#KulRam (2)

Kuliah Ramadhan: Salah Kaprah Tidur di Bulan Puasa

gomuslim.co.id - Memang tidak ada habisnya kalau kita membicarakan keutamaan dan keistimewaan ibadah puasa. Terdapat banyak hadis yang menjelaskan berbagai pahala dan keutamaan orang berpuasa dari mulai hadis shahih, dha’if bahkan maudhu’.

Salah satu hadis kegemaran banyak orang tentang keutamaan puasa adalah hadis yang mengatakan bahwa tidurnya orang berpuasa adalah ibadah. Dengan bermodal hadis ini, akhirnya banyak orang yang kurang produktif di bulan puasa. sebab sepanjang hari digunakan untuk tidur.

Niatnya sungguh mulia, yaitu ingin fokus beribadah. Bahkan demi mendapatkan pahala berlipat, mereka pun rela tidur di waktu kerja. Dalihnya, kerja adalah ibadah, tidur di waktu puasa juga ibadah. Maka kerja sambil tidur pahalanya dua kali lipat. What?

Hadis yang terlanjur masyhur di kalangan masyarakat kita ini berbunyi sebagai berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي أَوَفَى، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ، وَصَمْتُهُ تَسْبِيحٌ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ

Dari Abdullah bin Abi Aufa: Rasulullah ﷺ bersabda: Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, doanya dikabulkan dan pahalanya dilipatgandakan.

 

Lantas bagaimana tingkat kebenaran hadis ini?

Apakah hadis ini adalah perkataan Nabi Muhammad ﷺ?

 

Jika kita mencari dalam kitab-kitab hadis, hadis ini bisa kita temukan salah satunya dalam kitab Syu’abul Iman karya Imam al-Baihaqi. Dalam kitab tersebut beliau menyebutkan ada dua nama perawi dalam jalur periwayatan hadis ini yang dianggap dha’if yaitu Ma’ruf bin Hasan dan satu nama lagi yaitu Sulaiman bin ‘Amr. bahkan beliau nilai Sulaiman bin ‘Amr ini lebih dha’if dari yang pertama.[1]

Selain Imam al-Baihaqi ada banyak ulama lain yang menilai hadis ini bermasalah. Di antaranya al-Hafidz al-‘Iraqi, beliau mengatakan bahwa Sulaiman an-Nakha’i salah satu perawi hadisnya adalah orang yang suka berbohong. Begitu pun perawi yang lain yaitu al-Malik bin Umair juga dimasukkan dalam kategori perawi dha’if oleh Imam adz-Dzahabi. Selain itu, Imam Ahmad juga berkomentar bahwa hadis ini adalah hadis mudhtarib. Yahya bin Ma’in juga mengatakan hadis ini mukhtalath. [2]

Kesimpulannya adalah para ulama ahli hadis sepakat bahwa hadis di atas adalah hadis dha’if. Sehingga hadis itu bukanlah perkataan Nabi Muhammad ﷺ. Jika ada orang yang kerjanya tidur selama bulan Ramadhan dengan alasan Nabi pernah mengatakan bahwa tidurnya orang puasa adalah ibadah, maka dia telah berbohong atas nama Nabi. Sedangkan berdusta atas nama Nabi, ganjarannya adalah neraka.

من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار

Barang siapa yang berdusta atasku (yakni atas namaku) dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya (yakni tempat tinggalnya) di neraka.

 

Ramadhan bukanlah bulan untuk bersantai-santai apalagi digunakan untuk tidur seharian. Justru Ramadhan adalah kesempatan emas kita untuk memperbanyak amal ibadah. Mengingat pahala ibadah di bulan Ramadhan akan dilipatgandakan. Di mana pintu-pintu surga dibuka selebar-lebarnya dan pintu-pintu neraka pun ditutup.

Jika kita lihat dalam sejarah, banyak peristiwa-peristiwa penting di masa Nabi yang terjadi justru di bulan Ramadhan di mana umat Islam sedang berpuasa. Seperti perang Badar dan pembebasan Kota Mekkah. Dua-duanya terjadi di bulan Ramadhan, padahal kedua peristiwa itu tentu membutuhkan perjuangan yang berat di tengah rasa lapar dan dahaga. Tapi sejarah membuktikan kedua peristiwa itu berujung dengan keberhasilan besar yang diraih oleh umat Islam.

Bahkan banyak peristiwa-peristiwa penting lain yang terjadi sepeninggal Nabi yang berlangsung di bulan Ramadhan seperti pembebasan Andalusia oleh Umat Islam yang dipimpin oleh Thariq bin Ziyad pada 28 Ramadhan tahun ke-92 Hijrah.

Selain itu, pada tanggal 15 Ramadhan 658 Hijrah bersamaan 1260 Masehi, tentara Islam membuat serangan balasan terhadap tentara Mongol di bawah pimpinan Sultan Qutuz dari dinasti Mamluk sampai akhirnya mendapatkan kemenangan.

Sejarah juga mencatat keberhasilan Salahuddin Al-Ayyubi menaklukkan kaum Salib pada Ramadhan tahun 584 Hijriyah yang berdampak pada pembebasan sebagian besar negara yang pernah dikuasai oleh kaum Salib.

Sementara itu, di Indonesia juga terjadi peristiwa penting yang terjadi di bulan Ramadhan yaitu peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia yang dilakukan pada Jumat, 17 Agustus 1945, bertepatan dengan tanggal 9 Ramadhan 1364 Hijriah atau 17 Agustus 2605 menurut tahun Jepang.

Dari peristiwa-peristiwa bersejarah tersebut, kita belajar bagaimana generasi-generasi terbaik dari umat ini menggunakan kesempatan bulan puasa dengan melakukan hal-hal besar. Bukan hanya bersantai-santai dan berleha-leha apalagi digunakan untuk tidur sepanjang hari.

 

Oleh:

Ustadz Muhammad Abdul Wahab, Lc.

Dosen Sekolah Fiqih Indonesia

 



[1] Al-Baihaqi, Syu’abul Iman, jilid 5, hal, 423.

[2] Zainuddin al-Munawi, Faidh al-Qadir, jilid 6, hal. 291.


Back to Top