#KulRam (4)

Kuliah Ramadhan: Benarkah Syaitan Dibelenggu di Bulan Ramadhan?

gomuslim.co.id - Salah satu keistimewaan bulan Ramadhan adalah bahwasanya di bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW berikut:

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ

Dari Abu Hurairoh ra, Rasul saw bersabda: “jika datang bulan Ramadhan, terbuka pintu-pintu surga, dan ditutup pintu-pintu neraka dan dibelenggu setan-setan” (Muttafaq ‘Alayh)

 

Jelas hadis tersebut adalah hadis shahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Hanya saja yang sering jadi pertanyaan adalah kalau memang benar setan dibelenggu seperti yang dikatakan dalam hadis di atas, lalu kenapa masih ada orang berbuat maksiat di bulan Ramadhan?

Untuk menjawab pertanyaan itu, mari kita lihat bagaimana para ulama memahami maksud hadis tersebut!

Ada beberapa penjelasan dari para ulama terkait dengan maksud dibelenggunya setan dalam hadis tersebut. Ada yang memahami apa adanya yakni bahwasanya setan benar-benar dibelenggu, diikat atau dirantai. Tetapi ada juga yang memahami bahwa ungkapan dibelenggu adalah sekedar metafora bukan makna sebenarnya. Lantas apa maksud sebenarnya? Ternyata dalam hal ini juga ada beberapa penafsiran.

Penjelasan Pertama

Al-Qadhi ‘Iyadh adalah salah satu ulama yang mengatakan bahwa makna dibelenggu dalam hadis adalah makna sebenarnya. Artinya setan benar-benar dibelenggu sehingga tidak bisa menggoda manusia.

Lalu kenapa masih ada orang maksiat? Penjelasannya adalah bahwa orang yang bermaksiat itu bukan karena digoda setan, melainkan karena hawa nafsunya, atau karena memang sudah terbiasa melakukan maksiat di luar Ramadhan, sehingga setan tidak perlu lagi capek-capek menggodanya. Orang tersebut sudah berhasil dikader oleh setan sehingga perbuatan maksiat yang dilakukannya berjalan secara otomatis tidak perlu lagi ada campur tangan dari setan.

Artinya jika ada orang yang masih melakukan perbuatan maksiat di bulan Ramadhan mungkin saja orang tersebut sudah berhasil dididik oleh setan, sehingga sudah bisa mandiri tidak butuh lagi bimbingan dan petunjuk dari setan.

Penjelasan Kedua

Pendapat lain seperti yang dikutip oleh al-Hulaimi dalam kitab al-Minhaj fi Syu’ab al-Iman bahwa ungkapan dibelenggu adalah metafora. Bukan dibelenggu dalam arti sebenarnya. Melainkan maksudnya adalah tingkat keberhasilan setan dalam menggoda manusia di bulan Ramadhan berkurang dibanding dengan bulan-bulan lainnya.

Sebab umat Islam pada umumnya di bulan ini memperbanyak ibadah, mereka berpuasa, membaca al-Quran, beri’tikaf, malamnya shalat tarawih dan lain sebagainya. Peluang bermaksiat di bulan ini pun biasanya semakin kecil. Warteg-warteg tidak berani buka-bukaan walaupun cuma ditutup dengan tirai, tempat-tempat hiburan malam tidak beroperasi selama bulan Ramadhan karena takut di-sweeping dan lain-lain.

Karena itu, dengan sempitnya ruang gerak setan untuk menggoda manusia di bulan Ramadhan karena kesibukan mereka melakukan ibadah, seakan-akan setan-setan itu terbelenggu. Bukan dengan rantai atau tali, akan tetapi dengan semakin kecilnya keberhasilan mereka menggoda orang beriman.

Penjelasan Ketiga

Sedangkan, pendapat lain mengatakan bahwa maksud setan-setan dibelenggu bukanlah semua setan tapi sebagian setan saja yaitu maradatus syayathin (مردة الشياطين) berdasarkan sebagian riwayat lain.

Maradatus syayathin adalah para pembesar setan atau setan kelas kakap. Sehingga setan-setan kelas teri masih bebas berkeliaran di bulan Ramadhan. Demikian juga setan-setan dari kalangan manusia.

Untuk itu, reputasi keimanan seseorang yang bermaksiat di bulan Ramadhan patut dipertanyakan. Sebab artinya dia berhasil digoda oleh setan-setan kelas teri, kelas menengah ke bawah. Oleh setan kelas teri saja berhasil dijerumuskan bagaimana kalau bosnya sudah turun tangan? Habislah sudah.

 

Oleh:

Ustadz Muhammad Abdul Wahab, Lc.

Dosen Rumah Fiqih Indonesia

 


Back to Top