#KulRam (7)

Kuliah Ramadhan: Sunnah-sunnah di Bulan Puasa

gomuslim.co.id - Sunnah puasa maksudnya adalah amalan-amalan yang dianjurkan untuk dilakukan di bulan puasa. Di mana ia bernilai pahala dan menyempurnakan ibadah puasa yang kita lakukan.

Meski demikian ia tidak sampai diwajibkan di mana jika ditinggalkan tidak mendapat dosa. Hanya saja rugi besar jika melewatkan amalan-amalan sunnah di bulan puasa di mana pahala ibadah kita dilipatgandakan.

Selain itu, mengerjakan amalan-amalan sunnah ini juga merupakan bentuk ittiba’ (meneladani) Nabi Muhammad SAW, di antara yang termasuk amalan-amalan sunnah di bulan puasa adalah sebagai berikut:

1. Mengakhirkan Sahur

Disunnahkan ketika hendak puasa untuk makan sahur terlebih dahulu. Kadang kita malas bangun pagi-pagi buta untuk makan sahur karena masih ngantuk. Kita pun terkadang merasa kuat berpuasa tanpa harus makan sahur terlebih dahulu.

Akan tetapi bukan itu alasan utama kita makan sahur. Bukan hanya agar kuat berpuasa. Tapi yang lebih penting adalah agar kita mendapatkan keberkahan di dalamnya. Seteguk air pun cukup supaya kita dapat keberkahan tersebut.

 

Nabi SAW bersabda:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فيِ السَّحُورِ بَرَكَة .

 ”Makan sahurlah, karena pada sahur itu ada keberkahan”. (HR Bukhari dan Muslim)

 

Nabi Muhammad ﷺ juga menganjurkan untuk mengakhirkan makan sahur hingga mendekati waktu shubuh. Sebagaimana sabdanya:

 

لاَ تَزَالُ أُمَّتيِ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الفِطْرَ وَأَخَّرُوا السَّحُورَ .

”Umatku senantiasa dalam kebaikan selama menyegerakan buka puasa dan mengakhirkan sahur”. (HR. Ahmad)

 

2.  Menyegerakan Berbuka

Ketika sudah adzan maghrib maka disunnahkan untuk menyegerakan berbuka puasa. Makruh hukumnya jika sampai menunda buka puasa hingga waktu malam hari.

 

Dalam hal ini Nabi SAW bersabda:

لاَ تَزَالُ أُمَّتيِ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الفِطْرَ وَأَخَّرُوا السَّحُورَ .

”Umatku senantiasa dalam kebaikan selama menyegerakan buka puasa dan mengakhirkan sahur”. (HR. Ahmad).

Maka sebaiknya ketika adzan maghrib berkumandang langsung berbuka untuk membatalkan puasa, baru kemudian kita pergi ke Masjid untuk shalat berjamaah.

Tapi yang perlu diperhatikan berbukanya cukup untuk sekedar membatalkan puasa saja bukan makan nasi sepiring apalagi sampai dua piring. Sebab akan ketinggalan shalat berjamaah. Kecuali jika muadzin di masjid kita memberikan kesempatan waktu untuk makan sebelum dilaksanakan shalat maghrib berjamaah.

 

3.      Memperbanyak Ibadah Sunnah

Bulan ramadhan adalah kesempatan emas untuk meraih sebanyak-banyaknya pahala dengan memperbanyak ibadah. Maka sangat rugi apabila di bulan ramadhan kita tidak menambah pundi-pundi pahala kita dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah.

Maka sebisa mungkin di bulan Ramadhan kita tingkatkan intensitas ibadah-ibadah sunnah kita dibanding bulan-bulan lainnya. Banyak ibadah sunnah yang bisa kita lakukan seperti membaca al-Quran, shadaqah, i’tikaf, shalat tarawih, shalat witir, shalat dhuha dan lain-lain.

 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: "Rasulullah SAW adalah orang yang paling murah hati, lebih-lebih ketika bertemu Jibril di bulan Ramadhan. Beliau bertemu Jibril pada pada setiap malam bulan Ramadhan untuk tadarus Al-Qur'an. Maka sifat murah hati Rasulullah melebihi hembusan angin." (H.R. Bukhari)

 

4. Menahan Diri Dari Amal Buruk 

Ketika berpuasa kita dianjurkan untuk tidak berkata-kata kasar, jorok, buruk, bohong dan lain-lain. Hal-hal tersebut meskipun tidak sampai membatalkan ibadah puasa, akan tetapi bisa membuat puasa kita tidak bernilai apa-apa hanya sebatas menggugurkan kewajiban saja.

Dalam sebuah hadits shahih Nabi Muhammad SAW bersabda:

 

مَنْ لمَ يَدَع قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حاَجَةٌ فيِ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابُهُ .

"Siapa yang tidak meninggalkan perkataan kotor dan perbuatannya, maka Allah tidak butuh dia untuk meninggalkan makan minumnya (puasanya). (HR Bukhari, Abu Daud, At-Tirmizy, An-Nasai, Ibnu Majah)

 

إِذَا كاَنَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثَ وَلاَ يَصْخَبَ فَإِن شَاتَمَهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتِلُهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ .

Dari Abi Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah kamu melakukan rafats dan khashb pada saat berpuasa. Bila seseorang mencacinya atau memeranginya, maka hendaklah dia berkata, "Aku sedang puasa".  (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Oleh:

Ustadz Muhammad Abdul Wahab, Lc.

Dosen Rumah Fiqih Indonesia


Back to Top