#KulRam (10)

Kuliah Ramadhan: Empat Kondisi Makan dan Minum di Bulan Puasa

gomuslim.co.id - Para ulama sepakat di antara hal yang membatalkan puasa adalah makan dan minum dengan sengaja. Hal ini berdasarkan firman Allah ﷻ surat al-Baqarah ayat 187:

 

وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ.

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.” (QS. Al-Baqarah : 187)

 

Akan tetapi dalam pembahasan lebih jauh, makan dan minum di bulan puasa memiliki empat kondisi di mana keempatnya mempunyai konsekuensi hukum yang berbeda satu sama lain.

 

Empat kondisi tersebut adalah sebagai berikut:

1.  Makan dan Minum dengan Sengaja Karena Ada Udzur

Jika seseorang makan dan minum di siang hari bulan Ramadhan dengan sengaja karena ada udzur atau alasan syar’i yang membolehkannya untuk berbuka, maka ada empat konsekuensi yang menyertainya.

Pertama, puasanya batal. Kedua, dia wajib mengganti atau mengqadha usai bulan Ramadhan. Ketiga, dia tidak berdosa sebab ada alasan syar’i yang membolehkannya untuk membatalkan puasa. Keempat, dia tidak wajib membayar denda atau kaffarat apa pun.

Di antara udzur yang membolehkan seseorang membatalkan puasanya adalah mengalami sakit yang jika dia berpuasa sakitnya bertambah parah atau kesembuhannya tertunda dan bepergian sejauh perjalanan qashar shalat (sekitar 89 km).

Adapun, orang tua yang sudah tidak mampu lagi berpuasa, maka gugur kewajibannya untuk berpuasa, diganti dengan membayar fidyah. Sedangkan ibu hamil dan menyusui, jika sang ibu sebetulnya mampu berpuasa, hanya saja khawatir terhadap bayi atau janinnya, maka boleh tidak berpuasa. Adapun kewajibannya menurut jumhur ulama adalah mengganti puasanya dan membayar fidyah sejumlah hari puasa yang ditinggalkan.

 

2.  Makan dan Minum dengan Sengaja Tanpa Udzur

Kondisi makan dan minum yang kedua yaitu apabila seseorang sengaja makan dan minum di siang hari bulan puasa tanpa ada udzur apa pun. Fisiknya mampu untuk berpuasa dan sedang tidak dalam keadaan yang membolehkannya berbuka. Maka ada empat konsekuensi hukum menyertainya.

Pertama, puasanya batal. Kedua, dia wajib mengganti puasanya. Ketiga, dia berdosa sebab telah sengaja membatalkan puasanya tanpa udzur. Dan yang keempat, menurut sebagian ulama (mazhab Hanafi dan Maliki), selain dia wajib mengganti puasanya dia pun wajib membayar kaffarat sebagaimana orang yang melakukan jima’ (hubungan suami-istri) di siang hari bulan Ramadhan. Yaitu membebaskan seorang budak, jika tidak bisa maka puasa dua bulan berturut-turut, jika tidak bisa maka memberi makan 60 orang faqir miskin.


3.  Makan dan Minum Karena Lupa

Kondisi yang ketiga adalah makan dan minum karena lupa. Lupa bahwa dirinya sedang berpuasa. Maka 4 konsekuensi yang menyertainya yaitu:

Pertama, puasanya tidak batal. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad ﷺ:

 

من نسي وهو صائم فأكل أو شرب فليتم صومه، فإنما أطعمه الله وسقاه (متفق عليه)

“Siapa yang lupa makan dan minum pada saat berpuasa, maka hendaknya ia melanjutkan puasanya. Sebab sesungguhnya dia sedang diberi makan dan minum oleh Allah.” (H.R. Bukhari Muslim).

 

Kedua, dia tidak wajib mengganti, sebab puasanya dianggap sah walaupun habis satu bakul nasi. Ketiga, dia tidak berdosa. Dan keempat tidak ada kewajiban membayar kaffarat.


4.  Makan dan Minum Karena Salah

Kondisi yang terakhir adalah jika seseorang makan dan minum di bulan puasa karena salah. Yaitu salah waktu ketika berbuka. Saat menjelang maghrib, dia berbuka berdasarkan jam yang ternyata terlalu cepat. Sehingga dia berbuka padahal waktu maghrib belum tiba.

Maka pertama puasanya batal. Kedua, dia wajib mengganti puasanya. Ketiga, dia tidak berdosa. Dan yang keempat tidak ada kewajiban membayar kaffarat.

Berikut tabel empat kondisi makan dan minum di bulan puasa beserta konsekuensi hukum masing-masing:

 

 

Batal

Wajib Mengganti

Berdosa

Wajib Bayar Kaffarat

Sengaja dengan udzur

X

X

Sengaja tanpa udzur

Lupa

X

X

X

X

Salah

X

X

 

 

 

 

 

 

 

Oleh:

Ustadz Muhammad Abdul Wahab, Lc.

Dosen Rumah Fiqih Indonesia

 

Komentar

    Tulis Komentar

    Kode Acak

    *Ket : Masukkan kode di atas sesuai tulisan, perhatikan huruf dan angka


Back to Top