi antara Indonesia (Nusantara) dengan Yaman telah berjalan sejak beratus-ratus abad yang lalu. Van Den Berg, orientalis asal Belanda menyebutkan dalam bukunya Le Hadramaut et Les Colonies Arabes dans L’archipel Indien, migrasi para pedagang dan ulama Hadramaut, Yaman, mulai datang secara masal ke Nusantara sejak akhir abad ke-18. Saat inilah diduga kuat bahwa ayah Syekh Abdul Hamid, Syekh Muhammad Ali, ikut dalam rombongan orang Arab Hadramaut melakukan migrasi ke Nusantara.

Tidak ada data yang pasti menyebutkan kapan ayah Syekh Abdul Hamid sempat bermigrasi ke tanah Jawa. Namun demikian, menurut catatan Van Den Berg, orang Arab Yaman tiba di Jawa setelah tahun 1820 M. Hal ini diperkuat dengan catatan kaki (atas kitab al-mafakhir al-sunniyyah fi al-asanid al-‘aliyah al-qadasiyyah) Doktor Ridha Muhammad Shafiyuddin, Dosen Studi Islam di Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas King Abdulaziz, Jeddah, Arab Saudi, yang menyampaikan bahwa sebagian ulama mengaitkan keluarga Syekh Abdul Hamid pada nisbat al-Jawi, al-Samarani (Jawa, Semarang).

Menurut Doktor Ridha Muhammad Shafiyuddin, nisbat kota Quds (قدس) yang melekat pada nama Syekh Abdul Hamid bukanlah kota Kudus yang berada di Jawa Tengah. Menurutnya, nisbat wilayah asal yang tepat untuk Syekh Abdul Hamid adalah Qadas (قدس), salah satu kota di Yaman yang kini berada di Provinsi Taiz. Akar tradisi kuno dialek Himyar di Yaman menyebutkan, penamaan Qadas berkaitan erat dengan letak strategis wilayah tersebut. Hal ini karena pada masa lampau, Qadas merupakan daerah yang maju dalam kebudayaan dan agama. Selain itu, Qadas juga merupakan wilayah pegunungan yang subur. Oleh karena itu, bila pun orangtua atau kakek moyang Syekh Abdul Hamid pernah bermukim di Jawa, itu bukanlah kota Kudus, namun kota Semarang.

Dalam catatan sejarah, ayah Syekh Abdul Hamid tidak selamanya menetap di Jawa. Ayah beliau diperkirakan pindah ke Mekah pada pertengahan abad ke-19. Syekh Abdul Hamid pun lahir di Mekah pada tahun 1277 H/1861 M. Syekh Abdul Hamid memiliki pemahaman terhadap ilmu-ilmu Islam yang baik berkat beberapa ulama tersohor di Mekah pada masanya. Di antara guru beliau adalah Syekh Muhammad Ali ayahnya sendiri, Syekh Ahmad Zaini Dahlan, Syekh Umar Syatha, Syekh Utsman Syatha, Syekh Bakri Syatha, Syekh Husain bin Muhammad al-Habsyi, Syekh Muhammad bin Abdul Baqi al-Ahdal, dan lain sebagainya.    

Sementara itu, beberapa murid Syekh Abdul Hamid yang terdokumentasikan di antaranya adalah anaknya sendiri, Syekh Ali, yang sempat berhijrah ke Jawa Timur untuk mendirikan madrasah. Namun Syekh Ali kembali lagi ke Mekah dan wafat pada 1363 H/1944 M. Selain itu, Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi Kwitang juga merupakan murid dari Syekh Abdul Hamid. (ihs/dbs/foto:Makkawi)


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top