#KulRam (11)

Kuliah Ramadhan: Ini Batasan Sakit yang Menjadi Sebab Keringanan Puasa

gomuslim.co.id - Dalam keadaan tertentu, syariah Islam memberikan keringanan kepada seorang muslim dan membolehkannya untuk tidak berpuasa tanpa harus menanggung dosa. Hal ini adalah bentuk keringanan yang Allah berikan kepada umat Muhammad SAW. Allah SWT berfirman:

 

فَمَنْ كاَنَ مِنْكُمْ مَرِيْضاً أَوْ عَلىَ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَر وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

Dan siapa yang dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan maka menggantinya di hari lain. Bagi mereka yang tidak mampu, maka boleh tidak berpuasa dengan keharusan memberi makan kepada orang-orang miskin. (QS. Al-Baqarah : 184)

 

Dari ayat tersebut, kita menemukan setidak-tidaknya ada tiga kelompok orang yang diberikan keringanan untuk tidak puasa, yaitu orang sakit, musafir dan orang yang tidak mampu berpuasa. Namun para ulama menambahi lagi dengan beberapa orang lain lewat dalil-dalil yang lain, misalnya wanita yang hamil atau menyusui, orang yang terpaksa, pekerja berat dan lainnya.

Mereka ini secara resmi dibolehkan untuk tidak puasa tanpa harus menanggung dosa di akhirat. Namun mereka tetap diwajibkan untuk mengganti kewajiban itu, baik lewat qadha' puasa di hari lain, atau pun lewat fidyah yang berupa memberi makan fakir miskin.

Terkait dengan orang sakit yang boleh tidak berpuasa, muncul pertanyaan: sakit seperti apa yang membolehkan seseorang untuk tidak berpuasa? Apakah semua jenis penyakit, termasuk kurap kudis kutu air dan lain sebagainya? Ataukah ada batasan-batasan tertentu?

Kata sakit memang luas pengertiannya. Tentu tidak semua yang disebut sakit lantas membuat seseorang boleh untuk tidak puasa.

Karena itu, para ulama kemudian membuat semacam batasan atau definisi sakit sebagai:

 

كُل مَا خَرَجَ بِهِ الإْنْسَانُ عَنْ حَدِّ الصِّحَّةِ مِنْ عِلَّةٍ

Sakit adalah segala hal yang membuat manusia keluar dari batas kesehatan karena suatu ‘illat. 

 

Dalam hal ini para ulama menyebutkan bahwa tidak semua jenis penyakit dibenarkan untuk dijadikan alasan bagi mereka yang tidak puasa. Hanya penyakit yang berakibat fatal saja dibenarkan. Setidaknya ada 2 kriteria yang terkait, yaitu:

1.  Jika Berpuasa, Sakitnya Bertambah Parah

Bila seseorang khawatir bila dia terus berpuasa, penyakitnya akan bertambah parah, maka dia dibolehkan untuk tidak berpuasa.

Seperti orang yang menderita penyakit yang parah, atau penyakit dalam, yang kondisinya memang sangat lemah, bahkan harus selalu dipasok nutrisinya lewat selang infus dengan dimasukkan glukosa, maka orang yang dalam keadaan seperti ini, kalau memaksakan diri untuk terus berpuasa, penyakitnya justru akan semakin parah.

Untuk itu syariat Islam memberikan keringanan kepada mereka yang sakitnya sangat parah.

2.  Jika Berpuasa, Kesembuhannya Tertunda

Alasan yang kedua ini berbeda dengan alasan yang pertama. Kalau yang pertama di atas, khawatir bertambah parah, sedangkan alasan yang kedua ini, bukan khawatir bertambah parah, tetapi khawatir tidak kunjung sembuh karena berpuasa.

Keduanya adalah alasan yang diterima oleh para ulama tentang penyakit yang membolehkan seseorang tidak berpuasa wajib. 

Namun kalau sakit yang diderita tidak ada kaitannya dengan puasa, atau sebaliknya, bila puasanya tidak ada kaitannya dengan penyakit, maka hukumnya tidak boleh dijadikan alasan.

 

 

Oleh:

Ustadz Muhammad Abdul Wahab, Lc.

Dosen Rumah Fiqih Indonesia


Back to Top