#GimanaNihUstadz (7)

Apakah Boleh Pacaran dalam Islam?

gomuslim.co.id - Cinta kepada lawan jenis merupakan hal yang fitrah bagi manusia. Karena sebab cintalah, keberlangsungan hidup manusia bisa terjaga. Tapi, bagi anak muda zaman sekarang cinta justru dijadikan sebagai ladang memadu kasih (pacaran). Bahkan, pacaran sudah menjadi suatu yang melewati batas.

Lalu, bagaimana Islam menilai pacaran?

Dosen Rumah Fiqih Indonesia, Ustazd Muhammad Abdul Wahab Lc. mengatakan, di era millennial saat ini, telah menjadi tren bagi kaula muda pacaran yaitu adalah dengan ‘Pacaran Islami’.

Menurutnya, tren tersebut hanyalah manupulasi kata, akan tetapi sama dalam tindakan. Padahal jelas, Islam melarang laki dan Perempuan berduaan kecuali dengan Mahrahmnya. Seperti sabda Rasulullah SAW “Jangan sekali-kali seorang laki-laki bersendirian dengan seorang wanita, kecuali si wanita itu bersama mahramnya.”

Selain itu, Diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Allâh telah menulis atas anak Adam bagiannya dari zina, maka pasti dia menemuinya: Zina kedua matanya adalah memandang, zina lisannya adalah perkataan, zina hatinya adalah berharap dan berangan-angan. Dan itu semua dibenarkan dan didustakan oleh kemaluannya.”

Ustad Abdul Wahab menyampaikan, Islam telah memberikan solusi bagi laki dan perempuan yang ingin menikah, yaitu dengan cara Ta’aruf. Dimana laki-laki memilih wanita yang disukainya dengan mendatangi orang tuanya untuk dinikahi olehnya.

“Dulu di jaman nabi, ada salah seorang sahabat laki-laki menghampiri nabi dan menyampaikan keinginannya untuk menikah. Kemudian, Rasulullah tanyakan kepada sahabatnya tersebut ‘apakah kamu sudah melihat wanita itu’, jawab sahabat ‘belum ya Rasulullah’, maka diperintahkan Rasulullah untuk sahabatnya melihat dahulu wanita yang di inginkannya kemudian, dinikahi,” cerita Ustadz.

Ia mengungkapkan, bagi laki-laki atau perempuan yang ingin menikah, tetap diharuskan untuk mengenal dahulu calon pasangannya tapi tidak dengan cara berpacaran, melainkan berada dikoridor Syariah,

“Datang ke rumahnya, temui orang tua perempuan, kemudian diceritakan perempuan itu oleh si orang tuanya. Lalu, si laki-laki hanya diizinkan melihat wajahnya saja dengan sepersekian detik, agar tidak menjurus kepada zina mata. Setelah mengetahui, si laki-laki jika ingin melanjutkan, maka dapat menikahi wanita tersebut dengan Ridha Allah,” jelas ustad.

Seperti QS. An Nuur [24] : 30 - 31 “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman :”Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman : “Hendaklah mereka menundukkan pandangannya, dan kemaluannya

Selain itu, terdapat dalam HR. Muslim no. 5770 ““Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang cuma selintas (tidak sengaja). Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepadaku agar aku segera memalingkan pandanganku.

Dalam ta’aruf tidak ada pemaksaan, jika belum cocok salah satu pihak boleh saja menolak. Namun ketika keduanya cocok, maka dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya yakni pihak laki-laki melamar dan berujung pada pernikahan. Dalam hal mahar, menurut Islam sebaik-baik mahar adalah yang murah dan mudah, tidak mempersulit atau mahal. Memang mahar itu hak wanita, tetapi Islam menyarankan agar mempermudah dan melarang menuntut mahar yang tinggi.

Ustad menyatakan, hal demikian bertujuan untuk menghindari perbuatan zina. Seperti yang difirmankan oleh Allah SWT. dalam Surat al-Isra ayat 32 : “Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (hmz/gomuslim/foto ilustasi: muslimfamilia)

 

 

**Disarikan dari program #GimanaNihUstadz on Youtube Channel 'gomuslim Official' hasil wawancara dengan Ustadz Muhammad Abdul Wahab, Lc (Dosen Rumah Fiqih Indonesia).

 

 

Tonton juga videonya di Youtube Channel gomuslim Official:

Pacaran Islami, Emang Ada Ya???


Back to Top