#KulRam (12)

Kuliah Ramadhan: Keutamaan Membaca Alquran di Bulan Ramadhan

gomuslim.co.id - Allah memuliakan siapa pun dan apa pun yang memiliki keterkaitan khusus dengan Al-Quran.  Orang yang diturunkan kepadanya Al-Quran, Allah jadikan dia manusia paling mulia di muka bumi, dialah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Malaikat yang menjadi perantara turunnya Al-Quran Allah jadikan dia malaikat yang paling mulia, dialah Jibril ‘alaihissalam.

Malam saat diturunkannya Al-Quran menjadi malam yang paling istimewa, yaitu malam lailatul qadar dan bulan saat Al-Quran diturunkan menjadi bulan yang paling mulia, yaitu bulan suci Ramadhan.

Kemuliaan Ramadhan sangat erat kaitannya dengan Al-Quran. Oleh karenanya kita dianjurkan untuk lebih memperbanyak interaksi kita dengan Al-Quran selama bulan Ramadhan. Baik dengan membaca, mentadabburi dan menghafalnya.

Di bawah ini terangkum beberapa keutamaan tadarrus Al-Quran di bulan Ramadhan:

1.    Meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Sudah menjadi kebiasaan Nabi Muhammad ﷺ  melakukan mudarasah Al-Quran ditemani malaikat Jibril di setiap malam bulan Ramadhan. Jibril menyetorkan bacaan Al-Qurannya kepada Nabi, begitu pun sebaliknya. Sebagaimana diriwayatkan dalam hadis berikut:

 

وكان جبريل يأتي النبي صلى الله عليه وسلم كل ليلة في رمضان فيدارسه القرآن. (متفق عليه)

“Jibril menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap malam pada bulan Ramadhan, lalu malaikat Jibril saling menyetorkan bacaan Al-Qur’an bersama dengan beliau” (H.R. Bukhari Muslim)

 

Karena itu, kita sebagai umatnya seyogyanya meneladani apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ﷺ dengan cara memperbanyak membaca Al-Quran di bulan Ramadhan, terutama di malam hari.

Bahkan para ulama menganjurkan untuk mengkhatamkan Al-Quran selama bulan Ramadhan karena malaikat Jibril ‘alaihis salam dahulu menyetorkan bacaan Al-Quran kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara lengkap.

2.    Ibadah Prioritas Ulama Salaf

Berinteraksi dengan al-Quran di bulan Ramadhan menjadi ibadah prioritas yang dilakukan oleh para ulama salaf. Imam Malik bin Anas rahimahullah diceritakan ketika masuk bulan Ramadhan beliau lebih memilih untuk meninggalkan mujalasah dengan para ulama agar bisa lebih banyak membaca Al-Quran.

Demikian juga Sufyan ats-Tsauri, di bulan Ramadhan lebih memilih fokus membaca al-Quran dan meninggalkan ibadah-ibadah lainnya.

Ini menunjukkan bagaimana ulama salaf menyadari keterkaitan hubungan antara bulan Ramadhan dengan al-Quran. Sehingga mereka berusaha untuk tidak memisahkan keduanya. Sebab al-Quran menjadi salah satu faktor dimuliakannya bulan Ramadhan oleh Allah ﷻ di mana Ramadhan menjadi bulan diturunkannya Al-Quran.

 

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدىً لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)” (Al-Baqarah: 185).

 

3.    Ibadah yang Memberi Syafa’at di Hari Kiamat

Kita sangat butuh syafa’at untuk meringankan berbagai ujian dan penderitaan di hari kiamat. Sebab pada saat itu manusia akan mengalami berbagai ujian dan kesusahan. Di hari itu Matahari didekatkan pada manusia sejauh satu mil, ada yang tenggelam dengan keringatnya, ada yang diseret dan berjalan dengan wajahnya, belum lagi kejadian di padang mahsyar yang sangat lama, di mana satu hari di akhirat sama dengan 1000 tahun di bumi.

Salah satu ibadah yang memberikan syafa’at atau keringanan di hari kiamat nanti dengan izin Allah adalah ibadah puasa dan membaca Al-Quran. Sebagaimana disebutkan dalam hadis berikut:

 

الصيامُ والقرآنُ يشفعانِ للعبدِ يومَ القيامَةِ، يقولُ الصيامُ: أي ربِّ إِنَّي منعْتُهُ الطعامَ والشهواتِ بالنهارِ فشفِّعْنِي فيه، يقولُ القرآنُ ربِّ منعتُهُ النومَ بالليلِ فشفعني فيه، فيَشْفَعانِ (رواه أحمد)

 

“Amalan puasa dan membaca Al-Qur’an akan memberi syafa’at bagi seorang hamba di hari kiamat. Puasa berkata: Wahai Rabb, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya. Dan Al-Qur’an berkata: Aku menahannya dari tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya, maka keduanya pun diizinkan memberi syafa’at. (H.R. Ahmad)

 

Oleh:

Ustadz Muhammad Abdul Wahab, Lc.

Dosen Rumah Fiqih Indonesia

 

 

Komentar

    Tulis Komentar

    Kode Acak

    *Ket : Masukkan kode di atas sesuai tulisan, perhatikan huruf dan angka


Back to Top