#KulRam (5)

Kuliah Ramadhan: Hati-hati, Puasa Sia-sia Karena Hoaks

gomuslim.co.id - Tidak heran jika ibadah puasa adalah satu-satunya ibadah yang Allah janjikan dengan pahala khusus. Sebab puasa adalah ibadah yang cukup menguji. Kita diuji untuk tidak melakukan hal-hal yang bisa merusak ibadah puasa. Baik merusak keabsahan ibadahnya, mau pun merusak pahalanya.

Sekedar menahan lapar dan dahaga mungkin bagi kebanyakan orang tidak terlalu sulit. Tapi menahan diri dari berbuat hal-hal yang bisa merusak pahala puasa itulah yang berat. Sehingga tidak heran jika Nabi mengatakan betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapat apa-apa selain rasa lapar dan dahaga.

 

Salah-satu perbuatan yang bisa merusak dan menghanguskan pahala puasa kita adalah berkata bohong. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan zur (perkataan dusta), mengamalkannya, atau tindakan bodoh, maka Allah tidak butuh atas usahanya dalam menahan rasa lapar dan dahaga” (HR. Bukhori).

 

Di antara bentuk dusta dalam konteks kekinian adalah mem-viral­-kan berita bohong atau yang tidak jelas sumbernya melalui media sosial atau grup Whatsapp tanpa melalui proses tabayyun terlebih dahulu.

Sayangnya, perbuatan ini sering kali dianggap sebagai sesuatu yang biasa saja bukan sebuah dosa. Sehingga dengan santainya menyebarkan informasi atau berita yang belum pasti kebenarannya seolah-olah itu adalah sebuah fakta.

Padahal sesuatu yang kita anggap sepele itu, bisa jadi di hadapan Allah adalah sesuatu yang besar. Sebagaimana Allah firmankan dalam al-Quran ketika menceritakan kisah orang-orang munafik yang menyebarkan berita bohong tentang istri baginda Nabi, Aisyah radhiyallahu ‘anha.


إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ

“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (Q.S. an-Nur: 15)

 

Lantas bagaimana sikap kita seharusnya ketika menerima sebuah berita atau informasi yang berseliweran di media sosial? Apakah kita share begitu saja, tanpa tahu kebenarannya? Apakah cukup dengan baca judulnya saja tanpa baca isinya, kita sudah dianggap memahami isi berita dan boleh membaginya?

Tunggu dulu! Kalau ingin ibadah puasa kita bernilai pahala jangan asal share apa yang kita dapatkan di media sosial. Kisah tentang dialog antara Allah ﷻ dengan Nabi Ibrahim a.s yang tertulis dalam al-Quran telah memberikan isyarat kepada kita bagaimana seharusnya sikap kita terhadap berita atau informasi yang kita dapatkan. Allah ﷻ berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 260:

 

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۖ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي ۖ قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٍ مِنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا ۚ وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

 

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati". Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: "(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): "Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera". Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. al-Baqarah: 260)

Nabi Ibrahim sempat meminta kepada Allah untuk diperlihatkan bagaimana Allah menghidupkan yang mati. Permintaan Nabi Ibrahim ini tentu bukan karena ragu atau kurang percaya bahwa Allah bisa menghidupkan yang mati. Mustahil bagi seorang Nabi yang dijuluki dengan Khalilullah (kekasih Allah) untuk meragukan keimanannya kepada Allah. Hanya saja Nabi Ibrahim ingin meningkatkan level keyakinannya dari ‘ilmul yaqin menjadi ‘ainul yaqin.

Pelajaran yang bisa diambil adalah bahwa kita harus mempunyai rasa penasaran dan ingin tahu (curiosity) terhadap kebenaran informasi yang kita terima meski dari sumber yang kita percaya sekalipun. Bukan karena kita meragukan kebenaran pembawa berita tersebut. Tetapi agar hati kita mantap meyakini kebenaran informasi yang dibawanya.

 

 

Oleh:

Ustadz Muhammad Abdul Wahab, Lc.

Dosen Rumah Fiqih Indonesia

 


Back to Top